
Beberapa jam diperjalanan menggunakan pesawat. Kini, Ansel dan juga Lisha telah sampai di Resort mewah, yang terletak di Dubai Marina di teluk Persia.
Dubai Marina terletak di interchange 5, sekitar 20 mile dari pusat kota. Di tempat ini terdapat banyak restoran, ruang terbuka publik, pesisir pantai, serta gedung-gedung pencakar langit yang yang memberikan perpaduan elegan dengan laut biru teluk Persia.
Ansel memilih Dubai Marina, karena di tempat tersebut terdapat banyak tempat menarik serta romantis yang akan memberikan pengalaman luar biasa antara dirinya dengan Lisha. Ada banyak tempat yang bisa Ansel dan Lisha jajal atau kunjungi di sana.
Seperti, Resort termewah seperti yang Ansel dan Lisha tempati sekarang, Pedestrian, Pantai, Marina, Gedung mewah, Deretan kafe, pusat pertokoan, aliran sungai dan muara, dan masih banyak lagi tempat menarik lainnya.
Lisha masih terlelap—kala Ansel membaringkannya perlahan ke atas ranjang jumbo di kamar mewah itu.
Ansel memilih menyingkir membiarkan Lisha beristirahat dengan tenang karena memang masih larut malam.
Sedangkan dirinya lebih memilih keluar dari kamar, duduk di sofa berwarna emas elegan, mengeluarkan laptop, dan mulai melakukan pekerjaannya. Ansel ingin menyelesaikannya malam ini juga, agar esok paginya dapat menemani Lisha berjalan-jalan dengan romantis. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, tanpa sadar Ansel tertidur di sofa.
Keesokkan harinya.
__ADS_1
"Aaakkhh!" Lisha berteriak ketakutan karena saat terbangun, dia sudah berada di kamar yang sangat asing baginya. Ansel yang kaget mendengar teriakan Lisha langsung kocar-kacir berlari menuju kamar.
Saat tiba di kamar, Ansel Langsung naik ke atas ranjang, memeluk Lisha yang kini meringkuk sambil menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
"Lisha sayang, tenang, tenanglah ada aku bersamamu," ujar Ansel menepuk pelan pundak Lisha.
"Tuan," ucap Lisha ketika baru menyadari di mana dia saat ini.
"Apa sudah sadar?" Tanya Ansel menatap Lisha intens.
Ansel mengulurkan kedua tangannya, mengangkat wajah Lisha dengan perlahan. "Kenapa minta maaf, aku yang salah karena tidak menemanimu tidur di sini. Maaf, ya Lisha sayang." Sambung Ansel menyeka perlahan air mata di kedua pipi Lisha. Lisha merasa sangat bahagia dengan perlakuan lembut Ansel saat ini.
"Tuhan, jika aku berada di dalam alam mimpi. Aku mohon, aku mohon jangan bangunkan aku," batin Lisha memeluk Ansel dengan begitu eratnya.
"Terima kasih, Tuan. Terima kasih atas kebaikkan yang Tuan berikan kapada saya saat ini," ucap Lisha lantang sambil terisak.
__ADS_1
"Tuhan, bila benar dia hanya berpura-pura, maka buatlah ini menjadi kenyataan. Aku mohon Tuhan," sambung Lisha berucap dalam hati.
Ansel melepaskan Lisha dari dekapannya, memegang pundak Lisha dengan kedua tangannya lalu berkata, "Sudah, berhenti berterima kasih. Memangnya hal besar apa yang aku lakukan, Hem?" Tanya Ansel dengan nada menggoda. Lisha tak menjawab, dia kembali menundukkan wajahnya malu menatap wajah tampan Ansel.
"Sekarang bangunlah, kita akan bersenang-senang. Oh ya, apa lututmu masih sakit," Lisha menggelengkan kepalanya karena lututnya memang sudah semakin membaik.
"Aman tidak, ya, kalau dibawa berjalan kaki?" Ansel bertanya-tanya karena mengkhawatirkan Lisha.
"Aman, Tuan. Lukannya sudah mulai kering karena Tuan obati. Luka di sikutku juga sudah mengering, bahkan sudah tak sakit bila digerakkan," jelas Lisha antusias. Lisha tampak begitu bersemangat mendengar kata jalan-jalan. Cukup lama dia dikurung dengan berbagai penderitaan di dalam Mansion.
Sekarang ada kesempatan untuk berjalan-jalan, dan Lisha tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kali ini.
"Baiklah, sekarang mari kita ke kamar mandi bersama!" Saut Ansel tak kalah bersemangatnya.
"Ke kamar mandi bersama?"
__ADS_1