
"Mamaku sangat menyayangi Lola bahkan aku merasa aku lah calon menantunya.Apa apa Lola yang dibahas",jawab Morgan.
"Hehehe...malah baguskan kamu tak perlu lagi mendekatkan keduanya",ujar Sean terkekeh pelan.
"Ya...bagus sih tapi disini aku yang merasa bukan anak mereka Sean",keluh Morgan.
"Nikmati aja masih baik malah dari pada mereka tak akur.Kamu yang pusing",jawab Sean.
"Ya...",jawab Morgan.
"Aku dengar Indi di Indo Sean?",tanya Morgan.
"Ya..."
"Terjadi sesuatu?",tanya Morgan melihat wajah Sean yang tiba tiba datar.
"Hmmm...kolepsnya Anaya saat itu karena dia mengatakan kebenarannya", jawab Sean.
"Serius?.Lalu?"
"Aku mengusirnya dan saat ini wanita itu tinggal tak jauh dari Mansion utama",jawab Sean.
"Jadi ini alasan kamu pindah?",tanya Morgan.
"Ya...aku tak mau Anaya terjadi sesuatu yang buruk lagi pada Anaya.
"Butuh bantuan untuk mengurusnya?",tanya Morgan.
"Dia dalam pengawasan orang orang kita",jawab Sean.
"Aku rasa dia telah berubah Sean",ujar Morgan.
"Entahlah...tapi apa tujuannya datang dan mengatakan semuanya disaat kondisi Anaya masih lemah",jawab Sean sesekali melirik sang istri yang sedang bercengkrama bersama Mama dan adiknya serta Lola.
"Iya sih...tapi bukankah dia sudah bercerai dengan Denni Gunatama",ujar Morgan
"Aku dengar sih begitu",jawab Sean.
"Bagaimana dengan Gunatama?",tanya Sean.
"Kondisinya saat ini cukup memprihatinkan saat keluarga Indi menarik sahamnya diperusahaan Gunatama.Ya bisa dikatakan mereka bangkrut",jawab Morgan.
"Pastikan dia tidak lagi mengganggu Anayaku",ujar Sean.
"Tentu...dia dalam pantauanku sekarang",jawab Morgan.
"Hmmm"
"Kalau begitu aku ke kantor dulu",ujar Morgan.
"Ya..titip kantor untuk beberapa hari ini",ucap Sean.
"Oke...",jawab Morgan berjalan menuju sang kekasih.
Sean menatap baby Arka yang tampak sudah bangun.Pria itu begitu bahagia dikaruniai anak laki laki yang begitu mirip dengannya.
"Mas...Arka bangun?",tanya Anaya saat menghampiri sang suami.
"Sudah sayang.Lihatlah dia begitu anteng saja meski tidak tidur",ujar Sean.
"Iya Mas...oh ya aku ke kamar dulu mau mandi.Gerah",ujar Anaya.
"Iya sayang...",jawab Sean.
__ADS_1
Anaya melangkah meninggalkan sang suami menuju lift untuk ke lantai 3 di mana kamarnya berada.
Tanpa sengaja Anaya mendengar namanya disebut saat ia akan memasuki lift.Anaya mengurungkan niatnya masuk ke dalam lift dan malah mendengarkan dua orang pelayan yang menyebutkan namanya.
"*Lihatlah... aku yakin Nona Anaya pasti akan makin berkuasa sekarang",ucap salah satu pelayan.
"Iya...kamu dengar dari mana kalau mansion ini sudah jadi milik Nona Anaya"
"Aku tadi tak sengaja mendengarnya.Apalagi sekarang dia sudah melahirkan penerus keluarga ini.Dia pasti memanfaatkan anaknya untuk meminta apapun pada Tuan muda"
"Husstt... nanti*--
"Apa kalian di gaji untuk bergosip?",tanya Anaya mengahampiri kedua pelayan itu.
"Nona anda--
"Siapa yang memanfaatkan tuan muda kalian disini,ha?.Kalian mengataiku aku masih diam tapi jika kalian mengatai anakku jangan kalian harap aku diam saja",berang Anaya.
"Nona muda anda salah paham,kami--
"Kalian pikir aku tuli,ha?.Kamu...apa hanya ini pekerjaan mu disini menguping pembicaraan orang lain bahkan itu majikan kalian sendiri?",teriak Anaya yang begitu murka menatap pelayan yang mengatai anaknya tadi.
