Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 58


__ADS_3

Lima belas menit perjalanan, akhirnya Ansel pun tiba di sebuah Mansion berukuran sedang yang berada tepat di samping sebuah proyek gagal yang sudah tak terurus.


Tempat yang agak sepi, hanya ada beberapa rumah warga yang ada di sana. Berlari kencang, Ansel masuk ke dalam Mansion yang terdiri dari dua lantai itu.


DOR!


DOR!


Dengan dua kali tembakkan menggunakan pistolnya, Ansel berhasil membuat pintu utama terbuka. Sekali terjangan pintu pun terbuka lebar.

__ADS_1


"Garvin di mana kamu!" Ansel masuk ke dalam sebuah kamar di lantai dasar. Namun, tak berhasil menemukan siapa pun. Kemudian, Ansel berlari menyusuri anak tangga guna menuju lantai dua di atas sana.


Begitu tiba di lantai dua, Ansel menyusuri lorong hingga berhenti dan segera menerjang pintu kamar pertama. Kembali tidak ada siapa pun di dalam sana. Ansel kembali berlari menuju ke kamar kedua, kamar terakhir di lantai atas. Saat berada di depan pintu itu, entah kenapa jantung Ansel berdetak lebih kencang. Menerima kenyataan bahwa Lisha yang kini dia cintai telah disetubuhi oleh lelaki lain, membuat emosi dan kecewa kini menguasainya.


Dua kali tendangan, akhrinya pintu pun terbuka. Ansel terdiam, pandangannya nanar, pistol yang dia bawa terjun bebas ke lantai.


Ansel mencoba melangkah walau berat kakinya untuk diangkat. Ansel berjalan perlahan, langkahnya begitu berat seperti ada sesuatu yang menahan kakinya agar tidak melangkah. Keringat dinginnya mengucur deras, tenaganya seakan menghilang membuat tubuhnya menjadi lemas tak berdaya. Bahkan napasnya terasa sangat sesak seakan udara menghilang dari ruangan kamar itu.


Seorang wanita yang kini begitu dia cintai. Lisha, terbaring tak berdaya dengan tetap terpejam tak kunjung sadarkan diri. Ansel membuka selimut itu dengan sekali tarikan, dan muncullah sosok Lisha yang terbaring lemah tanpa busana.

__ADS_1


Ansel menjatuhkan tubuhnya kasar ke lantai. Tidak ada kata yang dapat dia jelaskan saat ini, hanya ada kecewa dan penyesalan terdalam yang tak dapat dia ungkapkan seberapa besarnya. Wajahnya tiba-tiba saja memanas, hidungnya tersumbat hingga dirinya tak dapat bernapas dengan benar.


Tak lama, air mata yang selama ini pantang dia keluarkan, kini meluncur dari kedua sudut matanya. Ansel begitu menyesal dan merutuki kebodohan dan keteledoran dirinya.


Ansel menggenggam erat tangan Lisha dengan kedua tangannya yang bergetar, seakan meminta maaf kepada wanita yang kini telah di sentuh pria lain akibat kebodohannya.


Tidak pantas dirinya disebut sebagai Suami, bahkan dirinya tidak pantas di sebut sebagai lelaki. Segala kehormatan yang selalu dia junjung tinggi hancur. Ansel merasa bahwa dirinya adalah seorang lelaki yang tidak punya harga diri.


Tangisan Ansel pecah sambil menggenggam erat lengan Lisha. Namun, Lisha tak kunjung sadarkan diri. Rasa sesal kembali menguasainya, tanpa sadar, Ansel memukul lantai berkeramik dengan salah satu tangannya hingga darah segar mengucur deras.

__ADS_1


Ansel menyadarkan dirinya, mengingatkan dirinya kalau saat ini Lisha membutuhkan bantuannya. Ansel kembali berdiri, mengusap air mata dengan kasar, lalu membungkus seluruh tubuh polos Lisha dengan selimut tebal itu. Lalu menggendong Lisha keluar dari Mansion terkutuk itu.


Beruntung sudah malam hari, hingga tak ada satu pun orang yang mungkin akan salah paham dengan tindakannya. Ansel membaringkan Lisha di belakang kemudi dengan begitu perlahan. Setelahnya, dia segera tancap gas untuk pulang ke rumah.


__ADS_2