
Sean tersenyum melihat betapa lahapnya sang istri memakan masakannya.Sean kembali fokus ke laptopnya memeriksa laporan keuangan yang dikirim oleh Robi sembari menemani Anaya makan.
"Kerjaan kamu banyak ya Mas?",tanya Anaya disela suapannya melihat sang suami begitu fokus.
"Iya sayang...gak apa apa kan aku kerja sambil temani kamu makan?",ucap Sean menoleh pada Anaya.
"Gak apa apa Mas.Maaf ya tadi aku terlalu kekanak kanakan",lirih Anaya.
"Jangan bahas lagi ya...nanti mood kamu buruk lagi loh",jawab Sean.
Anaya tersenyum manis dan kembali melanjutkan makannya.Sedangkan Sean kembali fokus pada laptopnya.
Anaya menyudahi makannya dan membawa piring kotor itu ke belakang.Setelahnya ia meminum susu hamil berserta vitamin yang telah disiapkan oleh Sean.
Melihat betapa sibuknya sang suami Anaya berjanji tak akan merepotkan suaminya lagi mulai hari ini.
Anaya duduk disebelah sang suami menyalakan televisi menonton film kesukaannya.Ia telah memutuskan untuk mengambil cuti diawal kehamilan.Tapi ia belum mengatakan pada sang suami karena Sean yang tampak begitu sibuk dengan pekerjaannya.
"Naya..."
"Iya Ma...",jawab Anaya saat sang mertua menghampirinya dengan menenteng 3 buah paper bag.
"Ini untuk kamu",ujar Nyonya Anita menyerahkan ketiga paper bag itu kepada Anaya.
"Kok banyak Ma?", tanya Anaya mengambilkan paper bag itu lalu meletakkannya di atas meja.
"Baju hamil terus ada tas juga sama kalung",jawab Nyonya Anita yang sengaja membelikan Anaya sebuah tas dan kalung karena selama Anaya menjadi menantunya ia belum pernah membelikan apapun.
"Terima kasih ya Ma...",ujar Anaya memeluk ibu mertuanya itu.
"Iya sayang... dipakai ya.Cocok loh untuk hari hari baju hamilnya",ucap Nyonya Anita.
"Iya...besok Naya pakai biar dicuci dulu nanti",jawab Anaya.
"Sean..."
"Ya Ma..."
"Kamu gak ke kantor?",tanya Nyonya Anita.
"Nanti siang Ma ada pertemuan dengan klien",jawab Sean menatap sang Mama sekilas lalu kembali fokus pada laptopnya.
"Ya udah nanti Mama mau ajak Anaya ke rumah teman Mama ya mau jenguk anak teman Mama yang udah lahiran",ujar Nyonya Anita.
"Ya Ma...tanya Anaya nya aja mau apa tidak", jawab Sean.
"Naya kamu mau gak?",tanya Nyonya Anita.
"Iya Ma...Naya mau tapi Anaya kan belum nyiapin kado Ma",jawab Anaya.
__ADS_1
"Tenang aja udah Mama siapkan kok,kamu tinggal ikut saja",ujar Nyonya Anita.
"Ya sudah Mama ke kamar dulu",sambung Nyonya Anita melangkah meninggalkan anak menantunya.
"Mas...aku letakin ini ke kamar ya sekalian minta tolong Bibi nyuciin baju baju ini",ujar Anaya bangkit dari tempat duduknya.
"Gak usah sayang...panggil Bibi aja buat ambil baju baju yang mau di cuci nanti yang lainnya aku yang bawakan ke kamar",jawab Sean.
"Ya Mas..."
Anaya memanggil pelayan yang kebetulan melewati mereka dan memberikan paper bag berisi baju baju yang dibelikan oleh mertuanya tadi.
"Mau kemana sayang?",tanya Sean saat Anaya berjalan meninggalkannya.
"Killing mansion Mas,bosan...",jawab Anaya.
"Ya udah nanti aku susul nanggung tinggal dikit lagi",ujar Sean diangguki oleh Anaya.
Anaya berjalan menuju taman bunga milik Nenek Sean yang selalu dirawat oleh Nyonya Anita.Wanita itu menatap kebun bunga yang ditata begitu rapi itu dengan senyuman mengembang.