"Bukankah itu memang benar Nona",jawab pelayan itu tanpa rasa takut..
"Apa maksudmu?",teriak Anaya.
"Heh...anda memanfaatkan tuan muda melalui anak anda untuk menguasai mansion ini",jawab pelayan itu dengan pongahnya sedangkan temannya sudah tertunduk takut.
"Kamu--
"Ada apa ini?",tanya Sean.
"Mas dia--
"Apa kamu bilang?",pekik Anaya menatap tajam pelayan itu.
"Nona ada apa dengan anda tiba tiba saja mengatai kami berdua",ujar pelayan itu seolah olah tertindas.
"Mas dia--
"Edo...", teriak Sean.
"Ya Tuan muda...",jawab Edo salah satu pekerja di bagian IT.
"Cek cctv yang ada disini.Aku ingin tau apa yang terjadi sehingga istiriku sepertinya ini",ujar Sean seraya mengusap punggung Anaya dengan lembut.
"Baik Tuan muda"jawab Edo.
Deg
Pelayan itu tampak pucat pasi,ia tak ingat jika disetiap sudut mansion itu memakai cctv.
Sean menatap tajam kedua pelayan itu tampak sudah ketakutan."Terbukti kalian melakukan kesalahan jangan harap kalian bisa keluar dari mansion ini dengan selamat",ujar Sean.
"Mas..."
"Aku percaya kamu sayang.Aku hanya ingin melihat apa yang terjadi sebenarnya",ujar Sean.
Tak lama Edo tergopoh gopoh setenhst berlari kearah Sean membawa flashdisk dan sebuah laptop.
"Ini Tuan muda",ujar Edo lalu menatap kedua pelayan itu dengan gelengan kepala.
Sean meraih laptop dan memasangkan flaadisk itu pada laptopnya sedangkan Anaya menatap tajam keduanya.
__ADS_1
Sean mengeraskan rahangnya melihat video itu dimana kedua pelayan itu dengan leluasa mengatai anak dan istrinya.
"Kau...",Sean menunjuk pelayan yang tadi mengatai Anaya.
"Maafkan kami tuan muda",ucap salah satu pelayan bersimpuh dihadapan Anaya dan Sean.
Sean tak mempedulikan pelayan itu tapi menatap tajam pelayan yang ia baru ia tahu jika dia salah satu pelayan baru di mansion ini.
"Siapa tuanmu yang menyuruhmu menyamar bekerja disini",tanya Sean membuat Anaya terkejut.
"Saya tidak--
"Kau pikir saya bodoh?",ucap Sean datar.
"Tuan--
"Katakan...",teriak Sean membuat Nyonya Anita dan yang lainnya terkejut dan menghampiri Sean.
"Tuan...saya hanya bekerja pada tuan saja",jawab pelayan itu dengan tenang.
"Sean ada apa?",tanya Papa Ferdian.
Sean menyerahkan laptop berisi video itu pada Papanya.
"Pengawal...",teriak Sean.
Tak lama tiga orang pengawal datang menghampiri Sean.
"Bawa wanita ini ke ruang bawa tanah dan buat dia mengakui siapa tuannya dengan cara apapun",tegas Sean.
"Tuan saya--
Ketiga pengawal itu menarik pelayan itu menuju ruang bawah tanah.Pelayan itu tampak memberontak.
"Tuan maafkan saya,saya--
"Kamu saya pecat",ucap Sean pada pelayan satu lagi.
Pelayan itu tergugu namun apa yang bisa dikata.Karena lisannya ia harus kehitaman pekerjaannya.
"Mas..."
"Sayang--
"Sean kamu harus melakukan sidak pada seluruh karyawanmu di mansion ini untuk mengantisipasi kejadian ini terulang lagi"ujar Papa Ferdian.
"Iya Pa...",jawab Sean.
"Mas...aku--
"Sudah ya...kita ke kamar.Ma tolong nanti antar Arka ke kamar Sean",ujar Sean pada sang ibu.
"Iya Nak...",jawab Nyonya Anita.
Sean membawa sang istri menuju ke kamar mereka di lantai 3.Setibanya dikamar Sean memeluk sang istri dengan erat.
"Mas...aku dan Arka tidak--
"Sssstt...aku tau.Bukankah aku sendiri yang memberikannya padamu",jawab Sean.
"Mas...aku sakit mendengar ia mengatai anak kita",lirih Anaya.
...****************...
__ADS_1