Istri Kecil CEO Arogan

Istri Kecil CEO Arogan
Hukuman


__ADS_3

"Orangnya Gunatama..."


Prank...


Sean menendang sebuah kursi diruangan itu dengan begitu keras."Tangkap pria tua itu dan bawa kehadapan ku sekarang!",teriak Sean pada para anak buahnya.


"Baik Tuan...",jawab pimpinan mereka dan langsung bergerak dengan para yang lainnya melakukan tugas dari tuannya.


"Agghhhh...brengsek kau Gunatama",teriak Sean membuat orang yang ada diruangan itu merinding melihat ekspresi Sean.


"Tuan bisa kah anda melepaskan aku sekarang?",tanya pria yang diduga pelaku penembakan itu.


"Tidak semudah itu untuk keluar dari sini bung.Kau harusnya berpikir dua kali untuk mengusik seorang Alatas.Berapa pria tua itu membayarmu,hah?",ucap Sean dengan tatapan yang begitu tajam seakan akan ingin membunuh mangsanya saat ini.


"Ti-tidak ada Tu-tuan.Aku melakukan atas dasar balas budi",jawab pria itu.


"Bodoh...",ucap Sean.


Tring...


Morgan is calling...


Sean:Ya Morgan...


Morgan:Sean Indi siuman.


Sean:Hmmmm


Morgan:Kamu dimana Sean?


Sean:Markas...


Morgan:Aku kesana sekarang


Sean:Sebaiknya kamu ikut yang lain menangkap Gunatama


Morgan:Jadi Gunatama lagi dalang dari ini semua?


Sean:Hmmm


Morgan:Baiklah


Klik


Sean menghela nafas panjang karena masalah terus berdatangan.Ia harus segera menyelesaikan semuanya sebelum anak dan istrinya menjadi korban.


Pria itu kembali duduk menunggu tawanannya datang.Pelaku penembakan tampak pasrah dengan nasibnya.Ternyata orang yang ia usik bukan orang sembarangan.


Pria berusia 40 tahunan itu menyesali keputusannya untuk menerima tawaran dari Gunatama yang memintanya untuk melenyapkan seorang wanita.Kini tak ada yang bisa lagi menolongnya.


Tring...


My wife is calling...


Sean:Ya sayang...


My wife:Mas Mama sudah siuman


Sean:Ya... sayang


My wife:Aku boleh kerumah sakura gak Mas,jenguk Mama


Sean:Boleh tapi harus dengan Lola dan bodyguard lainnya.Tapi tunggu dulu Arka bagaimana?


My wife:Istri Pak Man bersedia jadi pengasuh Arka Mas.Nih Arka lagi sama Bu Asih Mas


Sean: Syukurlah...kamu berangkat hati hati ya.Maaf ya aku gak bisa antar ini lagi ada masalah

__ADS_1


My wife:Ya Mas...aku berangkat dulu ya


Sean:Ya sayang...


Klik


Sean kembali menampilkan raut wajah mode datar dan dinginnya.


Orang orang ya ada disana begitu terkejut dengan ekspresi Sean yang jarang mereka lihat.


Tak lama orang yang dia tunggu tunggu pun datang.Pria tua yang sedang ditutup matanya itu tampak meronta.


"Lepaskan brengsek...",umpat pria tua itu.


"Ikat dia...!",ujar Sean.


Dengan sigap anak buah Sean mengikat pria tua itu disamping orang suruhannya.


"Buka tutup matanya!",ujar Sean diangguki oleh orang-orangnya.


"Selamat datang di markas ku Gunatama",ucap Sean merentangkan kedua tanahnya.


"Kau...jadi ini ulahmu?",geram Gunatama.


"Menurutmu?",ujar Sean tersenyum evil.


"Dasar bocah ingusan... beraninya kau menangkap ku",umpat Gunatama.


"Silahkan mengumpat sesuka hatimu Gunatama sebelum malaikat maut mu datang menjemputmu",ujar Sean.


"Sialan kau Josean...",teriak Gunatama.


"Hahahaha...ini lah jika berani mengusik seorang Alatas",jawab Sean.


"Aku ini Kakek mertuamu asal kau tau",geram Gunatama.


"Ya..."


"Kakek mertua macam apa kau Gunatama bahkan kau tak menganggap istiriku adalah cucumu dari ia lahir sampai sekarang.Bahkan dengan kejinya kau merencanakan pembunuhan untuk cucumu sendiri",teriak Sean yang sudah emosi.


"Sean..."


