Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 63


__ADS_3

Setelah kepergian Lisha, Ansel masih terdiam duduk di atas kasur. Ansel memegang dadanya yang terasa sesak, pria mana yang tidak sakit hatinya saat melihat wanita yang dicintai menangis serta menderita karena ulahnya.


Ingin sekali Ansel meraihnya, merangkulnya masuk ke dalam pelukan hangatnya. Namun, keegoan Ansel begitu tinggi hingga lebih memilih diam daripada menenangkan Lisha. Bukan apa-apa, hanya saja, Ansel belum bisa menerima kejadian sebelumnya. Kejadian di mana dirinya melihat dengan mata kepalanya sendiri saat pria lain menjamah tubuh wanita yang dia cintai.


Ansel tau dirinya kekanak-kanakan, tidak seharusnya dia berperilaku dingin kepada Lisha, karena bagaimana pun, Lisha adalah korban dari kesalahannya di masa lalu. Entah kesalahan apa itu, Ansel tidak tau. Tapi, dia juga merasa memang punya salah yang begitu besar terhadap seseorang. Namun, dia tak dapat mengingat kesalahan apa itu.


Berusaha mengingat hal yang tak diingat, membuat Ansel malah mengingat sesuatu yang tidak ingin dia ingat. Ya, Ansel ingat saat dirinya putus asa dan kecewa setelah kepergian Ilona Willa Sang Mantan Istri, saking putus asanya, Ansel hampir kehilangan nyawanya. Di negara inilah, Ansel hampir meregang nyawa. Dia melompat dari kapal pesiar dan akan bunuh diri. Bukannya mati sesuai keinginan, tapi dirinya malah terjebak selama tiga hari di sebuah pulau yang sekarang dia beli dan dia beri nama, yaitu pulau Mabuk Perawan.


"Maafkan aku Lisha. Meski kamu tidak hamil akan aku pastikan kamu akan tetap berada di sisiku, walau dengan menyaksikan kamu terluka. Maafkan keegoisanku, aku benar-benar sangat mencintaimu, biarlah waktu yang akan menentukan layakkah aku untukmu. Aku tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya," gumam Ansel.


Deerrtt!

__ADS_1


Getaran ponsel membuat Ansel tersadar dari lamunan. Panggilan yang masuk, melihat layar, tertera nama Asisten Deon di sana, Ansel segera mengangkatnya.


"Ada apa, Deon?" Tanya Ansel.


"Tuan Jackson investor dari Inggris, ingin melihat desain pulau yang Tuan buat sendiri. Dia mengatakan ingin melihatnya besok, Taun," jelas Asisten Deon sopan.


"Besok? Baiklah aku akan membawanya besok," saut Ansel.


Setelah memutuskan panggilan, Ansel pun segera menuju ruang kerjanya guna menyempurnakan hasil desainnya.


***

__ADS_1


Kini, Lisha telah selesai makan malam. Seperti biasa, dia hanya makan dua sendok saja. Di sendok ketiga dia pasti akan merasa mual, untuk itulah dia hanya makan dua sendok.


Sedangkan tubuhnya yang semakin gemuk membuat Ansel salah mengira. Ansel mengira kalau Lisha makan banyak dan tidak stres dengan apa yang dia lakukan. Bahkan para pelayan pun juga salah paham. Mereka mengira Lisha sedang diet, makanya mereka pun tidak heran dengan porsi makan Lisha yang sangat jauh perbandingan dari sebelum-sebelumnya.


Lisha berjalan masuk ke dalam kamar. "Di mana Ansel? Ah, sepertinya dia bekerja. Dia bener-bener tidak peduli kepadaku," oceh Lisha naik ke atas ranjang lalu masuk ke dalam selimut untuk segera beristirahat. Meski sudah tidur siang seharian, tapi tetap saja Lisha selalu cepat meng'antuk.


Belum sempat Lisha terlelap, matanya terbuka saat ada pergerakan yang menandakan ada seseorang yang naik ke atas ranjang. Aroma tubuh itu, tentu Lisha tau kalau itu adalah Suaminya.


"Tumben tidak tidur di ruang kerja," batin Lisha.


Tak lama kemudian, Lisha kaget saat Ansel memeluknya dari belakang. "Maafkan aku, Lisha," kalimat singkat Ansel membuat tubuh Lisha bergetar. Dia tak dapat menahan tangis serta sesak di dada. Ansel membalikkan tubuh Lisha, lalu membawa Lisha masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Lisha sangat terharu hingga tak dapat berkata-kata, dia bahagia, sangat bahagia. Selama ini, dia selalu merindukan akan pelukan hangat Ansel, dan kini dia kembali merasakannya. Lisha sangat bahagia hingga menangis dalam diam.


"Istirahatlah," ujar Ansel lembut.


__ADS_2