
Sean mengecup pucuk kepala sang istri dan tersenyum."Aku yang harus berterima kasih padamu yang sudah mau menjalani pernikahan ini dengan sesungguhnya",jawab Sean.
"Ya Mas..."
"Ayo kita sarapan",Sean menarik kursi untuk Anaya.
Mereka sarapan dengan lahap,hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring yang terdengar.
"Oh ya Nay surat perjanjian kita kamu taruh dimana?",tanya Sean yang mengakhiri sarapannya.
"Ada di kamar di dalam laci nakas Mas,kenapa emangnya?",tanya Anaya meminum jus jeruk yang sudah disiapkan oleh Sean.
"Mau aku robek, perjanjian itu kan udah gak berlaku lagi", ucap Sean.
"Biarin aja Mas,orang aku belum tanda tangan",jawab Anaya enteng.
"Serius?"
"Heemm..."
"Kenapa?",tanya Sean menatap sang istri yang sudah menyelesaikan sarapannya.
"Gak tau...males aja waktu itu",kilah Anaya.
"Oh..."
Anaya hendak mengangkat piring kotor kebelakang namun tiba tiba Sean menariknya dan duduk di pangkuannya."Mas...aku mau bawa piring kotor ini ke belakang",ucap Anaya dengan terbata bata.
"Biarkan saja sebentar lagi para pelayan akan datang,biarkan mereka yang membereskannya", bisik Sean menyembunyikan wajahnya di tengkuk Anaya.
"Mas...geli",ucap Anaya sedikit menggigit bibirnya menahan suara laknatnya.
"Aku menginginkannya",bisik Sean dengan suara serak dan langsung menggendong Anaya ala bridal style menuju kamar mereka.
Anaya mengkaitkan kedua tangannya dileher Sean karena takut terjatuh.Dia menatap pria tampan itu dari jarak begitu dekat.Rasanya ia sedang bermimpi memiliki suami yang begitu sangat sempurna parasnya.
"Apa yang kamu pikirkan,hum?", ujar Sean saat ia memasuki lift menuju kamar mereka.
Anaya gelagapan terciduk sedang mengagumi sang suami."Ti-tidak aku ha-hanya-
"Hanya apa,hum?",Sean mengecup bibir istrinya sekilas karena gemas dengan kelakuan Anaya.
"Mas turunin", rengek Anaya.
__ADS_1
"Tidak..."
"Tapi aku berat Mas",jawab Anaya yang merasa tak nyaman dalam gendongannya Sean.Ia begitu malu karena diperlakukan seperti ini.
"Aku tak merasa kamu itu berat",jawab Sean menatap sang istri dalam membuat Anaya semakin salah tingkah.
Saat pintu lift terbuka Sean langsung membawa sang istri ke kamar mereka bukan kamar yang mereka tempati semalam.Sean mendudukan Anaya pelan suara ranjang mereka dengan perlahan.Sean menatap sang istri dengan pandangan sayu.Perlahan Sean merebahkan tubuh Anaya dan mencium lembut bibir yang sudah menjadi candunya itu.Jadilah pagi itu mereka kembali menyatukan diri saling memuaskan satu sama lain.
Sean mengecup kening sang istri setelah melepaskan penyatuan mereka.Nafas mereka saling memburu.Pria itu membawa tubuh sang istri ke dalam pelukannya.Dia melirik sekilas jam diatas nakas lalu tersenyum tiga jam ia menggagahi sang istri.Ia menatap kembali wajah sang istri yang terlihat begitu kelelahan melayaninya.
Anaya kembali tertidur dalam dekapan Sean membuat pria itu tersenyum bahagia.Akhirnya ia bisa menjadikannya istrinya yang sesungguhnya semenjak tadi malam.
"Maaf kan aku membuatmu kelelahan",bisik Sean walau ia tau tak didengar sang istri yang sudah masuk kedalam dunia mimpinya.
Sean makin mempererat pelukannya dan mengusap lembut surai sang istri yang berantakan."Aku janji takkan melepaskanmu Naya",ucap Sean dalam hati.
Sean melepaskan pelukannya dengan perlahan lalu mengambil jubahnya lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.Sebelum itu ia memastikan sang istri tidur dengan nyaman lebih dahulu.
