Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 59


__ADS_3

Begitu tiba di Mansion, para pengawal tampak diam dan tak satu pun yang berani menegur Ansel. Ansel pun juga tak menghiraukan mereka semua, dia hanya fokus menggendong Lisha hingga masuk ke dalam kamarnya.


Bukannya membaringkan Lisha yang masih belum sadarkan diri. Tapi, Ansel malah membawa Lisha masuk ke dalam kamar mandi, kemudian membaringkan Lisha secara perlahan ke dalam buthub jumbo-nya.


Ansel menghidupkan kran air biasa dan kran air panas bersamaan. Ketika sudah hampir penuh Ansel segera mematikan kran air. Ansel juga membuka seluruh pakaiannya hingga hanya menyisakan cd-nya saja.


Ansel juga masuk ke dalam buthub. Ansel menuangkan begitu banyak sabun cair pada spon mandi. Kemudian, menggosok kasar bekas kepemilikan yang Garvin tinggalkan di sekujur tubuh Lisha.


Saat itu juga Lisha mulai sadarkan diri. Dan betapa terkejutnya Lisha saat merasakan sakit—kala Ansel menggosok tubuhnya sekuat tenaga. Bukannya menghilangkan tanda merah itu, tapi Ansel malah menambahnya hingga rasa perih Lisha rasakan.


"Aw! Ansel, apa yang telah terjadi?" ringisan Lisha yang kesakitan tak membuat Ansel menghentikan tindaknnya. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah, bagaimana caranya menghilangkan jejak menjijikkan Garvin pada tubuh Lisha?


"Sakitt, Ansel. Aku mohon hentikan," pinta Lisha menangis pilu. Tapi Ansel tak kunjung menyudahi aksinya. Tapi malah semakin menambah kekuatan saat menggosok tubuh Lisha.

__ADS_1


Lisha ingin berontak, ingin menghindar dan ingin memukul Ansel. Tapi, entah kenapa dia merasa tubuhnya begitu lemah. Bahkan untuk berbicara pun dia kesulitan.


"Ansel aku mohon hentikan," Lisha mengangkat tangannya, lalu memegang tangan Ansel agar menghentikan tindakan kasarnya.


"Aku mohon hentikan," Lisha berbicara begitu lemah saat Ansel menatapnya.


Saat itu juga Ansel menyadari tindakannya yang tak dia sadari telah menyakiti wanita itu.


"Sayang, aku ... Aku—"


Ansel segera keluar dari buthub jumbo-nya, mengambil jubah mandi lalu membalutkan jubah itu ke tubuh kekarnya.


Setelah itu Ansel kembali meraih jubah mandi berwarna pink milik Lisha. Ansel membantu Lisha berdiri, lalu membalutkan tubuh polos Lisha dengan jubah tadi.

__ADS_1


Ketika sedang mengikat tali jubah itu, tiba-tiba saja Lisha akan terjauh karena tak sanggup menahan berat tubuhnya. Lisha merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Dia merasa sangat lelah, lemas, dan lesu. Hal seperti ini jarang tejadi kepadanya, karena Lisha memang selalu memprioritaskan kesehatannya agar dirinya segera hamil.


"Lisha, apa yang terjadi?" Ansel langsung mengangkat tubuh Lisha sebelum benar-benar terjatuh.


"Aku tidak tau, Ansel. Tapi kaki sangat lemas," jawab Lisha menangis karena takut.


"Tenanglah, tidak akan terjadi apa pun," Ansel membawa Lisha keluar dari kamar mandi, lalu Ansel baringkan di atas ranjang.


"Lisha, aku mohon maafkan aku," Ansel menggenggam tangan Lisha, memberi hujan ciuman di sekujur wajah dan tangan Lisha.


"Sebenarnya, apa yang telah terjadi Ansel? Kenapa saat sadar aku telah bersamamu?" Tanya Lisha curiga, dia takut sesuatu yang tidak dia inginkan terjadi.


"Sekarang istirahatlah, aku akan meminta pelayan untuk mengambilkan makan untukmu. Tunggulah di sini sebentar dan jangan ke manapun," Ujar Ansel mengubah topik pembicaraan, Lisha menjawab dengan mengangguk lemah.

__ADS_1


Setelah Ansel keluar dari kamar, kini tinggallah Lisha seorang diri. "Apa yang telah terjadi? Bukankah sebelumnya aku bersama dengan Garvin, ya Tuhan, apakah Ansel salah paham dan bertengkar dengan Garvin? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku tidak bisa mengingat apa pun."


__ADS_2