
"Maafkan aku Lisha, aku mohon maafkan aku. Aku menyesal," tubuh Lisha terguncang, dia menangis histeris. Sapuan hangat air mata terus mengalir dari kedua sudut matanya, membuat rambut dan bantalnya menjadi basah. Lisha terdiam, bingung harus melakukan apa. Mendengar kata maaf dari Ansel sudah membuatnya begitu bahagia. Entah sudah sedalam apa rasa cinta yang terus berkembang di dalam hatinya?
Perlahan namun pasti, Ansel membalikkan badan Lisha. Lisha mengikut apa yang Ansel lakukan kepadanya, hatinya yang sudah Ansel miliki membuat tubuhnya reflek menerima apa yang Ansel lakukan kepadanya. Sedangkan kata maaf yang dia dapatkan dari Ansel, membuat hatinya melemah dan tak dapat menolak permintaan maaf Ansel.
"Aku minta maaf, Lisha. Aku salah karena sudah bersikap dingin dan tak peduli kepadamu. Aku mohon jangan menangis lagi, aku tidak sanggup melihat air matamu," tutur Ansel lembut sambil menyeka perlahan air mata Lisha.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu minta maaf, Ansel. Sudah seharusnya kamu melakukan itu semua, kamu tidak bersalah sama sekali. Sikap dinginmu adalah tindakan yang tepat. Aku sudah menjadi bekas orang lain, derajatku sudah semakin rendah, tidak ada satu apa pun yang dapat membuatku terlihat, sudah seharusnya aku diabaikan. Aku adalah wanita miskin yang tidak punya apa-apa, hanya kehormatan yang selalu aku jaga agar aku memilki harga diri. Sekarang, semua sudah hilang. Aku bahkan sudah begitu hina, sudah sepantasnya kamu mengabaikanku dan juga bersikap dingin kepadaku," tutur Lisha pilu.
Raut wajah Ansel berubah, dia sangat terkejut dan rasa bersalahnya kian bertambah setelah mendengar ucapan Lisha yang ternyata sudah melihat video berisi adegan pelecehan itu.
"Berhenti bicara begitu, Lisha. Semua yang terjadi kepadamu adalah kesalahanku, seharusnya aku menemanimu ke mana pun kamu pergi. Aku yang bersalah, aku mohon berhenti menyalahkan dirimu!" Ucap Ansel mengecup pelan kedua mata dan kening dan tak lupa bibir Lisha.
__ADS_1
"Tidak, Ansel. Ini terjadi karena kesalahanku sendiri yang tidak bisa menjaga diri, ini kesalahanku sendiri karena tidak mendengarkan ucapanmu, dan ini juga kesalahanku sendiri karena tidak tau mana orang yang benar-benar baik dan mana orang yang hanya ingin memanfaatkanku. Kalau ini kesalahanmu, kamu tidak mungkin berubah kepadaku," Lisha menatap Ansel dalam.
"Maafkan aku, Lisha. Aku salah, karena tidak seharusnya aku berubah kepadamu," saut Ansel juga menatap mata sayu Lisha penuh kasih sayang.
"Apa pun itu, aku sudah memaafkanmu. Sekarang aku pasrah, Ansel, aku pasrah atas takdir apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku juga sudah mengikhlas bila kamu dan Ibumu ingin membuangku tanpa memberikan kompensasi itu. Untuk menyelamatkan Ibuku, aku akan berusaha hanya semampuku dan tidak akan melakukan dosa besar lagi. Kamu sudah boleh melepaskanku, kehormatan yang aku berikan kepadamu, aku sudah ikhlas. Anggap saja aku melakukanya karena aku mencintaimu. Sekarang, aku mohon pulangkan aku, biarkan aku melihat bagaimana perjuangan Ibuku untuk bertahan hidup. Jika belum takdirnya untuk pergi, aku yakin Ibuku akan segera sembuh walau tanpa operasi mahal itu. Bila memang sudah takdirnya untuk pergi, aku ikhlas, aku tidak akan lagi menyesal karena sudah melakukan segala usaha semampuku. Pulangkan aku, Ansel, aku mohon. Aku tidak punya uang untuk pulang sendiri, untuk itulah aku masih disini untuk menunggumu. Aku ingin kembali mengalami duka, duka, dan duka bersama Ibu dan Adikku."
__ADS_1
"Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu, Lisha. Dan kamu juga sudah berjanji akan selalu berada di sisiku apa pun yang terjadi. Jadi, aku mohon berhenti mengatakan itu, karena kamu segalanya bagiku. Aku mencintaimu, Lisha. Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu sampai kapan pun."