Samar samar ia mendengar suara yang menyebut namanya.Anaya menajamkan pendengarannya.
"Enak ya jadi si Anaya itu padahal yang aku dengar nih dia cuma gadis yang tak sengaja diselamatkan oleh Tuan muda dan akhirnya dinikahi",ucap salah satu pelayan.
"Husstt...gak boleh ngomong kek gitu nanti ada yang dengar",ucap temannya.
"Biar aja namanya juga takdir,kita tak tau kan dengan siapa kita berjodoh",jawab temannya.
Anaya menghela nafas berat ternyata gak di mansion suaminya disini pun ada pelayan yang tak menyukainya.
Wanita hamil itu tersenyum saja mendengar percakapan pelayan itu.Toh semuanya juga benar dirinya memang beruntung berjodoh dengan Sean.
Anaya memilih pergi dari pada mendengarkan ucapan pelayan itu yang nantinya akan membuat moodnya kembali memburuk.
Anaya melangkah masuk kembali berjalan menuju lantai atas untuk menikmati aroma maskulin kamar itu yang selalu membuatnya merasa tenang.Bermanja dengan sang suami itu tak mungkin saat ini karena Sean begitu sibuk.
Anaya memasuki kamar Sean dan menghirup aroma maskulin kamar itu lalu duduk disofa tunggal yang Sean siapkan jika sang istri ingin bersantai.
Anaya meraih ponselnya yang ada diatas nakas dan membuka aplikasi novel online yang sering ia baca untuk mengusir kebosanannya.
Sedangkan Sean sedang mencari keberadaannya dilantai dasar.Pria itu sudah mengelilingi mansion dan bertanya pada pelayan tapi tak jua menemukan sang istri.
Sean mulai kuawatir ia berjalan menuju kamar tapi tetap sama tak ia temukan Anaya.
"Sean mana Anaya?",tanya Nyonya Anita.
"Sean juga lagi cari Ma",jawab Sean.
"Cari?.Emang istri kamu MN hilang?",tanya Nyonya Anita.
__ADS_1
"Hmmmm".
"Maksudnya?", pekik Nyonya Anita.
Sean menjelaskan apa yang terjadi pada sang Mama."Kamar kamu yang diatas udah dicek belum?",tanya Nyonya Anita.
"Ngapain juga Naya kesana Ma--
"Ada apa?",tanya Nyonya Anita melihat sang anak menghentikan ucapannya.
Sean segea berlari menuju lantai atas dan memasuki kamarnya.Benar saja sang istirnya sedang fokus pada ponselnya.
"Sayang..."
Anaya menoleh kearah sumber suara."Sudah selesai Mas kerjaannya?",tanya Anaya namun yang ditanya hanya diam saja sambil menatapnya tajam.
"Mas..."
"Hobi sekali buat aku panik, hum?",ucap Sean gemas dengan sang istri.
"Maksudnya?",tanya Anaya.
"Katanya cuma keliling mansion tapi sekarang kamu santai di kamar", ucap Sean.
"Emang iya Mas lalu karena bosan aku balik lagi ke sini",jawab Anaya.
"Kenapa gak dikamar bawah, hum?",tanya Sean.
"Aku lagi ingin menikmati aroma maskulin kamar ini Mas", lirih Anaya.
"Kamu--
"Aku sebenarnya ingin meluk kamu tapi kamu sibuk.Jadi aku ke sini menghirup aroma parfum kamu yang tertinggal diruangan ini Mas",jawab Anaya.
"Sayang--
"Maaf ya Mas buat kamu cemas",ucap Anaya.
Sean memeluk erat sang istri begitu tergantungnya Anaya semenjak hamil padanya.Tapi wanitanya ini berusaha mengerti kesibukannya."Maaf aku mengabaikanmu tadi",lirih Sean menciumi pucuk kepala Anaya.
"Aku ngerti kok Mas,ini hanya bawaan bayi",jawab Anaya.
"Maafkan Papa sayang mengabaikan kamu",ucap Sean berjongkok di depan perut sang istri lalu mencium perut Anaya yang mulai buncit.
"Sayang Mama nyariin kamu",ucap Sean yang teringat jika Mamanya tadi mencari Anaya.
"Ayo turun Mas!",ujar Anaya menarik tangan sang suami keluar dari kamar.
...****************...
__ADS_1