
Pagi ini Anaya tengah duduk ditaman belakang mansion guna menjemur baby Arka dibawah sinar matahari.Sedangkan Sean sudah berangkat pagi pagi sekali karena ada meeting dengan investor luar negeri.
Sedangkan mertuanya sudah kembali ke mansion mareka tadi malam.Anaya duduk sembari menatap baby Arka yang tampak anteng.
"Nona sebaiknya baby Arka dibawa masuk matahari sudah sedikit tinggi",ujar Pak Man yang dipercaya Sean untuk memantau sang istri.
"Begitu ya Pak...baiklah.Oh ya apakah Mas Sean sudah mengatakan pada Pak Man perihal saya perlu bantuan istri Pak Man untuk bantu bantu menjaga Arka",ujar Anaya pada kepala pelayan itu.
"Oh...belum Nona",jawab Pak Man membantu mendorong stloler baby Arka sedangkan Arka berada dalam gendongan Anaya.
"Jadi bagaimana Pak apa boleh Ibuk membantu saya disini.Saya kurang percaya dengan baby sitter dari yayasan karena banyaknya kejadian yang tidak diinginkan yang begitu marak terjadi sekarang",ujar Anaya.
"Saya akan tanyakan dulu pada istri saya Nona",jawab Pak Man.
"Saya harap bisa ya Pak",ujar Anaya.
"Insyaallah Nona",jawab Pak Man.
"Saya tinggal dulu ya Pak mau mandiin Arka dulu",ujar Anaya meninggalkan Pak Man yang tersenyum tipis.
Setibanya di kamar Anaya langsung memandikan Arka di bak khusus bayi.Wanita itu meski sedikit kaku tapi begitu menikmati perannya sebagai ibu baru.Baby Arka pun hanya merengek pelan karena terkejut akan dinginnya air.
Setelah selesai Anaya menyusui Arka hingga bayi itu terlelap tidur.Anaya menidurkan Arka ditempat tidurnya setelah itu.
Setelah memastikan Arka tidur dengan nyaman Anaya memasuki kamarnya untuk mandi.
***
Di kantor Sean tengah berdiskusi dengan Morgan mengenai Kakek kandung Anaya yaitu Gunatama yang masih saja menganggu sang istri.
"Bagaimana menurutmu?",tanya Sean.
"Kamu yakin Sean lalu bagaimana dengan Anaya jika ia tahu nantinya",jawab Morgan.
"Aku yakin...Anaya menjadi urusanku",jawab Sean.
"Baiklah...oh ya bagaimana dengan Sekar apakah wanita itu masih hidup?",tanya Morgan.
"Kenapa? apakah kamu menyukainya?",tanya Sean tersenyum tipis.
__ADS_1
"Ck...ya enggaklah...Lola jauh lebih baik darinya",ujar Morgan.
"Harusnya wanita itu masih hidup karena disana ia menjadi apa yang sering ia lakukan untuk menaikkan popularitasnya",jawab Sean.
"Maksudmu dia menjadi ****** disana?",tanya Morgan yang begitu terkejut.
"Lebih dari itu.Karena itu hukuman yang lebih pantas ia dapatkan atas apa yang ia perbuat pada Anaya.Aku membuat wanita itu sendiri yang menginginkan kematiannya",jawab Sean.
"Gila...kamu benar benar gila Sean dia itu kakak ipar kamu Sean",ujar Morgan.
"Hmmm...itulah hukuman berani mengusik dan mencelakai istriku",ujar Sean tersenyum smirk membuat Morgan bergidik ngeri.
"Oh ya atur pertemuanku dengan Indi!",ujar Sean.
"Apalagi ini Sean...?",tanya Morgan.
"Kamu atur saja",jawab Sean.
"Huh...baiklah",jawab Morgan pasrah.
Morgan berjalan menuju ruangan tapi pria itu mengehentikan langkahnya saat melihat wajah kusut Robi.
"Ada apa, hum?",tanya Morgan.
"Wajahmu kenapa kusut gitu?",tanya Morgan.
"Oh ini ada sedikit naskah pribadi Pak",jawab Robi.
"Patah hati?",tanya Morgan.
Robi hanya tersenyum tipis dan tampak mengangguk pelan.
"Sudah...dunia ini tak selebar daun kelor.Masih banyak wanita diluaran sana",jawab Robi memberi semangat sekretaris Sean itu.
"Ya Pak...",jawab Robi.
Wah ada kesempatan ini Seena...ngejar cinta Robiπππ
"Oh ya Rob,aku minta jadwal Sean untuk besok karena kita harus mengosongkan jam untuknya",ucap Morgan.
__ADS_1
"Nanti saya emailkan Pak",jawab Robi.
"Oke saya tunggu.Ingat...masih banyak wanita diluaran sana, jangan menangisi seorang ******",ujar Morgan membuat Robi membola seketika.
Sekretaris Sean itu terkejut dengan ucapan Morgan tadi.Karena apa yang dikatakan Morgan benar adanya ia dikhianati oleh kekasihnya sendiri.Bahkan pernikahan yang akan dilangsungkan 6 bulan lagi harus batal.
Jangan jangan Seena benar benar nikung di sepertiga malam nihππ€π€
Dimansion Anaya sedang menimang Arka yang entah kenapa tiba-tiba saja rewel.Padahal ia baru saja mengganti popok anaknya itu.
Anaya tampak frustasi karena Arka menolak susunya.Bayi itu makan menangis keras sehingga Anaya meminta Sean untuk pulang.Barangkali anaknya itu rindu dengan Daddy-nya.
"Naya...ada apa dengan Arka nak?",tanya Nyonya Anita memasuki kamar sang cucu.Oa ditelfon Sean untuk dimintai tolong karena Arka tak mau berhenti menangis.
"Gak tau Ma...Arka gak mau menyusu dan terus saja menangisi dan tak mau berhenti",jawab Anaya.
"Sini biar Mama gendong",ujar Nyonya Anita menarik Arka yang menangis dari pelukan Anaya.
Bukannya berhenti bayi itu tetap saja menangis.Tak lama Sean datang dan mendekati sang anak.Sungguh ajaib Arka langsung diam membuat Anaya dan Nyonya Anita saling pandang.
"Mas...kayaknya dia gak mau jauh dari kamu",ujar Anaya saat melihat sang anak yang di dalam dekapan ibu mertuanya.
"Iya nih...kayaknya Arka rindu sama Daddy ya nak",sambung Nyonya Anita.
"Mas...ganti baju dulu terus mandi baru gendong Arka",ujar Anaya.
"Ya sayang...Daddy mandi dulu ya nak",ucap Sean mengecup pipi gembul Arka.
Setelah selesai Sean langsung menggendong Arka yang tampak masih merengek dalam pelukan sang istri.
Arka langsung diam saat digendong Daddy-nya."Kangen sama Daddy ya sayang?",ujar Sean.
Bayi merah itu tampak mengedipkan keduanya matanya.
"Mas... lihatlah dia mengedipkan matanya",ujar Anaya.
"Ya sayang...",jawab Sean.
"Oh ya Nay...besok siang kita ketemu sama Tante Indi",ujar Sean yang hampir lupa.
__ADS_1
"Ya Mas...",lirih Anaya.
...****************...