
Anaya menoleh kearah sumber suara tampak seorang pria tersenyum lebar kearahnya.Anaya mengernyitkan keningnya karena tak mengenali pria itu.
Sean merangkul erat pinggang Anaya dengan posesif.Ia menatap tajam pria yang kini berjalan menghampiri mereka.
"Kamu Anaya kan?anak Om Tommy?",ujar pria itu.
"Iya...kamu sia-
"Aku Rehan tetangga kamu dulu",ujar pria itu dengan sumringah.
Anaya mencoba mengingat pria yang bernama Rehan itu."Oh...Kak Rehan anaknya Bibi Hanum",ujar Anaya.
"Ya... akhirnya kamu mengingatku juga,kamu apa kabar?",tanya pria yang bernama Rehan itu mengulurkan tangannya.
"Baik...",jawab Anaya menangkup kedua tangan didepan dada.
Sean tersenyum miring kearah pria itu."Jangan harap bisa menyentuh istriku",batin Sean.
Anaya sengaja menangkup tangan didada karena ia tau akan sifat posesif sang suami.Takkan ada pria lain yang boleh menyentuhnya walau seujung kuku sekali pun.
"Kamu ngapain kesini?",tanya pria itu tak sengaja manatap Sean yang sudah menatapnya tajam.
"Beli martabak manis,oh ya kenalkan ini suamiku Mas Sean",ujar Anaya memperkenalkan Sean pada Rehan.
"Rehan..."
"Sean suaminya Anaya",ujar Sean membalas jabatan tangan Rehan dengan tatapan penuh permusuhan begitu juga dengan Rehan.
"Mas ayo...!.Maaf ya Kak Rehan kami duluan",ujar Anaya mengamit lengan Sean dengan manja.
Sean tersenyum penuh kemenangan atas perlakuan sang istri.Anaya adalah miliknya dan tak akan pernah ia lepaskan seumur hidupnya.
Rehan tersenyum samar melihat suami istri itu tampak sebegitu bahagia.Pria itu melangkah meninggalkan pasangan itu dengan perasaan yang tak menentu.
"Mas aku mau toping keju dan coklat ya",ujar Anaya saat Sean memesankan martabak manis untuknya.
"Apapun untukmu sayang",ujar Sean.
"Makasih Mas sayang",jawab Anaya tersenyum tipis menggoda Sean.
"Kamu mau aku melupakan yang tadi kan memanggilku dengan sebutan sayang.Jangan harap aku akan lupa Anaya.Kamu hutang penjelasan sama aku tentang pria tadi",ujar Sean tersenyum smirk.
Anaya bergidik ngeri melihat senyuman sang suami.Ia bisa merasakan aura kemarahan dan kecemburuan dari sang suami.
"Mas...
"Jelaskan nanti di mobil",ujar Sean saat melihat pesanan mereka hampir jadi.
__ADS_1
Anaya menghembuskan nafas panjang.Ia makin kesini semakin tau bagaimana sifat Sean jika sudah cemburu.Wanita itu menatap sang suami yang kini tengah membayar pesanannya.
"Ayo...!",Sean merangkul bahu sang istri menuju mobil mereka.
Keduanya telah berada didalam mobil.Sean menatap Anaya dengan begitu tajam.
"Ada apa sih Mas",ujar Anaya yang risih dengan tatapan tajam sang suami.
"Jelaskan sekarang!",ujar Sean bersidekap didada.
Anaya menghela nafas nafas panjang sebelum memulai ceritanya."Kak Re--
"Jangan sebut nama pria lain dihadapanku sayang",ujar Sean dengan wajah datarnya.
"Ya maksud aku dia tetangga sebelah rumahku dulu saat aku masih duduk di bangku SMA.Tapi kemudian ia pindah ikut keluarganya ke luar negeri.Jadi aku dan dia tak pernah bertemu lagi baru tadi ketemu setelah sekian lama",ujar Anaya.
"Hanya itu?"
"Ya...hanya itu",jawab Anaya.
"Apakah kamu dan dia dulu pernah menjalin hubungan?",tanya Sean yang berusaha menekan rasa cemburunya dari tadi.
"Hehehe...ya gak lah Mas.Aku udah anggap dia seperti Kakakku sendiri karena aku anak tunggal",jawab Anaya terkekeh geli.
"Tapi aku tadi melihat tatapannya berbeda padamu Anaya",ujar Sean.
"Jadi kamu tidak punya perasaan sama dia?",tanya Sean dengan bodohnya.
