
"Aaaakhh!"
Ckitt!
Beruntung Sang Pengemudi mengerem dengan cepat, memberi jarak 5 cm hingga Lisha yang berdiri sambil menutup wajahnya, tak terluka sedikit pun.
"Maaf, Nona. Apa Nona terluka?"
Lisha membuka wajahnya, menatap pria yang hampir menabraknya lalu berkata. "Tuan Garvin!" Itulah kalimat terakhir yang keluar dari mulut Lisha, karena setelah itu dia pun kehilangan kesadarannya.
Beruntung ada Garvin yang menahan tubuhnya hingga tak terjatuh ke aspal jalan. Garvin segera mengangkat tubuh Lisha dan dia masukan ke dalam mobilnya. Setelahnya, dia pun segera tancap gas.
***
"Apa!" Teriak Ansel murka.
"Maaf, Tuan. Saat ini kami tengah mencari keberadaan Nona Lisha juga tiga pengawal yang menjaganya, tapi jejak mereka semua tiba-tiba mennghilang, Tuan," jelas pengawalnya lewat telpon.
"Cek semua cctv di daerah sana dan kirimkan padaku!" Titah Ansel terlihat benar-benar murka.
__ADS_1
"Kami sudah berusaha mencobanya, Tuan. Tapi, kami tidak berhasil masuk ke dalam sistem mereka, karena mereka punya sistem keamanan yang sangat canggih."
"Sialan!"
Brakk!
Saat itu juga, Ansel membanting ponselnya, membuat semua keryawan di hadapannya begitu terkejut. Emosinya telah memuncak saat mendengar semua penjelasan dari pengawalnya.
Ansel langsung keluar dari ruang meeting tanpa menjelaskan apa pun pada keryawan juga beberapa investor. Kini, Ansel tengah berada di dalam mobilnya. Seperti biasa, keahlian mengemudinya yang sangat baik membuatnya dapat menyalip mobil-mobil yang lalu-lalang.
"Sial! Siapa yang berani-beraninya menculik Lisha di negara ini?" Kesal Ansel memukul stirnya sekuat tenaga.
"Segera cek apakah Garvin saat ini ada di Dubai juga?" tanya Ansel pada Pengawalnya yang masih ada di negaranya. Karena agak sulit baginya untuk mendapatkan informasi penting di kota canggih seperti Dubai. Apalagi dirinya yang tidak punya kekuasaan di bidang manapun. Dirinya hanya menjalin persahabatan dengan pengeran Arab. Tapi, sepertinya persahabatan itu tidaklah tulus, melainkan hanya sebatas pihak mana yang akan diuntungkan. Dan sepertinya mereka lebih memilih Garvin karena Garvin sanggup memberikan keuntungan lebih.
Sedangkan Ansel hanyalah seorang pemilik beberapa hotel yang saat ini baru berkembang. Ansel yakin, Garvin menggunakan kegagalannya yang hampir bangkrut dulu agar dapat mengubah pikiran pemerintah Dubai.
"Baik, Tuan. Begitu mendapatkan informasinya, akan langsung saya kirimkan," jawab pengawalnya di seberang negara sana.
"Aku tunggu lima menit!" Bentak Ansel langsung memutuskan panggilan sepihak, tanpa mendengar jawaban pengawalnya sama sekali.
__ADS_1
4 menit kemudian, masuk pesan yang berisi foto yang menjadi bukti bahwa Garvin memang tengah berada di negara yang sama dengannya.
Saat itu juga, Ansel memutar balik kemudinya. Ansel ingat saat para pengawal pernah memberi tahunya tentang hotel mana yang menjadi pilihan Garvin sebagai tempat menginap ketika berada di Dubai. Beruntungnya Ansel mengenal baik beberapa pemilik hotel di negara itu, hingga tidak sulit baginya untuk melihat daftar nama di sana.
***
"Apa Nona Lisha baik-baik saja? Memangnya ada masalah apa kalau Nona belum hamil?" Tanya Garvin yang sebelumnya telah membawa Lisha ke rumah sakit dan ketika sadar, Lisha meminta dicek apakah dirinya tengah hamil atau tidak.
"Tidak apa-apa, Tuan," jawab Lisha merasa lesu. Kecewa, tentu saja Lisha kecewa saat dokter hanya mengatakan kalau di sedang mengalami stres yang terlalu berat hingga imun tubuhnya bermasalah. Lisha heran kenapa dirinya bisa stres, padahal dirinya selalu happy dengan perlakuan manis Ansel. Apakah karena dirinya yang terlalu mengkhawatirkan Ibu dan adiknya akhir-akhir ini.
"Menumlah lebih dulu, Nona."
Lisha menerima botol air mineral yang Garvin berikan, Lisha juga meneguknya tanpa merasa curiga. Apalagi dirinya memang tengah haus.
"Terima kasih, Tuan Garvin." Ucap Lisha tulus.
"Sama-sama, Nona," jawab Garvin dengan senyuman tak biasa.
Tak berselang lama, Lisha merasakan matanya begitu berat. Hingga pada akhirnya dia pun terlelap.
__ADS_1