
Dokter muda itu tersenyum melihat kekuawatiran dari pria yang dikagumi banyak orang itu.
"Nyonya Muda baik baik saja hanya kelelahan dan stres yang berlebihan.Dan sepertinya istri anda harus dirawat",jawab dokter itu tersenyum ramah.
"Siapkan kamar rawat terbaik dirumah sakit ini",ucap Sean dengan ekspresi datarnya.
"Baik lah...",jawab dokter itu.
"Apa boleh kami masuk dok?",timpal Seena sementara Sean langsung menerobos masuk.
"Silahkan Nona",jawab dokter itu.
Seena langsung masuk mengikuti sang Kakak yang lebih dahulu masuk.Seena melihat sang Kakak sudah menggenggam tangan sang Kakak ipar yang masih belum sadarkan diri.
"Sayang.......maafkan aku yang tak bisa menjagamu",gumam Sean mengecup punggung tangan sang istri penuh kelembutan.
"Kak... sebentar lagi Kak Naya siuman kok",ucap Seena mengusap punggung sang Kakak agar Kakaknya itu merasa tenang.
Dan benar saja tak lama Anaya tampak mengerjabkan pelan.Wanita itu tampak masih sangat pucat.
"Mas...",lirih Anaya hampir tak terdengar.
"Ya sayang...",jawab Sean.
"Aku ada dimana?",tanya Anaya menatap sekelilingnya tempat yang begitu asing baginya.
"Kamu di rumah sakit sayang,tadi kamu pingsan dikampus",jawab Sean.
"Maaf Tuan kami mau memindahkan Nyonya keruang perawatan",ucap suster dengan ramah.
"Hmmm",jawab Sean memberikan ruang agar para suster itu bisa mendorong brangkar tempat tidur Anaya dan diikuti dari belakang oleh Sean dan Seena.
Dan disinilah mereka saat ini ruang VVIP rumah sakit.Sean tampak tak mau jauh dari istrinya itu.Sementara Seena sudah pulang karena ada tugas kuliah yang akan ia selesaikan.
"Mas...aku pulang gak enak disini",lirih Anaya yang memang tak suka dengan aroma rumah sakit.
"Sssttt...kamu harus dirawat sayang sambil menunggu hasil laboratorium kamu keluar",jawab Sean.
"Tapi aku sudah merasa baikkan Mas", rengek Anaya.
"Sayang...nanti ya setelah keadaaan kamu udah sedikit pulih",ucap Sean.
Pintu ruangan terbuka nampak Nyonya Anita dan sang suami datang menjenguk menantunya itu dengan membawakan makanan kesukaan anak menantunya.
"Sayang...gimana?udah merasa baikkan?",tanya Nyonya Anita saat mendekati tempat tidur Anaya.Dia tadi sudah diberitahu oleh sang putri tentang keadaan Anaya.
"Udah Ma...mau pulang",ujar Anaya yang masih ngeyel ingin pulang.
"Nanti ya Nak.Setelah kamu lebih segar.Ini masih pucat kayak gini",ucap Nyonya Anita mengusap pucuk kelapa Anaya.
"Mama bawakan bubur Manado kesukaan kamu,mau Mama suapkan atau sama Sean?",tanya Nyonya Anita yang memperlihatkan bawaannya.
__ADS_1
"Biar Sean yang suapkan Ma",jawab Sean mengambil salah satu wadah makanan berisi bubur yang dimaksud sang Mama.
"Ya sudah...",jawab Nyonya Anita
Sean dengan telaten menyuapkan bubur kesukaan sang istri.Suap demi suap sampai akhirnya semua isi mangkuk berpindah ke lambung sang istri.Pria itu tersenyum saat melihat sang istri yang menghabiskan makananya.
"Mikirin apa sih sayang sampai kamu stres dan kelelahan seperti ini",tanya Sean yang membersihkan sisa makanan di mulut sang isteri.
"Aku takut aja kejadian itu kembali terulang Mas",lirih Anaya.
"Sean sepertinya Anaya mengalami trauma",ucap Papa Ferdian yang duduk disofa bersama sang istri menonton sang anak dan menantunya.
Sean menatap sang istri dengan perasaan entah.Tampak raut ketakutan dimata Anaya."Aku janji kejadian itu gak akan terulang lagi",janji Sean menggenggam erat kedua tangan Anaya.
"Bawa ke psikiater Sean",usul Nyonya Anita.
"Tunggu hasil lab dulu Ma"jawab Sean.
