Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 46


__ADS_3

"Kenapa, Sayang? Jangan katakan kalau kamu masih merasa malu. Apa kamu lupa dengan pesen Mommy? Kita berbulan madu juga agar kamu cepat hamil. Jadi, aku tidak mau dengar kata malu lagi," tegas Ansel membuat Lisha menelan saliva.


"Ba-baiklah, ayo mandi bersama dengan cepat. Aku sangat ingin berjalan-jalan," ujar Lisha dengan mata berbinar harap.


Ansel menghela napas, bagaimana pun dia tetaplah seorang lelaki yang punya hasrat seperti lelaki dewasa pada umumnya. Tapi, melihat Lisha yang lesu, membuat hatinya tergerak untuk mengasihani istri malangnya itu.


"Yasudah, sana kamu mandi sendiri dulu. Aku ada urusan sebentar," akhirnya Ansel mengalah, dan hal itu seketika membuat Lisha tersenyum bahagia.


"Terima kasih, Tuan."


"Eitts, tunggu, ada syaratnya," ucap Ansel mencegat tangan Lisha.


"S-syaratnya apa, Tuan?" Tanya Lisha penasaran.


"Mulai sekarang panggil aku dengan namaku, Ansel. Atau bisa juga panggil sayang." Balas Ansel tersenyum menggoda Lisha.


"Baiklah, Tuan." Jawab Lisha tanpa sadar.


"Apa?"


"Baiklah, Tuan. Eh, Ansel ... Baiklah, Ansel," ralat Lisha.


"Bagus. Sekarang mandilah," titah Ansel membuat Lisha berjalan cepat menuju kamar mandi dan memastikan tangannya tak dicegat kembali oleh Ansel.


Di dalam sana, Lisha mandi dengan khusyuk, sedangkan Ansel keluar dari kamar untuk menemui Asisten Deon.


Lisha keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk mini karena lupa membawa pakaian. Lisha mencari keberadaan kopernya, karena semua pakaiannya berada di dalam sana.

__ADS_1


Di sudut dinding di samping kiri ranjang. Di sana lah kopernya berada. Lisha sedikit berjongkok bersusah payah membuka koper itu.


Tanpa Lisha sadari, ada seorang pria yang kini menegang kala melihat tubuh seksinya yang hanya terbalut handuk mini.


"Sayang, maaf, Sepertinya aku sudah tidak bisa menahan," ujar Ansel langsung memeluk Lisha dari belakang. Lisha yang kaget berusaha menahan handuknya agar tidak terlepas.


"Tuan, eh, Ansel. Bukankah kita akan berjalan-jalan?" Lisha mengingatkan.


"Mana bisa aku berjalan dengan tenang sebelum melepaskan hasrat ini," bisik Ansel memberi gigitan lembut di pucuk kuping Lisha. "Aku mohon, aku berjanji tidak akan lama,"


"Ahhh," Lisha mendesis kala Ansel mulai mer*mas benda kenyalnya yang masih terbalut handuk.


"Ta-tapi, Ansel, emh ... Jangan," tolak Lisha saat Ansel ingin menarik handuknya.


"Aku berjanji tidak akan lama, sebentar saja," Bujuk Ansel, lalu menyingkirkan kedua tangan Lisha yang masih erat memegang handuknya.


Ansel membuang handuk Lisha ke sembarang arah. Dari belakang dan masih sambil berdiri, Ansel tak henti membuat Lisha terus mendes*h, memberikan tanda kepemilikan di punggung Lisha, dengan tangan nakalnya yang terus menjangkau apa saja asal kenyal.


Merasa pemanasan sudah cukup, Ansel pun membuka ikat pinggangnya dengan cepat. Menurunkan kain terakhir, kemudian mengelus juniornya yang memang telah berdiri tegap sedari tadi.


Perlahan, Ansel membungkukkan tubuh Lisha. Kemudian mulai membenamkan senjatanya perlahan.


"Akhh! Ansel sakitt!" Jerit Lisha.


"Kenapa masih saja sempit, ah," umpat Ansel terus mendorong sambil memegang kedua bahu Lisha.


Hentakkan demi hentakkan membuat keringat membanjiri wajah tampan Ansel. Begitu pun Lisha, jerit serta erangan kesakitan Lisha rasakan, hingga akhirnya Ansel berhasil memasukkan juniornya pada sarang milik Lisha. Hingga Lisha tak lagi menjerit sakit, melainkan mengerang nikmat.

__ADS_1


Ansel terus memompa tubuhnya keluar masuk dari dalam inti Lisha, hingga pelepasan pertama Lisha dapatkan. Namun, berbeda dengan Ansel yang masih bertahan.


Ansel membawa Lisha maju hingga Lisha berpegangan pada meja rias. Ansel kembali memaju mundurkan tubuhnya, sambil tersenyum menatap Lisha yang terus mendes*h di dalam pantulan kaca.


Ansel tak menepati janjinya untuk membawa Lisha jalan-jalan pagi itu, karena hingga siang hari pun, keduanya masih bergelut di atas ranjang dengan berbagai macam gaya. Udara Dubai yang panas sekali pun, tak menjadikan Ansel menghentikan aksinya.


.


.


.


.


Hello mentemen semua, maaf ya, baru bisa update lagi nih. Othornya lemot nulis, tapi sok-sokan urus dua novel ongoing sekaligus.๐Ÿ˜“


Oh iya. Maaf juga untuk yang ikutin semua novelnya Othor. Apalagi yang sudah membaca novel Budakku Canduku, jelas disitu nama Ansel adalah Ansel Austin bukanlah Ansel Stewart. Jelas juga Othor bilang akan buat cerita Ansel no bawang alias uwu mulu.


Reader : Kenapa nama Ansel berdeda?


Othor : Ceritanya pengen kek drakor-drakor gitu๐Ÿ˜‚. Meski ada S1, S2, dan S3. Tapi, ceritanya udah beda banget.


Reader : Kenapa kisah ini bertabur bawang, Thor? Bukan kisah uwu seperti yang Othor janjikan?


Othor : Seperti yang kalian tau, rata-rata novel Othor itu kejam-kejam. Othor dah coba bikin alur dan plot uwu, tapi kagak nemu-nemu yang pas di hati. Pas bikin outline, alur, plot, dll malah melenceng ke ala-ala kumenangis lagi. Tapi yaudahlah, inilah basic author kejam ini, nggk bisa uwu๐Ÿ˜ช. Kalau reader tercinta tak suka, boleh melipir ke cerita lain yang uwu, banyak kok cerita bagus di sebelah kiri dan kanan, belakang dan depan, luar dan dalam, atas dan bawah. Selamat membaca reader semua, bahagia selalu๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Reader : Terus kata Author Ansel nggk sengaja nidurin anak gadis orang sampe punya anak usia 1 tahun. Ke mana gadis itu, Thor?

__ADS_1


Othor : No koment ๐Ÿค๐Ÿค๐Ÿค. Karena akan jadi kejutan nantinya๐Ÿ’ƒ


__ADS_2