
Seminggu berlalu, kondisi Lisha sudah semakin membaik karena Ansel selalu menjaganya ketat. Dari mulai menggendong ke kamar mandi plus memandikan, memakaikan pakaian, menyuapi makan, menemani bersantai, hingga mamberikan apa pun yang Lisha inginkan.
Tak ayal Lisha menjadi kesal karena Ansel memperlakukan dirinya benar-benar seperti bayi yang tak bisa berbuat apa pun. Namun, dibalik semua perhatian luar biasa yang Ansel berikan. Tentu saja membuat Lisha tersanjung serta merasa begitu disayang. Hingga kondisi kandungan yang awalnya lemah, kini telah pulih. Bahkan, Dokter Adiva menyarankan Lisha untuk mengurangi sedikit porsi makannya, karena ukuran bayi yang melebihi perkiraan.
"Ayolah, Ansel. Aku juga bosan hanya di rumah selama ini. Ayo kita jalan-jalan sebentar saja, aku hanya ingin membeli oleh-oleh untuk Ibu dan Cassey. Aku berani jamin tidak akan membeli sesuatu yang mahal, aku mohon, ayolah Ansel," Lisha terus berusaha membujuk Ansel agar mau menemaninya jalan-jalan di hari terakhir mereka di Arab. Karena besok adalah waktunya untuk pulang kembali ke Negara X.
Ansel terdiam seribu bahasa kala mendengar ucapan Lisha yang ingin membeli hadiah untuk Ibu dan Adiknya.
"Ada apa dengan ekspresimu, Ansel? Jangan menakutiku!" Kesal Lisha membuat Ansel tersadar dari lamunannya.
"Baiklah, gantilah dulu pakaianmu. Kita akan pergi sore ini juga," Ansel memegang kedua pipi Lisha dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Terima kasih, Ansel. Bersamamu aku pasti akan aman," tutur Lisha dengan senyuman bibir yang membuat Ansel tak dapat menahan diri untuk mencium bibir manis itu.
Muach....
***
"Mau beli hadiah apa untuk Ibu dan Cassey?" Tanya Ansel ketika keduanya sudah berada di sebuah Mall terbesar di kota elit itu.
"Aku hanya ingin beli boneka untuk Cassey, karena selama menjadi kakanya aku hanya pernah sekali membelikannya boneka, itu pun boneka gantungan kunci, jadi ukuran sangat kecil," jawab Lisha sedih.
Setelah mendapatkan banyak boneka juga beberapa pakaian untuk Sang Ibu. Kini, saatnya Ansel membawa Lisha untuk memilih pakaian Ibu hamil untuk Lisha.
__ADS_1
"Aku bisa masuk angin, Ansel. Itu terlalu terbuka," keluh Lisha tak setuju dengan pakaikan yang Ansel pilihkan untuknya.
"Hanya di kamar saja, Sayang," bujuk Ansel.
"Tidak mau, aku tidak mau memakainya," jawab Lisha keukeuh.
"Baiklah," Ansel terpaksa mengalah. Namun, saat Ansel tengah memilih pakaian yang lainnya, Lisha diam-diam meminta pelayan toko untuk membungkus gaun yang Ansel inginkan.
"Untuk apa, Sayang," cegat Ansel ketika Lisha mengambil sabun cair pembersih daerah kewanitaan.
"Em—" Lisha gugup.
__ADS_1
"Tidak usah pakai pewangi apa pun, Sayang. Aku suka wangi aslinya. Lagipula, itu tidak bagus untuk daerah kewanitaan. Dengan sabun itu dapat membunuh bakteri baik yang terdapat di **** **********. Apa kamu lupa apa yang aku baca untukmu semalam? **** ********** adalah bagian tubuh wanita yang memiliki bakteri paling banyak setelah usus. Kamu tidak perlu khawatir karena bakteri tersebut memiliki peran penting menjaga kesehatan kewanitaan. Bakteri tersebut dikenal dengan nama Lactobacilli," jelas Ansel membuat Lisha meletakkan kembali sabun cair itu.
"Istri pintarku yang manis. Ingat, aku lebih menyukai aroma aslinya," goda Ansel membuat kedua pipi Lisha lagi-lagi memerah.