"Mudah mudahan tak ada yang serius",ujar Papa Ferdian.
"Aamiin...",ucap Nyonya Anjar mengamini perkataan sang suami.
Tak lama Dokter memasuki ruang rawat Anaya denah seorang suster yang mendampinginya.
"Selamat siang Nyonya Muda",sama Dokter itu dengan senyuman ramahnya.
"Siang juga dokter",lirih Anaya.
"Bagaimana perasaannya saat ini?",tanya dokter itu.
"Mungkin karena terlalu stres jadi bisa memicu rasa pusing berlebihan.Apa lagi ada rasa trauma yang memicu rasa takut berlebihan dan terjadinya stres",ujar sang dokter.
"Lalu apa perlu ke psikiater Dok?",tanya Nyonya Anita ikut menimpali.
"Kalau diperlukan bisa saja tapi dukungan orang sekitar biasanya lebih ampuh memulihkan rasa trauma.Trauma yang dialami tidak begitu parah",jawab dokter itu lagi.
"Baiklah Dok terima kasih",ujar Nyonya Anita.
"Sama sama Nyonya,kalau begitu saya pamit undur diri dulu",jawab sang dokter melangkah keluar dari ruang rawat Anaya.
Sean mendekap sang istri kedalam pelukan hangatnya."Jangan takut sayang selamanya ada aku kamu akan baik baik saja", ucap Sean memberi semangat pada Anaya.
"Sean benar Anaya Papa juga telah menyiapkan satu bodyguard untukmu.Mungkin besok sudah bekerja",timpal Papa Ferdian.
"Cewek kan Pa", tanya Sean.
"Ya...",jawab Papa Ferdian.
"Emang ada Pa?",tanya Anaya.
"Ada...karena itu permintaan suami bucinmu",ejek Papa Ferdian pada sang putra.
__ADS_1
"Ya ampun Mas...kamu ada ada saja",Anaya menggeleng pelan melihat sikap posesif sang suami.
"Aku gak mau kamu dekat dengan pria manapun Anaya", jawab Sean.
"Bucin akut"ledek Nyonya Anita.
Sean tak mempedulikan ucapan kedua orangtuanya.Dia fokus menatap sang istri yang menurutnya semakin cantik saja.Meski tak make up namun pesona seorang Anaya mampu menghipnotis seorang Sean.
"Pulang yuk sayang!.Males nonton orang bucin",ucap Papa Ferdian pada sang istri.
"Baiklah Pa.Anaya Mama sama Papa pulang dulu ya,semoga lekas sembuh",ujar Nyonya Anita dengan tulus.
"Papa juga ya sayang", timpal Papa Ferdian.
"Hanya aku pria yang boleh memanggil Anaya dengan sebutan sayang Pa",ujar Sean menatap tajam Papanya.
Tuan Ferdian membola mendengar ucapan sang putra yang kelewat bucin menurutnya.
"Dia sudah ku anggap putriku Sean",jawab Papa Ferdian.
"Tapi dia bukan putri kandungmu Pa hanya menantu",sela Sean yang kadar cemburunya gak ketulungan.
"Baiklah terserahmu saja Sean",jawab Papa Ferdian pasrah melihat kelakuan anak sulungnya itu.
Setelah kedua orangtuanya pamit Sean duduk disebelah sang istri."Anaya..."
"Ya Mas...", jawab Anaya.
"Maaf jika sifat cemburuku membuatmu tak nyaman",ujar Sean mengenggam tangan sang istri.
"Mas cemburulah ala kadarnya saja,yang berlebihan karena itu tidak baik",jawab Anaya.
"Tapi aku takut kamu meninggalkanku dan-
"Sssttt...gak akan Mas.Kita sama sama pernah dikhianati jadi mari sama sama belajar juga dari hal itu",ujar Anaya.
"Ya sayang...tapi rasa takut itu lebih besar disini",tunjuk Sean kedada sebelah kirinya.
"Aku boleh bertanya Mas?", tanya Anaya dengan mode serius.
"Ya..."
"Apa kamu dulu mencintai Jessica seperti ini",tanya Anaya menatap bola mata sang suami.
"Tidak... padamu lah aku seperti ini Anaya",jawab Sean.
...****************...
sweet sweet....ayo dukungannya Reader.
Jangan lupa ramaikan juga novel terbaru kau baru rilis benget dan batu satu bab yang berjudul "sang pewaris"
__ADS_1
Mohon dukungannya Reader.🙏🙏🙏🙏