
"Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu, Lisha. Dan kamu juga sudah berjanji akan selalu berada di sisiku apa pun yang terjadi. Jadi, aku mohon berhenti mengatakan itu, karena kami segalanya bagiku. Aku mencintaimu, Lisha. Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu sampai kapan pun," jelas Ansel berusaha menjelaskan isi hatinya kepada Lisha.
"Seorang lelaki tidak mungkin mengabaikan wanita yang dia cintai. Sudahlah Ansel, aku mohon berhenti memberikan harapan palsu. Aku lelah Ansel, aku lelah berjuang selama ini," jawab Lisha yang merasa tak pantas untuk Ansel.
"Lisha, dengarkan aku baik-baik. Aku tau aku salah, aku sudah meminta maaf kapadamu. Aku benar-benar mencintaimu, Lisha. Aku mengabaikan hanya karena—"
"Karena jijik padaku, karena aku sudah menjadi bekas orang lain!" Potong Lisha langsung duduk dan Ansel pun juga ikut duduk.
"Ada apa denganmu, Lisha? Kenapa sensitif begini?" Tanya Ansel heran.
"Terserah kamu mau bilang apa, Ansel. Yang pasti, aku hanya ingin pulang untuk bertemu dengan Ibu dan juga Adikku," jawab Lisha turun dari ranjang.
"Kita akan tetap di sini Lisha."
"Sampai kapan?"
__ADS_1
"Sampai kamu mengandung anakku," tegas Ansel.
"Bukankah sudah lebih satu bulan, bukankah aku tidak lagi punya harapan. Atau ... Atau masih ada lagi rahasia lain yang kamu sembunyikan dariku?" Lisha menatap Ansel dalam seakan mencari kebohongan dari mata tajam Ansel.
"Ada sesuatu yang aku persiapkan di negara ini, dan aku tidak bisa mengatakannya kapadamu," jawab Ansel sesantai mungkin agar Lisha tak mencurigainya. Ansel berdiri, lalu memeluk Lisha dari belakang.
"Sudahi, ya. Ini sudah malam, tapi kamu belum makan apa pun. Aku suapin, ya?" Bujuk Ansel. Lisha diam, tidak menolak pelukan Ansel juga tidak menerimanya. Tapi yang pasti, dia sangat menyukai aroma tubuh Ansel.
Tok, tok, tok....
"Ini, makan malam untuk Nona Lisha sudah siap, Tuan," ucap pembantu ramah sambil mengulurkan nampan yang berisi semangkuk sup ikan lengkap dengan berbagai jenis sayuran sehat dan sepiring nasi putih, tak lupa juga minuman. Semua lengkap tersaji dalam nampan itu.
Ansel menerimanya dengan cepat tanpa menjawab ucapan pembantu itu, terlihat Ansel masih kesal. Tentu saja dirinya kesal, sebulan Lisha tidak makan dengan teratur. Tapi pembantu itu baru menjelaskannya sekarang.
"Sekarang duduklah, Sayang. Aku akan menyuapimu makan," ujar Ansel sambil meletakkan nampan ke atas nakas, lalu berjalan ke arah Lisha.
__ADS_1
"Ayolah Lisha, kamu belum makan apa pun seharian," ujar Ansel mencoba membawa Lisha kembali duduk di ranjang. Lisha masih diam seribu bahasa, tapi dia mengikuti ke mana Ansel akan membawanya.
Ansel mendudukkan Lisha di tepi ranjang, dia langsung memasukkan nasi ke dalam sup, kemudian mulai menyuapi Lisha. Lisha menerimanya walau dengan air mata yang berlinang.
Lisha bingung, sangat bingung kepada dirinya yang dengan begitu mudahnya luluh dengan perlakuan lembut Ansel.
"Aw!" Jerit Lisha pelan.
"Apa perutmu sakit? Ini akibatnya kalau kamu telat makan. Ayo makanlah lagi," dengan penuh kesabaran, Ansel berhasil menyuapi Lisha hingga makanan itu pun habis tak bersisa.
"Sudah, sekarang jangan menangis lagi. Lupakan masalah sebelumnya, kita mulai lembaran baru. Kamu mau, kan? Memulai semuanya lagi dari awal bersama denganku?" Ansel menyeka air mata dan keringat Lisha.
Lisha tak menjawab, tapi dia langsung memeluk Ansel dengan begitu eratnya sambil terisak. Ansel membalas pelukan Lisha, lalu menepuk-nepuk pelan pundak Lisha agar tenang.
Beberapa detik kemudian. Lisha tak lagi terisak, pelukannya pun terlepas membuat Ansel seketika panik—saat Lisha tiba-tiba kehilangan kesadarannya.
__ADS_1