
"Anaya,Arka mena-
Anaya dan Sean menoleh saat Nyonya Anita yang sudah berkacak pinggang.
"Mama...",gumam Anaya.
"Dicariin malah disini,Arka kayaknya haus ini",ujar Nyonya Anita menyerahkan cucunya itu pada Anaya.
"Makasih ya Ma",ujar Anaya meraih bayi mungil itu dari gendongan sang mertua.
"Haus ya sayang,hum?",ujar Anaya pada sang anak yang masih menangis kecil.
Anaya berjalan menuju sofa tunggal yang diperuntukkan untuk dirinya agar nyaman menyusui.
"Mama turun dulu ya...",ujar Nyonya Anita.
"Ya Ma...",jawab Anaya.
Sean menghampiri sang istri yang sedang menyusui anaknya itu dengan senyuman smirk.
"Wah anak Daddy haus sekali ya sayang?",tanya Sean pada sang anak yang masih merah itu.
"Iya Daddy...",jawab Anaya menirukan suara bayi.
"Sayang...aku perhatikan milikmu makin ***** ya",ujar Sean memperhatikan **** sang istri.
"Apa sih Mas...",kesal Anaya pada suaminya itu yang selalu saja mesum.
"Tapi aku suka",bisik Sean.
"Mas...",geram Anaya membuat tawa Sean pecah seketika saat melihat wajah kesal sang istri.
Anaya terpesona akan tawa yang suami yang begitu jarang ia lihat dikarenakan Sean yang selalu memasang wajah datar.
"Kamu makin tampan Mas kalau tertawa seperti itu",ujar Anaya memandangi sang suami.
Sean menghentikan tawanya lalu tersenyum tipis pada Anaya."Cuma kamu yang bisa melihatnya sayang", jawab Sean dengan mode serius.
"Hehehe yakin...?",goda Anaya.
"Tentu...senyumku ini limited edition hanya untuk kamu saja",jawab Sean.
"Ya ya aku percaya",jawab Anaya.
"Aku begini hanya saat bersama kamu sayang",ucap Sean mengecup pucuk kepala sang istri dengan lembut.
__ADS_1
"Kami berdua mencintaimu Mas",jawab Anaya menatap sang suami penuh cinta.
"Aku juga sayang...sangat sangat mencintaimu dan anak kita",ujar Sean membalas tatapan sang suami.
Oek oek oek
"Kenapa nangis sayang,hum?",tanya Anaya membuat Arka menghentikan tangisannya seketika.
"Sepertinya dia cemburu dengan kamu Mas",sambung Anaya menatap putranya itu.
"Benarkah?.Aku punya saingan dong sayang?",ujar Sean mengecup pipi sang anak dengan gemas.
"Huum...",jawab Anaya tersenyum bahagia melihat anak dan suaminya itu.
"Turun yuk Mas...gak enak sama yang lain mumpung Arka namun tidur",ucap Anaya karena Arka telah kenyang menyusu.
"Ayo...sini aku yang gendong Arka",ujar Sean mengambil alih Arka dari gendongan sang istri.
Keduanya berjalan menuju lift untuk sampai ke lantai dasar.Saat tiba dilantai dasar semua orang tersenyum melihat pasangan itu yang terlihat begitu bahagia.Begitu juga dengan Papa Ferdian dan Nyonya Anita.Meski tanpa adanya Kakek Alatas tak mengurangi rasa bahagianya mereka karena kelahiran penerus keluarga Alatas itu.
"Sudah kenyang sayang,hum?",ujar Nyonya Anita menoel pipi gembul milik Arka.
"Sudah dong Oma",jawab Anaya.
"Iyakah Ma?",tanya Anaya antusias.
"Hooh...yang lebih parahnya dia maunya digendong cuma sama Mama aja",sambung Nyonya Anita mengenang masa kecil sang anak.
"Pegal dong Ma digendong terus",tanya Anaya melirik sang suami sekilas yang sedang berdiri didekat tempat tidur sang anak bersama Morgan.
"Ya..pegal sih Nay.Tapi rasanya begitu menyenangkan",jawab Nyonya Anita tersenyum pada anak menantu.
"Oh ya jangan dibiasakan ya Arka nya digendong terus nanti malah gak mau diam jika gak digendong",ujar Nyonya Anita memberikan sedikit wejangan pada sang menantu.
"Iya Ma...",jawab Anaya.
