
Saat sampai di kamar Sean meluruskan kakinya yang terasa kebas.Sedangkan Anaya mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper.
"Mas...mandi dulu gih baru makan",ujar Anaya merapikan pakaian untuk sang suami.
"Bareng ya...",jawab Sean.
"Gak Mas...yang ada gak jadi makan",tolak Anaya.
"Hehe kamu tau aja",kekeh Sean bangkit dari duduknya lalu membuka pakaiannya dan masuk ke kamar mandi setelah mencuri ciuman dari pipi chubby sang istri.
Anaya mengggeleng pelan melihat kelakuan suami yang berbeda jika saat bersama dengannya dan saat berada diluar.
Wanita hamil itu melangkah keluar kamar setelah menyiapkan pakaian ganti untuk Sean.
Anaya mengernyit pelan saat melihat seorang gadis sedang duduk di ruang tamu bermain ponsel.
"Hai...",sapa Anaya membuat gadis itu menolehvdan tersenyum hangat padanya.
"Hai juga...Anaya ya...",tebak perempuan itu berdiri dari duduknya.
"Iya...kamu?"
"Kenalkan aku Arumi tunangan Morgan",ujar Arumi.
"Anaya",balas Anaya.
"Asal dari mana Arumi?",tanya Anaya.
"Aku dari kota xxx",jawab Arumi.
"Oh...
"Sayang..."
"Ya Mas...",jawab Anaya melihat sang suami begitu tampan dengan pakaian casualnya.
"Ayo makan!",ajak Sean merangkul bahu sang istri.
"Tapi Morgan?--
"Di mana Morgan Arumi?",tanya Sean dengan wajah datarnya berbeda saat ia berbicara dengan Anaya.
"Di-di kamar Pak eh...
"Tolong kamu panggilkan untuk makan siang",ujar Sean melangkah pergi membawa sang istri menuju ruang makan.
Sean membantu sang istri untuk duduk dengan nyaman baru setelahnya ia duduk disebelah sang istri.Bersamaan dengan datangnya Morgan dan Arumi.
"Sayang makan dengan apa, hum?",tanya Sean di jawab dengan gelengan oleh Anaya.
"Kenapa?",tanya Sean dengan lembut.
"Pengen mie goreng buatan kamu",jawab Anaya.
"Baiklah...tunggu sebentar",ujar Sean mengecup pucuk kepala sang istri diangguki oleh Anaya.
Kedua tak luput dari tatapan Morgan dan Arumi yang tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.Seorang Josean memasak untuk seorang wanita.
Morgan menggeleng pelan melihat sahabatnya itu begitu bucin pada sang istri.Selama yang ia tau Sean jarang memasak setelah lulus dari kuliahnya. Tapi sekarang pria itu dengan mudahnya ia memasak untuk sang istri.
__ADS_1
"Ini sayang...",Sean meletakkan mie goreng buatannya itu dihadapan sang istri.
"Makasih Mas",jawab Anaya tersenyum senang.
Sean mengacak rambut sang istri dengan begitu gemas melihat begitu manjanya sang istri padanya.
Arumi tersenyum tipis melihat keromantisan keduanya."Kamu wanita beruntung mendapatkan seorang Josean Anaya",batin Arumi.
"Pelan pelan sayang,masih panas",ujar Sean melihat sang istri makan begitu lahapnya.
"Iya Mas..."
Mereka makan siang bersama dengan begitu khidmat.Hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring yang terdengar.
"Sean jangan lupa meeting kita sebentar lagi",ujar Morgan memperingatkan sahabat itu.
"Ya..."
Sean membawa sang istri menuju kolam renang untuk bersantai sejenak."Sayang... makasih untuk semuanya",bisik Sean memeluk sang istri dari samping.
"Semuanya?",beo Anaya.
"Ya... semuanya.Telah hadir dalam hidupku melengkapi kekurangan ku sayang",ujar Sean.
"Mas...aku yang harusnya berterima kasih.Telah mau menerima gadis yatim piatu ini menjadi istrimu",jawab Anaya menatap eksis manik Sean.
"Kita sudah ditakdirkan bersama sayang.Jangan pernah lagi lari dari ku,aku takut kehilanganmu sayang",lirih Sean.
"Asal kamu jangan ma--
Sean membungkam mulut Anaya dengan bibirnya dan me******** dengan penuh kelembutan.
"Makasih Mas...",ujar Anaya memeluk sang suami.
Sean tersenyum tipis lalu membalas pelukan sang istri tak kalah eratnya.Baginya Anaya adalah nyawanya yang jika tak ada membuatnya bisa mati secara perlahan.
