Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 33


__ADS_3

"Deon, aku tidak ingin melihat dua resepsionis ini hidup dengan tenang. Aku ingin melihat keduannya tak bisa berjalan bukan hanya fisiknya, tapi juga pekerjaan dan keluarganya," titah Ansel memunculkan sisi kejamnya.


"Baik, Tuan. Akan saya bereskan," jawab Asisten Deon patuh.


"Deon, kenapa setelah Lisha pingsan dia menghilang?" Tanya Ansel panik sambil mengepal salah satu tangannya.


"Itu saya juga kurang tahu, Tuan. Tapi yang pasti, ada seseorang yang sudah menolong Nona Lisha dan saya sangat yakin kalau orang itu juga punya pengaruh yang kuat, sama seperti Tuan." Tutur Asisten Deon membuat Ansel langsung memikirkan seseorang.


"Putar balik, Deon!" Teriak Ansel cepat.


"Baik, Tuan," saut Asisten Deon.


***


Di sebuah kamar yang begitu besar, mewah, dan juga megah, dua kali lipat lebih luas daripada kamar milik Ansel. Kamar cantik yang didominasi warna pink berdesain hello Kitty memberikan kesan yang begitu manis.

__ADS_1


Di kamar itulah, Lisha yang terbaring lemah tak berdaya, mulai mengerjabkan matanya perlahan. Hingga senyuman manis sosok pria tampan penuh pesona menyambutnya penuh suka cita.


"Hallo Nona Lisha, kita bertemu lagi."


Lisha memfokuskan mata-nya yang masih buram dan betapa kagetnya dia kala mengenali pria yang kini duduk disampingnya.


"Tu-tuan Garvin," gagap Lisha.


"Iya, Nona. Syukurlah Nona masih mengingat saya, itu artinya benturan di kening Nona tidak terlalu parah," jelas Garvin membuat Lisha langsung refleks memegangi keningnya yang berbalut perban.


"Aw!" Jerit Lisha malah merasa perih di sikutnya yang akan sakit bila digerakkan.


"Tuan Garvin!" Panggil Lisha menghentikan langkah Garvin.


Garvin membalikkan badannya langsung berjalan kembali ke arah ranjang di mana Lisha berada. "Bagaimana Nona Lisha? Apa sangat sakit?"

__ADS_1


"Tidak lagi, Tuan. Sudah tidak sakit lagi. Saya sudah merasa sangat baik, hanya sedikit perih saja, saya berteriak karena kaget baru menyadari posisi luka saya. Setelah ini, saya akan lebih berhati-hati," jawab Lisha membuat Garvin merasa tenang.


"Syukurlah kalau begitu, saya jadi senang," Garvin kembali duduk di samping Lisha.


"Oh, iya. Saya sudah menyiapkan bubur untuk Nona, akan saya suapi," sambung Garvin meraih semangkuk bubur yang terletak di atas nakas.


"Tidak perlu repot-repot, Tuan Garvin. Lagi pula saya tidak lapar," kilah Lisha.


"Tidak repot, dan Nona tidak perlu sungkan. Nona Lisha perlu makan agar bisa minum obat, kalau tidak, maka Nona tidak akan bisa sembuh," Garvin berusaha membujuk Lisha, hingga akhirnya Lisha menuruti keinginan Garvin.


"Terima kasih banyak, Tuan," ucap Lisha tulus setelah selesai makan juga minum obat.


"Sama-sama, Nona Lisha. Oh, iya. Kalau saya boleh tau, apa yang sudah terjadi kepada Nona semalam? Kenapa Nona bisa pingsan di trotoar jalan? Itu sangat berbahaya Nona," tutur Garvin dengan bertanya.


"Ceritanya panjang, Tuan. Tapi, bisakah saya tidak menceritakannya, saya tidak ingin mengingatnya. Maaf ...." jawab Lisha sendu lalu menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Tentu saja tidak masalah, Nona. Maaf karena sudah membuat Nona sedih. Namun, bila Nona ada masalah, katakan saja kepada saya. Saya akan berusaha untuk membantu Nona."


"Dia terlihat sangat serius. Tapi, kenapa aku tidak menemukan ketulusan di mata tajam itu, hal itu membuatku ragu. Aku ingin berhati-hati mulai sekarang. Tuan Garvin juga pria yang punya segalanya, aku tidak ingin mencari masalah lagi. Pria berkuasa lebih menakutkan dibanding seorang penjahat kelas atas sekali pun,"


__ADS_2