Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 64


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, ada sedikit perubahan antara hubungan Lisha dan Ansel. Walau Ansel masih bersikap dingin, tapi setidaknya dia tidak lagi mengurung Lisha. Walau hanya duduk bersantai di taman depan atau belakang, itu saja sudah cukup bagi Lisha.


Lisha berjemur di bawah sinar matahari pagi yang cerah. Terik semakin panas, hingga Lisha memutuskan untuk kembali masuk ke rumah.


Tiba di kamar Lisha pun kebingungan akan melakukan apa lagi. Rasa bosan mulai menghantuinya. "Ini'kan pintu yang menghubungkan langsung ke ruang kerja Ansel. Biasanya selalu terkunci. Apa dia lupa menguncinya?" Lisha berjalan, lalu menarik pintu ruang kerja berniat akan menutupnya. Namun, ada rasa penasaran yang begitu besar membuatnya memilih untuk masuk ke dalam ruangan kerja Ansel.

__ADS_1


"Astaga, kenapa sangat berantakan? Oh iya aku ingat, dia tidak mengizinkan orang lain untuk masuk bahkan pembantu sekali pun," ujar Lisha sambil memungut jas Ansel yang tergeletak di lantai. Lisha meletakkan jas itu di hidungnya, menghirup aroma khas tubuh Ansel yang begitu dia sukai. "Menghirup aroma tubuhnya kenapa bisa setenang dan senyaman ini. Apakah cinta ini kepadanya terlalu dalam," Lisha kembali berbicara sendiri.


"Membersihkan ruang kerjanya mengingatkanku akan pekerjaan lamaku. Lisha, mari kita buat Suamimu bangga atas apa yang saat ini kamu lakukan. Setidaknya dia merasa senang karena aku sudah membersihkan ruang kerjanya." Kini, Lisha menuju meja, merapikan berkas-berkas dan membenarkan posisi komputer yang terlalu dipinggir. Sedikit saja tergeser, maka akan tamat riwayatnya.


"Ini'kan ponsel Ansel. Apa dia lupa membawa ponselnya! Apa aku bisa menelepon Ibu dengan ponsel ini? Aku akan mencobanya, semoga Suster yang menjaga Ibuku tidak ganti nomor."

__ADS_1


"Astaga, apakah aku bermimpi? Ansel benar-benar menggunakan tanggal lahirku. Apakah dia masih peduli padaku?" Lisha begitu terkejut karena Ansel menggunakan tanggal lahirnya sebagia sandi ponsel. Biasa bagi orang lain, tapi itu sangat istimewa bagi Lisha. Karena itu berarti masih ada namanya yang terlukis di hati Ansel, walau hanya sedikit. Setidaknya, Lisha merasa masih punya banyak kesempatan untuk untuknya menyelamatkan nyawa Ibunya.


Lisha segera mengutak-atik ponsel itu, mengetikkan nomor ponsel Suster yang menjaga Ibunya, setelah itu langsung menekan tombol telpon guna membuat panggilan.


Beberapa kali Lisha terus mencoba menghubungi nomor yang dia ketikkan, tapi tak kunjung mendapatkan jawaban. Jangankan mendapatkan jawaban, tersambung pun tidak, dan itu artinya nomor ponsel Suster itu sudah tidak lagi aktif. "Apa Suster itu sudah mengganti nomornya. Sayang sekali, aku punya kesempatan untuk menelpon Ibu dan Casey, tapi tidak ada satu pun nomor yang bisa aku hubungi." Lisha tampak begitu kecewa, hingga membaringkan kepalanya di meja.

__ADS_1


Entah apa yang terjadi. Tapi, sepertinya Lisha tidak sengaja memasang sebuah video di ponsel itu. Lisha pun menontonnya dengan saksama. "Ah, kenapa dia bisa setampan itu, siapa yang tidak akan jatuh cinta kepadanya kalau dia bisa sesempurna itu. Aku memang tidak layak untuknya," ucap Lisha kala menonton sebuah video pendek yang menampakkan Ansel yang tengah main golf dengan begitu seksinya di mata Lisha.


Setelah video itu habis, ponsel pun otomatis menukar dengan video selanjutnya. Tubuh Lisha menegang, tangannya bergetar, hatinya terasa begitu perih bak disayat sembilu kala melihat video yang kini membuatnya seakan berhenti bernapas.


__ADS_2