Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 31


__ADS_3

"Kenapa aku begitu menyesal, Tuhan?" tangis Lisha yang kini duduk meringkuk di lantai dingin samping ranjang. Lisha menangis terisak-isak sambil memeluk lutut dan menenggelamkan kepala dalam-dalam.


Setelah puas meringkuk di lantai dingin hingga pucat, barulah Lisha berusaha untuk berdiri. Lisha berdiri sambil berpegangan di dinding, lalu membalikkan badan menatap Ansel yang kini terlelap di kasur dengan begitu nyenyak-nya.


Lisha mengepalkan tangannya, sesaat kemudian Lisha kembali sadar—bahwah apa yang terjadi kepadanya, bukanlah kesalahan Ansel, melainkan keinginan dan pilihannya sendiri.


Menyeka air mata yang mengalir, lalu melangkah berhati-hati menuju kamar mandi. Rasa perih yang tak kunjung mereda, membuat Lisha terus meringis hingga berhasil tiba di kamar mandi.


Lisha melepaskan selimut putih tebal yang tadi dia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Berdiri di bawah shower sambil memutar keran, lalu kembali meringkuk di bawah guyuran shower dengan tangisan pilu yang tak kunjung mereda.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Lisha merasa tubuhnya seakan kaku. Hingga pada akhirnya, dia memutuskan untuk menyudahi mandi. Lisha meraih jubah mandi yang tergantung, lalu memasang jubah itu ketubuhnya yang terus gemetar kedinginan.


Saat berada di luar kamar mandi, Lisha kembali berdiri di samping ranjang menatap Ansel dengan penuh rasa tak karuan. Puas memandang wajah tampan dengan rambut gondrong itu, Lisha pun memutuskan untuk pergi. Pergi ke mana pun, yang penting bisa membuatnya tenang.


Lisha berjalan gontai di lorong hotel, sesekali merapatkan kaki dikala merasakan perih—di bagian daerah intinya yang terkana gesekan ketika berjalan.


Beruntung sudah tengah malam, jadi tidak ada siapa pun yang akan melihatnya. Ketika sudah berada di lobby, Lisha menutupi wajahnya dengan telapak tangan—kala melewati beberapa karyawan yang tentu saja dia kenali.


"Lisha, kamu Lisha, bukan?" Tanya mereka sambil memaksa menyingkirkan kedua telapak tangan Lisha. Lisha tak ingin kalah, dia terus mempertahankan tangannya di wajah. Namun, tenaganya tidak sebanding dengan kedua tenaga karyawan yang bernama Nana dan Tara.

__ADS_1


"Lepasin, nggak!" Teriak Tara memaksa Lisha, hingga akhirnya Lisha mengalah.


"Ternyata dugaanku tidak salah, kamu memang Lisha. Jadi, kamu berhenti kerja karena sudah berganti status menjadi seorang perempuan jal*ng? Ahahah ... Lisha-lisha ... Nana, aku benar bukan? Perempuan yang terlihat baik dan diam seperti Lisha-lah yang kelakuanya menyaingi iblis."


"Iya, Tara, tepat sekali. Dia terlihat baik dan suci, tapi ternyata MU-RA-HAN," saut Nana mengeja tebal kata yang lagi-lagi menyakiti hati Lisha.


Lisha tak peduli, dia menyingkir dari kedua wanita seksi itu, lalu berjalan dengan cepat. Nana dan Tara membiarkan Lisha pergi. Namum, keduanya saling pandang. Nana menganggukkan kepalanya kepada Tara, dan Tara melirikkan kepalanya kiri dan kanan. Merasa aman, dia berjalan sedikit berlari mengejar Lisha. Tepat saat Lisha menuruni 5 anak tangga untuk keluar dari hotel, saat itulah Tara mendorong Lisha cukup kuat.


"Aaaakkhh!" Jerit Lisha yang kini sudah mendarat di aspal dengan luka lecet di lutut dan lengan. Juga darah segar mengalir dari keningnya—yang terbentur salah satu anak tangga.

__ADS_1


Sedangkan Tara, tertawa terbahak-bahak saking senangnya, karena berhasil membalaskan dendamnya kepada Lisha yang sangat dia benci, karena iri akan kecantikkan Lisha.


Tara dan Nana langsung bergegas menuju tempat semula, kala tak ingin ada yang melihat aksi kejinya.


__ADS_2