Setelah selesai dengan ritual mandinya pria itu memakai pakaiannya lalu mengambil laptopnya dan duduk disofa menghadap ranjang mereka.Sean tersenyum melihat sang istri tertidur dengan pulasnya.Dia membuka laptopnya dan membaca email yang dikirim Morgan padanya tadi pagi.Pria itu mengeraskan rahangnya saat membaca email dari Morgan.
"Shitt...aku takkan mengampunimu",desis Sean mengepalkan kedua tangannya.
Sean menghubungi Morgan sang asisten untuk mengurus kecurangan yang dilakukan oleh salah satu direktur perusahaaannya.
Klik
Sean mengusap wajahnya dengan kasar ia tak menyangka Pak Darma ayah dari Jessica melakukan penyucian uang di perusahaannya.Selama ini ia tau pria paruh baya itu bekerja sangat jujur.Entah apa yang ia pikirkan sehingga melakukan hal yang akan menghancurkan karirnya selama ini.
Sean menatap sang istri yang menggeliat dari tidurnya.Pria itu meletakkan laptopnya lalu berjalan menuju ranjang dimana sang istri tengah membuka mata mencari keberadaannya."Sudah bangun?",ucap Sean mengusap pucuk kepala sang istri dengan lembut.
Anaya mengangguk pelan dan tersipu malu.Wanita itu mengeratkan selimut yang menutupi tubuhnya bagian dada kebawah.
"Mau mandi?", tanya Sean.
"Ya...",jawab Anaya.
Sean mengangkat tubuh sang istri membuat Anaya terpekik akibat kelakuan sang suami.
"Mas...apa yang kamu lakukan",pekik Anaya.
"Membantumu ke kamar mandi",jawab Sean.
"Aku bisa sendiri Mas",ujar Anaya.
__ADS_1
"Kamu yakin bisa berjalan dengan baik,hum?",bisik Sean membuat Anaya melotot.Ia baru ingat jika sang suami menggempurnya dalam waktu yang cukup lama.
Sean mendudukkan Anaya di kloset kamar mandi dengan perlahan."Apa masih sakit?",tanya Sean.
"Sudah tidak terlalu Mas",jawab Anaya.
"Syukurlah...mau berendam dulu",Sean menunjuk bathtub yang sudah ia isi dengan air tadi.
"Tidak Mas,aku mau langsung mandi saja",elak Anaya.
"Baiklah aku keluar dulu kalau sudah selesai kamu panggil saja ya",ucap Sean mengecup pucuk kepala Anaya.
"Ya Mas..."
Anaya melihat punggung sang suami yang hilang dibalik pintu kamar mandi.Sebuah senyuman terukir di bibirnya mengingat perlakuan Sean padanya.Ia merasa diratu kan oleh Sean.
Wanita itu bangkit dari duduknya menuju shower dengan langkah perlahan karena **** ************* masih terasa sedikit perih.
Setelah selesai dengan ritual mandinya Anaya menyembulkan kepalanya dibalik pintu kamar mandi memanggil Sean untuk minta tolong di ambilkan handuk kimono miliknya.Namun tak ada sahutan sama sekali dari pria itu.Anaya memutuskan membalut tubuhnya dengan handuk.
Wanita itu melangkah dengan perlahan keluar dari kamar mandi bersama dengan Sean memasuki kamar membawakan segelas susu.
"Sudah selesai?",tanya Sean meletakan susu itu diatas nakas.
Anaya mengangguk pelan."Sudah Mas...",jawab Anaya.
"Bajumu sudah aku siapkan diruang ganti",ujar Sean tersenyum tulus pada sang istri.
"Hah?. Harusnya aku yang menyiapkan bajumu Mas bukan malah sebaliknya",jawab Anaya merasa tidak becus menjadi seorang istri.
"Untuk hari ini setelah aku kembali bekerja kamulah yang menyiapkan pakaianku.Hanya pakaianku tidak dengan yang lainnya kamu istriku bukan pembantuku",ucap Sean.
"Tapi...
"Tak ada penolakan Naya...",tegas Sean.
"Berpakaianlah kita ke kantor sebentar setelah itu aku akan membawamu ke suatu tempat", timpal Sean dan diangguki oleh Anaya.
Setelah Anaya menghilang di balik pintu ponsel Sean berdering panggilan masuk dari sang Ayah.
Sean ke kantor sekarang
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya ya Reader kesayangan ku