Istri Kecil CEO Arogan

Istri Kecil CEO Arogan
Hukuman dari Kakek


__ADS_3

"Tunggu...!"


Sekar menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang begitu ia kenali.Wanita itu menoleh tampak Kakek Alatas berdiri tak jauh dari mereka dengan wajah dinginnya.


"Kakek...",gumam Sekar.


"Apa yang telah kau lakukan sehingga cucuku memberikanmu hukuman",tanya Kakek dengan nada datarnya.


"Kek...


"Diamlah cucu menantu!"ujar Kakek dengan suara lembutnya.Berbanding terbaik dengan dengan nada bicaranya pada Sekar.


Anaya menatap suaminya yang sama akan sang Kakek datar tanpa ekspresi.Wanita hamil itu bisaa merasakan aura mencekam diruangan itu.Kedua mertuanya hanya diam saja tanpa ikut membantah.


"Jawab...!",teriak Kakek.Membuat semua orang tersentak kaget begitu juga dengan Sekar yang tampak ketakutan.


"A-aku...su-sudah--


"Dialah dalang yang menculik Anaya waktu itu Kek.Dan tak hanya itu--


Anaya menatap suaminya dengan gelengan.Ia mengisyaratkan agar sang suami tak mengatakan apapun tentang kejadian itu pada Kakek.Dia begitu tak sanggup lagi untuk mendengar,andai waktu itu Sean terlambat sendikit saja menyelamatkannya ia tak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya hidupnya kini.


"Dia juga merecoki Anaya dengan obat perang--


"Keterlaluan...kurang apa aku selama ini membiarkanmu bebas setelah apa yang kau lakukan pada istriku dulu.Kini kau melakukan hal yang sama pada keluargaku?",teriak Kakek menahan amarahnya.


"Kek...tahan emosi Kakek",ujar Anaya menghampiri Kakek Alatas.


"Naya dia--


"Aku akan menyalahkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu pada Kakek.Ingat jantung Kakek...",ucap Anaya lembut mengusap lengan pria itu yang sangat ia hormati itu.


Kakek menatap cucu menantunya itu dengan senyuman hangatnya.Kini ia beralih menatap Sekar yang sudah tertunduk ketakutan."Pengawal...kirim dia ke pulau kita!",teriak Kakek.


Papa Ferdian dan Sean sama sama membola medenagar perintah Kakek Alatas karena mereka tau hukuman apa yang telah menanti wanita malang yang berani mengusik keluarga Alatas.


Keduanya tak bisa membantah perintah sang raja.Papa Ferdian menatap iba wanita malang yang tengah dibawah oleh pengawal ke pulau yang dimaksud Daddy-nya itu.


Sama akan halnya dengan Anaya wanita itu menatap Sekar dengan tatapan sendu.Apakah Sekar akan baik baik saja disana atau malah sebaliknya.


"Apa yang dilakukannya padamu cukup setimpal dengan apa yang ia dapatkan Nak",ujar Kakek saat melihat cucu menantunya itu bersedih.


"Jadi--

__ADS_1


"Sean bawa istrimu istirahat ke kamar!,dan kamu Ferdian tolong telfon dokter Alena kesini!",ujar Kakek lalu melangkah menuju kamar nya.Ia tak mau cucu menantunya tau.


"Baiklah Dad...",jawab Papa Ferdian.


"Gadis yang malang.Kabur dari kandang singa masuk kandang buaya.Harusnya kau tidak kesini setelah kabur dari sekapan putraku",batin Nyonya Anita yang tau jika mertuanya itu tidak akan tinggal diam jika anak menantunya diusik.


Setibanya di kamar Anaya menatap Sean yang duduk di tepian tempat itu memainkan ponselnya."Mas...Sekar kenapa di bawah ke pulau?,dan kata Kakek tadi--


"Sayang aku juga tidak tau apa yang Kakek lakukan pada wanita itu",kilah Sean yang tak ingin Anaya tau apa yang akan terjadi pada Sekar disana.


"Aku kasihan padanya Mas",lirih Anaya.


"Kasihan?.Sayang dia hampir mencelakai dan menodai kamu dengan orang suruhannya.Kenapa tiba tiba kamu kasihan padanya?",ujar Sean menggeleng pelan.


"Ya aku kasihan karena mencintai kamu membuatnya bodoh dan tanpa berpikir panjang dalam bertindak",jawab Anaya membuat senyuman Sean terbit seketika.Dia pikir Anaya kasihan dengan nasib Sekar sekarang.


"Kenapa kamu senyum seperti itu Mas?. Senang ya aku bilang jika Sekar mencintaimu segitunya",sungut Anaya tiba tiba membuat senyuman dibibir Sean hilang setika.Yang benar saja ia senang dengan hal itu.


