
"Hanya beberapa bulan, Bu. Tidak akan sampai setahun. Ibu tidak usah khawatir, yang di pindahkan ke sana bukan hanya aku saja, tapi juga dua sahabat perempuan di kantor. Jadi, aku akan baik-baik saja di sana. Ibu tidak perlu pikirkan keadaanku. Aku berjanji akan menjaga diriku selama di sana," jawab Lisha meyakinkan sang ibu.
"Ibu kenapa menangis?" Tanya Lisha sambil menyeka tetesan air yang membasahi pipi keriput sang ibu.
"Kamu pergi pasti demi ibu. Maafkan ibu, nak. Ibu hanya bisa menyusahkanmu dan membuatmu harus bekerja keras," jawab Ibu Santi lemah.
"Ibu, ibu tidak boleh berbicara seperti itu. Apa yang sekarang aku lakukan, itu tidak ada bandingannya sedikit pun dengan jasa ibu yang mengandungku, melahirkanku, menyusui, serta merawatku hingga sebesar ini. Apa yang aku lakukan saat, hanyalah bagian kecil daripada apa yang ibu lakukan untukku dulu. Dan saat ini aku sudah dewasa, sudah sewajibnya aku yang merawat ibu dan berusaha membalas semua jasa-jasa ibu. Yang lebih penting membanggakan dan membuat Ibu bahagia," jawab Lisha menjelaskan panjang lebar.
"Kebahagiaan seorang ibu adalah ketika melihat anaknya bahagia. Sedangkan Kesedihan seorang ibu adalah melihat anaknya terluka dan menderita. Ibu harap, kamu bahagia dengan pilihanmu, nak. Sekali lagi maaf karena ibu tidak bisa membahagiakanmu,"
"Aku sangat bahagia ketika ibu sehat dan tersenyum. Hanya hal itu yang akan membuatku bahagia, jadi, aku mohon berjuanglah melawan sakit ibu demi kebahagiaanku," sambung Lisha langsung memeluk erat tubuh kurus sang ibu.
"Pasti, nak. Jaga dirimu selama di sana. Kapan kamu akan berangkat?" Tanya Ibu Santi ketika melepaskan pelukannya.
Sebelum menjawab, Lisha melirikkan matanya ke jam bulat yang ada di dinding rumah sakit.
"Sekarang, Bu. Lisha akan langsung berangkat sekarang agar tidak ketinggalan pesawat." Jawab Lisha dengan raut wajah sedihnya.
"Aku pasti akan merindukan, Ibu." Ujar Lisha kembali memeluk erat ibunya.
"Ingat pesan ibu, nak. Jaga dirimu baik-baik,"
"Iya, Ibu," jawab Lisha melepaskan pulukkan ibunya.
Selesai berpamit dengan sang ibu, Lisha berjalan pelan mendekati adiknya, Casey.
"Casey sayang," panggil Lisha sendu.
__ADS_1
"Kakak mau pergi, ya? Tidak apa-apa, kakak. Aku akan menjaga ibu baik-baik," ujar Casey dengan segala keimutannya membuat dia begitu tak tega akan meninggalkan adik kesayangannya.
"Terima kasih, Dek. Kamu juga jaga diri, ya, sayang. Suster Lara akan selalu di sini buat nemenin kamu, kamu nggak akan kesepian," ujar Lisha memeluk erat tubuh mungil sang adik.
"Casey sayang kakak," Jawab Casey akhirnya meluncurkan air mata yang sedari tadi dia tahan ketika menyimak pembicaraan ibu dan kakaknya. Usia yang sudah menginjak 6 tahun, membuat gadis kecil itu setidaknya mengerti kalau dia akan ditinggalkan sang kakak dalam waktu yang lama.
"Kakak juga sayang Casey. Yasudah kalau begitu kakak pergi ya. Ingat untuk menjaga diri baik-baik, ya,"
"Siap, kakak. Kakak tidak usah khawatir," jawab Casey yang lebih dewasa dari usianya.
"Dadah, Casey. Dadah, ibu." Ujar Lisha melambaikkan tangannya dengan rentetan air mata yang seakan tidak ada hentinya.
Begitu menutup pintu ruang rawat sang Ibu, Lisha langsung berlari di koridor rumah sakit.
"Kakak!" Teriak Casey menghentikan langkah kaki Lisha. Dia membalikkan badanya, lalu berjongkok, dan menangkap tubuh kecil sang adik yang ternyata mengejarnya untuk menyusul dirinya.
"Dek, jangan sedih, ya. Kakak pasti akan pulang secepatnya, kok. Kamu sabar, ya, sayang. Setelah pulang nanti, kakak janji kita akan hidup bahagia seperti keluarga teman-temanmu." Jelas Lisha berusaha membuat adiknya mengerti.
Casey melepaskan pelukannya, menatap kedua bola mata Lisha dengan serius. Mata indah dengan bola mata coklat itu, berbinar membuat Lisha semakin merasa bersalah, karena harus meninggalkan adiknya dengan penderitaan kedepan yang entah akan seperti apa.
"Janji, ya, Kak?" Ucapnya mengulurkan jari kelingking kecilnya.
"Janji, Sayang," jawab Lisha menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking sang adik.
"Kakak sudah boleh pergi," ucap Casey lalu berbalik badan, kemudian berlari menuju ruang rawat Ibunya.
Lisha hanya dapat mengulurkan tangannya, melepaskan kepergian sang adik dengan perasaan yang tidak rela.
__ADS_1
Menghapus air mata, lalu memantapkan hatinya untuk yakin, Lisha pun membalikkan badanya ketika badan sang adik sudah tak lagi nampak karena sudah masuk ke dalam ruang rawat.
Berjalan gontai, Lisha kembali melanjutkan langkah kakinya. Di belakangnya, tampak seorang gadis kecil yang tengah mengintip dari balik daun pintu yang sedikit dia buka.
Sesekali dia menghapus air mata yang membanjiri pipinya kala melepas kepergian sang kakak yang entah ke mana karena dia sendiri tidak tau.
***
Mansion Stewart.
"Akhirnya kamu datang juga, hampir saat telat semenit. Kalau sampai telat walau semenit. Biaya pengobatan ibumu yang akan aku potong," oceh Nyonya Mina berdiri sambil berpangku tangan di depan pintu utama.
Lisha tak menjawab, namun wajahnya merautkan kesedihan yang begitu besar kala mendengar ucapan Nyonya Mina. Terlambat semenit saja maka biaya pengobatan Ibunya yang akan dipotong. Di sini Lisha menyadari kalau dirinya telah salah mengambil langkah. Namun apa boleh dikata, karena dari awal Lisha memang telah salah melangkah.
"Lili!" Teriak Nyonya Mina kepada kepala pelayan di Mansionnya.
"Iya, Nyonya," Jawab wanita paruh baya yang kira-kira berusia 40 tahun.
"Bawa gadis ini ke dalam kamarnya. Dan panggilkan dr. Yuna untuk mengecek keadaannya juga mengajarkannya bagaimana cara melayani putraku," titah Nyonya Mina membuat Lisha meneguk saliva bersusah payah.
.
.
.
.
__ADS_1