Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 62


__ADS_3

Suara pintu kamar yang terbuka membuat Lisha langsung berbalik badan. "Ansel, kamu sudah pulang," sapa lisha sambil tersenyum manis. Namun, hanya dibalas Ansel dengan senyuman samar nyaris tak terlihat.


Lisha berjalan cepat menuju di mana Ansel kini berdiri. Lisha berdiri di hadapan Ansel lalu mengambil tas kerjanya dan diletakkan di atas nakas. Lisha kembali berdiri di hadapan Ansel yang kini membuka kancing lengan bajunya, lagi dan lagi Lisha mengambil inisiatif untuk membantu Ansel melepaskan kemeja berwarna putih polos yang melekat di tubuh kekarnya.


Lisha menghirup aroma tubuh Ansel yang sangat dia sukai. Menghirup aroma keringat Ansel ketika pulang kerja menjadi kebiasaan Lisha selama sebulan terakhir. Karena itulah, Lisha selalu bersemangat membantu Suaminya itu melepaskan pakaian.


"Mandilah, air hangatnya sudah aku siapkan," ucap Lisha lembut.


"Hem," jawab Ansel dingin lalu berbalik badan dan masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Lisha yang kini menekan dadanya yang kembali terasa sesak.

__ADS_1


Meski sudah sebulan mendapatkan perilaku dingin dari Ansel, tapi tetap saja rasanya sakit ketika mengalaminya lagi dan lagi.


"Ingatlah siapa dirimu dan apa posisimu Lisha, tak pantas kamu mengharapkan perhatian lebih," gumam Lisha mencoba untuk menguatkan hatinya.


Lisha menggelengkan kepala, berharap dapat melupakan segala hal menyakitkan yang barusan dia dapat. Menuju lemari, Lisha menyiapkan piyama dan pakaian dalam untuk Ansel, kemudian diletakan di atas atas ranjang.


Tak lama berselang, Ansel pun keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil melingkar di pinggang kekarnya. Lisha meneguk saliva, karena dia dapat melihat jelas tubuh kekar Ansel dari pantulan kaca.


Lisha segera mengalihkan pandangan ke sembarang arah saat Ansel melepaskan handuknya dengan santai. Beberapa saat kemudian Ansel telah selesai berpakaian, dan berulah Lisha berani membalikan badannya.

__ADS_1


"Ansel, ayo kita makan malam dulu," meski selalu di tolak, Lisha tetap saja selalu menahan laparnya hanya demi berharap dapat mempunyai waktu dengan makan malam bersama Ansel. Tapi, semua sia-sia Lisha lakukan karena Ansel selalu punya seribu satu alasan untuk menolaknya.


"Aku sangat lelah Lisha, aku juga sudah makan malam di kantor. Kamu makanlah sendiri dulu untuk saat ini," jawab Ansel naik ke atas ranjang.


"Tapi, aku sangat ingin makan malam bersamamu," jawab Lisha tak lagi dapat menahan sakit hati juga tak mampu membendung air mata.


Ansel mengurungkan niatnya untuk rebahan, dia terdiam sambil memandang Lisha yang kini terisak.


"Apa kamu sudah bosan padaku? Bukan, pasti kamu sudah bosan pada tubuhku? Tapi Ansel, walau kamu sudah bosan, aku mohon tetaplah tepati janjimu untuk membantuku menyelamatkan nyawa Ibu. Apakah aku sudah gagal karena tidak berhasil mengandung dalam waktu satu bulan? Apa pengorbananku akan sia-sia? Apa kamu dan Ibumu akan membuangku dan menyingkirkanku tanpa memberikan kompensasi atas kerugianku. Setidaknya bantulah Ibuku, aku bahkan sudah menyerahkan kehormatanku sebagai seorang wanita, apa itu tidak ada harganya sama sekali di mata kalian," Lisha mengelurkan seluruh kalimat yang selama ini berusaha dia simpan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2