"Naya...aku mencintaimu bahkan sangat mencintaimu jadi jangan berpikir yang aneh aneh lagi",ujar Sean mengusap pipi sang istri dengan lembut.


"Tapi kamu tadi terse--


Sean membungkam mulut sang istri dengan bibirnya dan me******* dengan lembut.Dia gemas dengan sang istri yang mencurigainya seperti itu.


"Habisnya bibir ini begitu cerewet",ujar mengusap bibir sang istri yang sedikit bengkak oleh ulahnya.


"Kamu mandi sana Mas,bau",ujar Anaya menutup hidungnya dengan tangan.


"Bau bagaimana sayang wangi gini",jawab Sean.


"Udah mandi pokoknya setelah itu kita makan aku lapar",ujar Anaya mendorong tubuh Sean menuju kamar mandi.


"Mandi bareng...",goda Sean.


"Gak...aku udah selesai mandi",jawab Anaya.


"Ayolah sayang", bujuk Sean.


"Mas...",pekik Anaya yang kesal dengan sang suami yang terus saja menggodanya.


"Hahahaha iya iya sayang.Istri siapa sih galak banget",ujar Sean menoel hidung Anaya.


"Heran aku sama kamu Mas, tua belum tapi udah pikun.Sama istri sendiri lupa",gerutu Anaya membuat pria dingin dan datar itu tertawa lepas.

__ADS_1


"Aku suka lihat kamu cerewet seperti ini sayang",ujar Sean.


"Udah Mas...mandi",seru Anaya.


"Iya istriku",jawab Sean.


CUP


"Mas...",pekik Anaya namun pria itu telah hilang dari balik pintu kamar mandi dan tertawa lepas.


Anaya menggeleng pelan melihat kelakuan absurd sang suami.Wanita itu segera mengambilkan baju ganti untuk Sean.Hanya itu pekerjaan yang diperbolehkan oleh Sean untuknya dimansion ini.


Setelah selesai Anaya menunggu Sean selesai mandi dengan bermain game di laptop milik Sean.Dia gak begitu suka membuka media sosial karena baginya tak ada manfaatnya.


Anaya tersenyum saat melihat sang suami sudah selesai mandi dengan handuk membalut dipinggangnya.Wanita itu bebas memandangi keindahan tubuh milik Sean.


Sadar akan sang istri tengah mengagumi tubuhnya pria itu sengaja berlama-lama sebelum memakai baju.


"Apakah tubuhku begitu indah sehingga kamu tak berkedip melihatnya",bisik Sean tepat ditelinga Anaya.


"Ya Mas...kamu begitu **** dan ***",ujar Anaya dengan beraninya.


"Mau coba?",goda Sean menaikan turunkan kedua alisnya.Entah kenapa istrinya itu begitu berani sekarang.Biasanya Anaya akan malu malu jika ia goda.


"Nanti malam Mas,sekarang aku dan anak kamu lapar",jawab Anaya mengusap perutnya yang begitu lapar.


"Baiklah kita turun lalu makan",ujar Senang segera memakai baju dan celana yang dipilihkan sang istri.


Setibanya dilantai bawah keduanya menuju dapur.Sean memerintahkan pelayan untuk menghidangkan makanan untuk sang istri.


Kedua duduk saling bersisian menunggu pelayan datang."Sayang besok aku harus keluar kota jadi kamu berhati hati ya selama aku tinggal",ujar Sean membuat Anaya terkejut tiba tiba sang suami berangkat keluar kota dengan tiba tiba.


"Berapa lama Mas",tanya Anaya.


"Jika urusannya cepat selesai kemungkian tiga hari kalau lama bisa satu minggu",ujar Sean diangguki oleh Anaya.


"Nanti aku bantu packing baju kamu ya Mas",lirih Anaya.Entah kenapa ia tak bisa berjauhan dengan Sean.Mungkin ini pertama kalinya ia dan Sean berpisah karena urusan pekerjaan.


"Maaf tak bisa membawamu kesana karena beresiko untuk kandungan kamu sayang",ujar Sean saat melihat raut sendu wajah sang istri.


"Iya Mas...gak apa apa kok",jawab Anaya tersenyum tipis.


"Aku janji akan sering menghubungi kamu dan anak kita",ujar Sean mengusap perut sang istri dengan lembut.Ia berharap tak terlalu lama meninggalkan sang istri.Andai bisa ia wakilkan mungkin ia telah menunjuk Morgan untuk menggantikannya.Tapi kali ini perusahaaan cabangnya mengalami penurunan dalam waktu tiga bulan ini.Jadi ia harus menstabilkan kembali perusahaaan itu demi kelangsungan karyawan yang bergantung hidup pada perusahaannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2