Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 60


__ADS_3

"Sudah cukup, Ansel. Aku sudah sangat kenyang," cegah Lisha saat Ansel kembali akan menyuapinya.


"Kenapa? Apakah makanan ini tidak sesuai seleramu? Bukankah sebelumnya kamu makan banyak?"


"Entahlah, aku juga tidak mengerti. Sepertinya karena kelelahan hingga napsu makanku sering berubah-ubah sesuai dengan mood," Lisha menjawab lalu menerima gelas berisi air minum yang Ansel ulurkan.


"Bagaimana perasaanmu? Apakah sudah lebih baik?" Ansel meletakkan piring dan gelas ke atas nakas.


"Iya, aku merasa sudah lebih baik. Tapi, apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa tubuhku menjadi terasa pegal-pegal?" Lisha mencoba bertanya sekali lagi. Dia berharap untuk kali ini Ansel akan menjawabnya dengan jujur dan tak lagi menghindar.


"Tidak ada hal yang terjadi. Tubuhmu hanya lelah saja, apa perlu ke rumah sakit?'


"Tidak perlu, lagian hanya lelah saja. Setelah beristirahat aku akan merasa lebih baik," jawab Lisha menolak.


"Baik, sekarang istirahatlah. Setelah ini, ingatlah untuk tidak pergi ke mana pun tanpa aku," kata Ansel menyelimuti Lisha agar tetap hangat. Lisha sempat memikirkan kalimat terakhir Ansel. Namun, mengantuk membuatnya mengabaikan kalimat Ansel dan lebih memilih memejamkan matanya.

__ADS_1


"Setelah ini, aku tidak akan mengizinkanmu pergi ke mana pun tanpa aku, Lisha. Andai aku lebih memilih menemanimu daripada pekerjaan, hal seperti pasti ini tidak akan terjadi kepadamu. Maafkan aku Lisha, aku menyesal," Batin Ansel.


Setelah itu, Ansel juga ikut naik ke atas ranjang. Menyusul Lisha yang telah lebih dulu mengarungi dunia mimpi.


Pukul 00:00


"Ibu, Ibu Lisha mohon jangan tinggalin Lisha. Casey, Casey kamu mau ke mana dek? Kakak mohon jangan pergi! Ibu! Casey!" Teriak Lisha kencang membuat Ansel terbangun dengan kagetnya.


"Lisha, apa yang terjadi," Ansel bangkit, bertanya sambil memegang kedua bahu Lisha.


"Tenangkan dirimu," ujar Ansel mengusap perlahan pundak Lisha. Ketika Lisha sudah mulai terlihat tenang, barulah Ansel bertanya pelan


"Apa yang terjadi, Sayang?"


"Ansel, a-aku—" tangis Lisha pecah membuat Ansel langsung memeluk Lisha erat.

__ADS_1


"Ada apa? Apa mimpi buruk, katakanlah kepadaku?" Bujuk Ansel.


"A-ku berte-mu Ibu da-n Casey, ta-pi Ibu dan Ca-sey pergi me-meningalkan a-ku, hiks," ucap Lisha terisak.


Mendengar perkataan Lisha, Ansel terdiam dalam pikiran yang dalam. Rasa bersalahnya kepada Lisha kian bertambah. Entah apa yang akan dia lakukan untuk saat ini.


"Itu hanya mimpi, Sayang. Ibu dan adikmu pasti sangat merindukan kamu, makanya dia datang ke mimpimu," jelas Ansel berusaha untuk membujuk Lisha.


"Ta-tapi ... Di da-lam mim-piku, Ibu memin-taku u-ntuk se-segera menyelamatkan adikku, Casey. Aku sangat mengkhawatirkan Ibu dan Casey, Ansel. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres, aku mohon ayo kita pulang, Ansel. Aku ingin melihat kondisi Ibuku dan Casey. Aku takut terjadi sesuatu kepada mereka. Aku sangat merindukan mereka, aku akan melakukan apa pun untukmu, tapi aku mohon pertemukan aku dengan kekuargaku. Kamu adalah Putranya Nyonya Mina, aku mohon tolonglah aku, Ansel," Lisha memohon sambil menengadah menatap Ansel dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan aku, Sayang. Kamu tau sendiri bagaimana sifat Ibuku. Aku tidak bisa menentangnya." Bohong Ansel. Padahal jelas dia tidak ingin membawa Lisha pulang karena khawatir Lisha tidak bisa menerima kenyataan.


"Aku mohon, Ansel. Aku mohon bujuklah beliau. Aku berjanji padamu akan menuruti semua keinginanmu." Mohon Lisha sekali lagi


"Maaf, Lisha Sayang. Ibu sudah memberikanmu waktu satu bulan untuk berbulan madu denganku. Dan jika dalma waktu satu bulan kamu belum juga hamil. Maka, Mommyku pasti tidak akan mau menepati janjinya. Untuk itu, aku mohon bertahanlah, bertahanlah demi agar kita selalu bersama," jelas Ansel Kemudian membenamkan kepala Lisha dalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2