"Ma...aku mau tanya sesuatu, boleh?",tanya Anaya.
"Mau tanya apa sayang?",jawab Nyonya Anita mengerutkan keningnya.
"Jadi benarkah Tante Indi ibu kandung aku,Ma?",tanya Anaya.
Nyonya Anita mendekati sang menantu dan merangkul lembut bahu Anaya."I-iya... Nay.Tapi dia tidak tau akan hal kamu diberikan pada orang lain karena ia di bohongi dengan mengatakan kamu meninggalkan setelah dilahirkan",jawab Nyonya Anita pelan agar Anaya tak terlalu shock.
"Ma...apakah Tante Indi telah berubah?",tanya Anaya kembali.
__ADS_1
"Mama juga kurang tahu tapi satu hal yang Mama tau Indi sudah bercerai dengan Papa kamu semenjak 2 bulan yang lalu",jawab Nyonya Anita mengusap bahu sang menantu pelan.
"Huffhhh...takdir memang lucu ya Ma.Aku bertemu dengan orang tua kandungku dengan mereka begitu membenciku",lirih Anaya menghela nafas panjang.
"Ya...Mama cuma mengingatkan kamu Indi wanita yang sudah melahirkan kamu terlepas dari semua yang telah terjadi dia tetap Mama kamu.Meski dia mengatakan jika dia telah berubah tak seharusnya waktu itu dia mengatakan kebenarannya disaat kondisi kamu masih lemah.Mama pikir waktu itu dia datang untuk meminta maaf tapi dugaan Mama salah.Maafkan Mama sekali lagi sayang",lirih Nyonya Anita.
"Iya Ma...aku juga berpikiran seperti itu tapi aku belum bisa menerima semuanya secepat ini.Meski Tante Indi tidak salah tapi dia tetap salah telah berlaku sombong dan pongah pada orang lain.Dan akhirnya orang lain yang kerap ia hina tak lain adalah anak kandungnya",lirih Anaya mengusap sudut matanya yang berair.
"Pelan pelan saja sayang.Mungkin Sean akan lebih protektif lagi pada kamu mengenai Indi",ujar Nyonya Anita tersenyum tipis.
"Iya Ma... sekarang Tante Indi ada di mana?",tanya Anaya.
"Mama juga tidak tau sayang...",jawab Nyonya Anita jujur.
Anaya mengangguk pelan seraya tersenyum pada sang suami yang menatapnya dari kejauhan.
"Putra Mama begitu mencintai kamu sayang.Gak disangka awalnya Mama yang mendesak kalian menikah pada akhirnya kalian menjadi suami istri yang saling melengkapi",ujar Nyonya Anita.
"Iya Ma...jujur aku sempat nolak menikah dengan Mas Sean namai seiring berjalannya waktu dia bisa membuatku jatuh cinta padanya",aku Anaya jujur pada mertuanya itu.
"Itulah jodoh sayang.Kita tidak tau dengan siapa dan bagaimana penikahan kita hari esok tapi Mama minta apapun yang terjadi tetaplah saling percaya",ujar Nyonya Anita.
"Makasih wajangannya Ma...",jawab Anaya memeluk mertuanya itu.
"Ada apa ini kok aku gak diajak",ucap Seena saat melihat Kakak iparnya dan sang Mama berpelukan.
"Sini...Mama peluk",ucap Nyonya Anita pada putrinya itu.
Seena berhamburan memeluk Nyonya Anita dan Anaya.Ketiga tak luput dari tatapan seluruh keluarga yang tersenyum bahagia kekompakan ketiganya.
Sean dari jauh tersenyum bahagia melihat sang istri yang bahagia mendapatkan Mama mertua seperti Mamanya yang telah menganggap Anaya layaknya anak kandung.
"Lihatlah Sean meski Anaya tidak mendapatkan kasih sayang dari ibu kandungnya Tante Anita tampak begitu menyayangi",ujar Morgan yang juga melihat adegan itu.
"Ya...aku bersyukur Mama begitu menyayangi Anaya",jawab Sean menatap sang istri yang tersenyum bahagia.
"Aku juga berharap Lola dan Mama juga seperti Tante Anita dan Anaya",ucap Morgan penuh harap.
"Pasti itu...belum jadi menantu kamu sudah di anak tiri kan",jawab Sean.
"Kamu benar...",balas Morgan lalu keduanya tersenyum lebar.
...****************...
jangan lupa like dan votenya Ya say...
__ADS_1