
"Emm," suara aneh itu tak dapat Lisha tahan, saat Ansel mulai mer*mas kedua gundukkannya dengan begitu gemas.
Ansel tersenyum penuh kemenangan, melihat Sang lawan merespon dan menikmati apa yang kini dia lakukan.
Dulunya, Ansel adalah seorang CEO yang begitu ramah, baik hati, penyabar, serta penyayang. Cinta yang bertepuk sebelah tangan, mampu mengubahnya hingga seratus sembilan puluh derajat. Kini, Ansel telah berubah menjadi seorang CEO yang kenal kejam dan juga arogan.
Walau sifatnya begitu banyak berubah, hanya satu hal yang tak bisa Ansel rubah hingga saat ini. Yaitu, dirinya yang tidak mampu mengalahkan alkohol. Seteguk saja alkohol yang dia konsumsi. Maka, dia akan langsung tak sadarkan diri. Sama seperti yang terjadi kepadanya kini, dia kehilangan kesadaran, hingga menjadi seseorang yang berhalusinasi tingkat tinggi.
Saat ini, Ansel melepas tali bra milik Lisha, setelahnya melempar dal*man berbentuk kacamata itu ke sembarang arah. Hingga kedua gundukkan sintal, padat, dan besar itu, berdiri tegak menantang Ansel. Membuat pria berambut gondrong yang masih terikat rapi itu, tak sabaran ingin memainkan dan juga bercumbu.
"Ahh ...." Gelenyar aneh itu kembali Lisha rasakan, membuat bunga-bunga dihatinya terus bermekaran.
"Malam ini, kamu akan menjadi milikku seutuhnya," bisik Ansel mesra di telinga Lisha. Lisha masih menutup rapat mulutnya, dia hanya menganggukkan kepalanya guna mengiyakan perkataan Ansel, Lisha masih tak ingin membuka mulut dan membuat suara erotisnya keluar semakin menjadi.
__ADS_1
"Keluarkan saja, jangan ditahan, Sayang." Ujar Ansel menatap Lisha sekilas, kemudian kembali fokus pada salah-satu chocochip milik Lisha. Ansel Mencium, Mel*mat, bahkan sedikit meng*gitnya lembut.
"Ahh, geli ...." Desis Lisha beringsut menghindari permainan Ansel yang membuatnya melayang di udara.
Jika Lisha mudur maka Ansel akan maju. Ansel kembali bermain di dua gundukkan Lisha yang membuatnya tak kunjung puas menikmati. Sedangkan Lisha terus bergumam tak karuan, membuat Ansel semakin bersemangat.
Kini, Ansel menurunkan salah satu tangannya, menyusupkan tangan laknat itu ke dalam CD yang masih melekat di bagian bawah tubuh sensitif Lisha.
"Ahhh, A-ahnsel ...." Erang Lisha sambil menggelengkan kepalanya kala tangan laknat Ansel mengusap pelan bagian sensitif itu.
Lisha mencengkram kuat selimutnya kala salah satu jari Ansel mencoba menerobos liang lahat miliknya.
"A-ansel, le-lepaskann ... Ahh, sakitt ...." Lisha berdesis tak karuan.
__ADS_1
Ansel tak peduli, jarinya terus menjelajah di bawah sana, sementara mulutnya tak berhenti bermain di dua chocochip milik Lisha.
"Apa ini, ya, Tuhan. Kenapa tubuhku malah menikmati permainan lelaki bejat ini. Tolong yakinkan aku, bahwa aku tidak mencintainya, aku mohon, aku tidak ingin mencintainya. Tolong biarkan aku membencinya ya Tuhan, aku mohon ...." Lisha berucap dalam hati, dia begitu membenci dirinya yang kini malah terbuai akan permainan yang Ansel lakukan. Beginikah cara orang-orang dewasa mencapai puncak dalam cinta. Yang kini Lisha rasakan, benarkah cinta atau hanya n*fsu semata.
Mau cinta atau n*fsu semata, Lisha tak lagi peduli. Dia hanya perlu melakukan hal ini demi nyawa Sang Ibu. Lisha sudah siap apa pun hukuman maupun karma yang akan dia dapatkan nanti, Lisha rela dan ikhlas menjalankan semuanya.
"Aaaakh!" Lisha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dirinya malu atas apa yang baru saja terjadi kepada tubuhnya. Tubuh Lisha menggelinjang hebat, deru napasnya semakin tak beraturan. Ini pertama kalinya Lisha merasakan hal aneh sekaligus melegakan tadi. Ansel berhasil membuatnya lemah tak berdaya usai mancapai puncak, hanya dengan permainan jari Ansel.
Ansel menurunkan kedua tangan Lisha, kemudian menyeka keringat yang membanjiri kening itu, lalu mengecup kening Lisha dengan penuh cinta dan kelembutan.
Lisha memandang Ansel dengan air mata yang tak kunjung habisnya. Andai Ansel sadar bahwa dirinya adalah Lisha bukanlah Lona seperti yang dia halusinasikan, mungkin saat itu juga Ansel akan menyeretnya, menyiksa, bahkan mungkin membunuh dirinya.
"Aku tidak tahan, Ansel. Aku mohon lakukan segera." Pinta Lisha dengan mata berbinar dan napas yang tersengal.
__ADS_1