***
Anaya baru saja bangun dari tidurnya karena saat Sean telah berangkat meeting ia memutuskan untuk tidur siang.Wanita itu duduk bersandar pada dasboard tempat tidur.Tubuhnya terasa begitu lelah karena kehamilannya.
Anaya meraih ponselnya untuk menghubungi sang suami.Tapi sayang ponselnya mati membuatnya mendesah berat.Bangkit untuk mancarger dia sungguh sangat malas.Wanita itu melempar ponselnya ke sembarang arah lalu bersidekap di dada.
"Lapar... tapi malas banget buat keluar",lirih Anaya.
Dengan langkah berat akhirnya Anaya memutuskan untuk keluar kamar juga karena rasa laparnya.Anaya menuruni tangga dengan hati hati menuju dapur.Villa itu sangat sepi tak ada tanda tanda ada orang disana.
Sesampainya di dapur Anaya tak menemukan pelayan dan akhirnya dengan tersenyum merekah ia membuka lemari pendingin mencari bahan yang akan ia olah.
"Akhirnya bisa masak juga",batin Anaya.
Anaya meracik bumbu dengan begitu semangat.Ia sudah membayangkan rasa masakan buatannya.
Samar samar Anaya mendengar suara orang yang lagi bertengkar.Namun ini tak peduli mungkin pelayan yang lagi bertengkar pikirnya.Ia melanjutkan masakannya hingga tanpa ia sadar sepasang mata tengah memantaunya dari jauh.Aroma masakan menguar di seluruh dapur.
"Akhirnya selesai juga",gumam Anaya meletakkan masakan itu diatas meja makan lalu dengan semangat ia memulai makan.
"Enak...",gumam Anaya lagi disela suapannya.
"Sayang..."
__ADS_1
Anaya menoleh ke sumber suara tampak sosok yang ia rindukan berdiri berkacak pinggang diambang pintu dapur.
"Mas...",lirih Anaya tersenyum tipis.
"Mana pelayan?",tanya Sean memandangi seluruh dapur.
"Entahlah Mas...",jawab Anaya menaikan bahunya.
"Lalu siapa yang memasak ini untukmu sayang?",tanya Sean dengan tatapan sedikit curiga jika istrinya itu yang memasak sendiri.
"Aku...", jawab Anaya membuat Sean membola.
"Sayang aku kan sudah bilang jika kamu tak perlu--
"Aku dan anak kita lapar Mas.Aku tak menemukan siapapun disini jadi memutuskan untuk memasak",jawab Anaya dengan lirih.
"Kamu bisa telfon aku untuk dibawakan makanan sayang",ucap Sean lembut tak mau jika sang istri tertekan dengan kata katanya.
"Ponselku mati dan malas untuk mencarger",jawab Anaya.
"Lain kali aku gak mau lagi kamu--
"Kenapa kamu larang aku memasak Mas?",sela Saya menatapnsang suami.
"Karena aku ingin kamu hidup seperti ratu dilayani dengan baik.Kamu bukan pembantu Anaya tapi ratu di istana kita.Aku tak ingin tangan ini tergores pisau",ucap Sean meraih kedua tangan Anaya lalu mengecupnya.
Hati Anaya menghangat mendengar ucapan sang suami.Ia sungguh beruntung memiliki suami seperti Sean yang begitu memanjakannya.
"Ayo dilanjut makannya,atau mau aku suapi?",ucap Sean mengusap pucuk kepala Anaya.
"Boleh Mas...",jawab Anaya membuat pria tampan itu tersenyum lalu menyuapi ibu dari calon anaknya itu dengan telaten.
"Mas...kok lama meetingnya",tanya Anaya.
"Meetingnya sedikit alot sayang",jawab Sean.
"Oh..."
"Cukup Mas,aku kenyang",ucap Anaya menolak suapan dari Sean.
"Baiklah...ayo minum dulu",Sean memberikan segelas air pada sang istri.
"Makasih Mas.Oh ya aku gak melihat Arumi dan Morgan apakah mereka pergi berkencan?",tanya Anaya.
"Mungkin...",jawab Sean datar.
"Kamu kenapa Mas?",tanya Anaya melihat perubahan raut wajah sang suami.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu tapi gak disini",ujar Sean membawa sang istri menuju kamar mereka.
"Ada apa Mas?",tanya Anaya saat sampai di kamar.
Sean langsung memeluk wanitanya itu dengan begitu erat seakan takut akan kehilangan."Kamu janji tidak akan marah?",tanya Sean.
"Iya janji",jawab Anaya.
"Aku..."
...****************...
__ADS_1