"Kakek?",gumam Sean saat melihat Kakek Alatas datang bersama Morgan.


"Kenapa kamu tak mengabari jika cucu menantuku hampir saja mengalami musibah",gerutu Kekek Alatas.


"Maaf Kek...Sean sendiri yang akan menyelesaikan",jawab Sean menatap tajam Gunatama.


"Gunatama... ternyata kau belum juga berubah",ucap Kakek Alatas tersenyum miring.


"Kau...


"Ya ini aku...bagaimana jika kita bersenang senang cucuku.Setelah puas kita jebloskan pria tua ini ke penjara biar di mati membusuk disana",ujar Kakek Alatas pada sang cucu.


Morgan bergidik ngeri medengar ucapan pria tua yang sudah ia anggap kakeknya sendiri.Ia tau betul siapa Kakek Alatas yang merupakan mantan mafia yang paling di takuti di zamannya dulu.


"Ya Kek...ide yang bagus",jawab Sean.


Morgan segera meninggalkan ruangan itu karena ia tak yakin Gunatama akan keluar dengan selamat dari ruangan itu.


"Morgan..."


"Ya Om...",jawab Morgan saat Papa Ferdian berjalan menghampirinya.


"Dimana Daddy dan Sean?",tanya Papa Ferdian.


"Ada diruangan bawah tanah Om",jawab Morgan.

__ADS_1


"Ruangan bawah tanah?",beo Papa Ferdian.


"Ya disana juga ada Gunatama",jawab Morgan


"Apa? Gu-na-tama?",tanya Papa Ferdian.


"Ya Om..",jawab Morgan tersenyum tipis.


"Lalu kamu mau kemana?",tanya Papa Ferdian pada sahabat sekaligus asisten putranya itu.


"Ke kantor dulu Om,satu jam lagi ada meeting",jawab Morgan beralasan.


"Oh..."jawab Papa Ferdian beroh ria.


"Saya balik dulu Om",ujar Morgan dengan sopan.


"Ya silahkan...!",jawab Papa Ferdian.


Papa Ferdian memasuki rumahnya bawah tanah itu.Dari kejauhan ia telah mendengar jerit dan permohonan ampunan serta tawa dari seseorang yang ia duga putranya.


Papa Ferdian bergidik ngeri melihat betapa kejam sang anak pada musuhnya.


"Hentikan...aku mohon!",rintih Gunatama.


"Itu belum seberapa atas apa yang telah kau lakukan selama ini pada istiriku Gunatama",teriak Sean.


"Josean...kau akan menyesal Sean jika sampai istrimu tau apa yang telah kau lakukan pad Kakeknya",ujar Gunatama.


"Hahaha...itu tidak akan terjadi malah sebaliknya istiriku akan jauh lebih membencimu karena kau telah membuangnya dan berusaha melenyapkannya",jawab Sean.


"Kau ini iblis berwujud manusia Gunatama",teriak Kakek Alatas kembali mencambuk tubuh Gunatama.


"Daddy..."


Kakek Alatas menoleh pada putranya yang sudah berdiri tak jauh dari mereka.


"Kamu mau ikut kami bersenang senang anakku", ucap Kakek Alatas.


"Tidak Dad, terimakasih",jawab Papa Ferdian yang duduk dikursi yang tadinya diduduki boleh Sean.


"Hubungi komandan Wahid Ansari untuk membawa orangtua ini ke penjara"ujar Kakek Alatas.


"Baiklah Dad...",jawab Papa Ferdian mengambil ponsel untuk menelfon orang yang dimaksud Daddy-nya itu.


Sementara itu diruang sakit Anaya menemui wanita yang telah melahirkannya yang terbaring lemah diatas brangkar rumah sakit.


"Anaya...",lirih Indi dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.


"Ma-mama...",lirih Anaya berjalan perlahan kearah Mananya itu.


Lola yang berdiri tak jauh dari Anaya tampak terharu dengan pertemuan ibu dan anak itu.


"Maafkan Mama nak",lirih Indi menggengam tanah Anaya dengan lembut.


"Ya Ma... bagaimana dengan keadaan Mama",hanya Anaya.


"Mama baik baik saja sayang yang terpenting kamu baik bain saja",lirih Indi.


"Gak seharusnya Mama--


"Itu kewajiban seorang ibu melindungi anaknya sayang",jawab Indi dengan tersenyum tipis.


"Ma...tapi gak seharusnya Mama berkorban demi aku",lrirh. Anaya.


"Itu lah seorang ibu yang rela merelakan keselamatannya demi anaknya",jawab Indi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2