"Ya ampun Mas... pertanyaan macam apa itu,hum?",ujar Anaya dengan sedikit kesal.
"Aku takut kamu tertarik padanya lalu meninggalkanku Anaya",ujar Sean bersungguh sungguh.
Anaya menatap manik sang suami yang tampak begitu ketakutan."Apakah sedalam itu cinta untukku Mas",gumam Anaya.
"Ya sayang...bahkan melebihi diriku sendiri",lirih Sean mengecup punggung tangan sang istri dengan lembut penuh perasaan.
"Makasih Mas...aku dan anak kita beruntung memilikimu Mas",ujar Anaya memeluk sang suami dengan begitu erat.
"Aku juga sayang beruntung dipertemukan dengan wanita secantik kamu",ujar Sean membalas pelukan sang istri tak kalah erat.
"Oh ya Mas martabaknya",ujar Anaya mengurai pelukannya yang teringat akan martabaknya.
Sean terkekeh melihat sang istri meraih martabak manis yang sudah hampir dingin."Masih panas gak?.Kalau udah dingin kita pesan lagi mumpung kita masih disini",ujar Sean.
"Gak usah Mas...masih panas kok",ujar Anaya yang mulai mengunyah martabaknya.
"Pelan pelan sayang,gak ada yang minta juga kok",ujar Sean membersihkan sudut bibir Anaya yang belepotan.
__ADS_1
"Enak Mas.Kamu mau?", Anaya menyodorkan sepotong martabak kearah Sean.
"Buat kamu aja dan anak kita",tolak Sean.
"Rugi kamu gak mau Mas.Enak begini",ujar Anaya.
"Dihabiskan ya sayang!",ujar Sean mengusap perut sang istri suatu kebiasaan yang mulai ia lakukan semenjak Anaya hamil.
"Kita pulang sekarang ya...atau kamu mau beli sesuatu lagi?",ujar Sean.
"Pulang aja Mas.Aku udah kenyang pakai banget",ujar Anaya meletakkan sisa martabak di dashboard mobil.
Dengan sigap Sean membukakan tutup air minum untuk Anaya agar sang wanitanya itu tidak kesusahan.
"Makasih Mas...",ujar Anaya saat Sean memberikan sebotol air mineral padanya lalu meminumnya.
"Iya sayang...",ujar Sean tersenyum tipis.
Keduanya kembali pulang ke Mansion karena waktu sudah hampir tengah malam.Anaya tampak sudah menguap.Sean menurunkan kursi Anaya agar wanitanya leluasa tidur.
"Tidur lah...!",ujar Sean menggenggam tangan sang istri sementara yang kanannya memegangi stir.
Sesampainya di mansion Sean segera menggendong sang istri dengan hati hati.Suasana mansion sudah tampak sepi mungkin para penghuni sudah pada tidur.
Setelah sampai dikamar Sean meletakan tubuh Anaya dengan pelan agar tak menganggu tidur nyenyak sang istri.
"Selamat malam sayang dan anak Papa jangan bikin Mama kesusahan ya Nak!",bisik Sean mengecup perut sang istri.
Sean menyelimuti wanitanya itu dan segera berlalu menuju lemari mengambil pakaian gantinya.Setelah itu ia ikut merebahkan diri disebelah sang istri dan tak lama ikut terlelap.
Pagi menjelang keduanya bangun lalu melaksanakan kewajiban mereka yaitu sholat subuh berjamaah.Meski bukan muslim yang baik keduanya berusaha agar tak meninggalkan shalat lima waktu.
"Mas...aku mau nasi goreng buatan kamu, boleh?",tanya Anaya setelah mereka selesai sholat.
"Tentu saja boleh sayang",ujar Sean mengecup bibir sang istri sekilas.
"Ayo kita ke dapur eksekusi nasi gorengnya", timpal Sean menggandeng sang istri keluar kamar menuju dapur untuk membuatkan makanan yang diinginkan sang istri.
Keduanya sibuk di dapur lebih tepatnya Seanlah yang sibuk karena Anaya tak diperbolehkan oleh Sean menyentuh peralatan dapur.
"Wangi...",ujar Seena tiba tiba.
"Kamu kayak jilangkung aja datang tiba-tiba",kesal Sean.
"Yah...aku cantik gini disamakan dengan dedemit",kesal Seena.
Anaya terkekeh mendengar keributan yang terjadi antar kakak adik itu.Dia begitu beruntung menjadi bagian keluarga Alatas yang begitu sangat menyayanginnya.
__ADS_1
...****************...