
"Mommy ingin punya Cucu secepat mungkin," pinta Nyonya Mina to the point.
"Cucu yang dapat Mommy gunakan untuk menguasai seluruh harta keluarga Zayn." Sindir Ansel kesal.
"Itu semua Mommy lakukan juga untuk kamu Ansel." Tegas Nyonya Mina.
"Dan sudah berapa kali aku katakan kepada Mommy kalau aku tidak menginginkan semua itu," saut Ansel langsung berdiri untuk kembali ke kamarnya di lantai atas.
Sesungguhnya Ansel merasa begitu bosan karena setiap hari harus berdebat dengan Sang Mommy yang selalu membicarakan soal kehadiran seorang Cucu.
Ansel tau, yang sebenarnya Mommy-nya inginkan bukanlah hanya sekadar Cucu biasa, melainkan seorang Cucu laki-laki yang dapat dia gunakan untuk menguasai seluruh harta kekayaan keluarga Zayn.
Zayn Grup adalah perusahaan terbesar di dunia. Zayn Grup adalah perusahaan milik mertua Ansel yang telah meninggal Dunia.
Eriska Zayn adalah istri pertama Ansel. Eris yang selalu hidup bebas tentu tidak akan bisa menjaga Zayn Grup tetap berada di tangannya. Untuk itulah Eriska menikahi Ansel karena dia tau kehebatan Ansel.
Eriska datang dengan menawarkan bantuan kepada Stewart Grup yang saat itu sedang mengalami masalah keuangan, karena Ansel yang depresi akibat putus cinta, hingga lalai menangani Stewart Grup.
__ADS_1
Eriska menawarkan bantuan yang membuat Nyonya Mina senang. Namun, Eriska memberikan syarat untuk Ansel menikahinya, agar dapat membantunya mengurusi perusahaan almarhum keluarganya.
Dan hingga sekarang Zayn Grup masih di kendalikan oleh Ansel. Meski CEO dari Zayn Grup tetaplah Eriska, tapi setiap tindakan yang Eriska lakukan atas perintah Ansel.
Sedangkan Ansel tetap bisa mengelola hotel-hotelnya dengan baik. Bahkan Ansel telah mengembalikan uang yang Eriska pinjamkan kepadanya. Namun Eriska tidak ingin melepaskan Ansel, karena dia ingin terus hidup mewah, tanpa harus bersusah payah.
Dan kehadiran seorang Cucu, sebenarnya bukan hanya keinginan Nyonya Mina, tapi juga keinginan Eriska. Namun, Eriska tidak ingin mengandung. Karena hal itulah Eriska sendirilah yang memberikan ide kepada Nyonya Mina untuk mencarikan wanita yang dapat mereka jadikan boneka sekaligus mesin pembuat anak. Dan wanita pilihan mereka jatuh kepada Lisha, seorang gadis polos dan juga lemah.
Di kamar tamu.
"A-ansel tidak menginginkan saya, Nyonya," jawab Lisha jujur.
"Memangnya siapa juga yang menginginkan wanita sepertimu! Untuk itulah kamu harus bisa menggoda Ansel, bagimana pun caranya. Apa kamu tidak ingin operasi Ibumu cepat dilakukan? Apa kamu ingin melihat hidup Ibumu berakhir karena kelalaian kamu sendiri!?"
"Tidak Nyonya saya mohon jangan katakan itu lagi. Sa-saya akan mencobanya sekali lagi." Potong Lisha langsung turun dari ranjang, dan segera menuju lantai atas di mana kamar Ansel berada.
Setelah kepergian Lisha, Nyonya Mina tersenyum senang, karena tidak lama lagi rencananya akan segera berjalan dengan lancar.
__ADS_1
Lisha berlari menuju lift dan mengabaikan rasa sakitnya. Dia terus berlari hingga tiba di lift dengan wajahnya yang pucat dan berlinang air mata.
"Ibu, Lisha segera datang. Lisha mohon bertahanlah Ibu," gumam Lisha lalu keluar dari lift karena telah tiba di lantai atas.
Lisha kembali melewati lorong demi lorong dengan bergandengan dari dinding ke dinding. Yang dia pikirankan hanyalah satu, dia harus cepat tiba di kamar Ansel dan harus berhasil menggoda Ansel hingga mau untuk berhubungan intim dengannya. Dosa Lisha nomor-dua'kan. Yang terpenting dia harus cepat hamil dan menyelamatkan nyawa Ibunya.
Tok ... Tok ... Tok ....
Lisha mengetuk pintu cukup lama hingga akhirnya pintu pun dibuka oleh Ansel. Melihat Ansel dihadapannya, tanpa ragu Lisha langsung memeluk Ansel.
.
.
.
.
__ADS_1