Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 75


__ADS_3

"Sejak pertama kali kita bertemu."


"Maksudmu, saat di hotel. Tidak mungkin, kamu saja dibawah pengaruh obat saat itu."


"Aku tidak berbohong Sayang, meskipun di bawah pengaruh obat, biasanya aku tidak akan pernah menyentuh wanita lain. Karena saat itu aku belum bisa melupakan wanita di masa lalu," jelas Ansel.


"Lona?"


"Iya. Tapi, aku benar-benar sudah melupakannya saat mengenalmu."


"Karena apa? Karena apa kamu mampu melupakannya karena aku?" Tanya Lisha cepat.


"Ya, karena aku mencintaimu, Sayang. Dan cinta yang aku rasakan kepadamu, itu berkali-kali lipat lebih dalam daripada cinta yang aku miliki untuk Lona. Aku hanya terlalu terobsesi kapadanya," Ansel terus berusaha meyakinkan Lisha.

__ADS_1


"Kamu berbuat salah apa hingga menyesal saat ditinggal olehnya?"


Ansel terdiam, mendengar ucapan Lisha membuatnya mengingat sesuatu yang telah lama dia lupakan selama ini. Alasan Lona memutuskan hubungan dengannya adalah—


"Ansel! Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Lisha heran dengan raut wajah Ansel yang tiba-tiba saja memucat.


"Ah, ti-dak apa-apa, Sayang," jawab Ansel tampak tak tenang.


"Sayang, sudah, ya. Itu masa laluku dan kamu adalah masa depanku. Aku sudah lama melupakan masa lalu itu," Ansel memajukan wajahnya akan mencium bibir Lisha. Namun, Lisha mengalihkan wajahnya hingga yang Ansel cium hanya rambut Lisha.


"Sayang," panggil Ansel lembut berharap Lisha tak marah kepadanya.


"Ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Seorang Suami yang tidak terbuka kapada Istrinya adalah lelaki pengecut yang tidak punya harga diri. Aku salah, ternyata kamu belum sepenuhnya berubah," Lisha melepaskan diri dari kukungan Ansel, meraih selimut, membalikkan badan membelakangi Ansel.

__ADS_1


"Sayang," Ansel mengulurkan tangannya untuk memeluk Lisha, namun dengan cepat Lisha tepis, membuat Ansel meraup wajahnya kasar. Dan pada akhirnya memilih untuk memberikan waktu kepada Lisha guna menenangkan diri.


Sementara itu, Lisha kembali terisak karena kecewa dengan Ansel yang tak bisa jujur kepadanya. "Apakah aku salah karena memaafkanya terlalu cepat," ucap Lisha dalam hati.


Karena kelelahan, Lisha pun terlelap lebih dulu. Sedangkan Ansel masih terjaga karena terus memikirkan satu hal yang berkaitan dengan hal lainnya.


Ansel membalikkan badannya menatap punggung Lisha yang membelakanginya. Ansel mengulurkan tangannya perlahan, memeluk Lisha dengan begitu berhati-hati hingga pada akhirnya Ansel berhasil memeluk Lisha dari belakang.


Tepat setelah memeluk Lisha, hatinya yang gelisah seketika menjadi tenang, seakan semua beban yang ada dipikirannya pergi begitu saja. Itulah yang Ansel yakini kalau dia banar-benar mencintai Lisha. Perasaan aman dan nyaman ketika berada di samping lisha, adalah sebuah perasaan yang tidak dia temukan pada wanita lain, bahkan Lona sekali pun. Ansel sangat yakin kalau dirinya benar telah mencintai Lisha dan bukan hanya karena rasa kasihan apalagi terobsesi.


"Maafkan aku Lisha, kamu sudah berjanji akan selalu berada di sisiku apa pun yang terjadi. Aku mohon tepati janji itu karena aku tidak ingin kehilanganmu," tutur Ansel lembut, kemudian memejamkan matanya paksa.


Lisha yang ternyata hanya berpura-pura tertidur kini ketakutan kala mendengar ucapan Ansel. "Apa yang kamu sembunyikan dariku, Ansel? Kenapa kamu menyimpan terlalu banyak rahasia? Itu membuatku takut, takut kita tidak akan bisa bersama walau saling mencinta."

__ADS_1


__ADS_2