Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 74


__ADS_3

"Tanyakan kepada Dokter Adiva dulu, Ansel. Aku takut terjadi sesuatu kepada calon bayi kita," jelas Lisha kala Ansel meminta jatahnya setelah hampir dua bulan menahan nafsu yang terus membuncah.


"Baiklah, akan aku tanyakan lebih dulu," jawab Ansel tak sabaran dan langsung meraih ponselnya guna menghubungi Dr. Adiva.


"Hallo, ada apa, Tuan Ansel? Apa ada yang bisa saya bantu?" Terdengar suara khas bangun tidur dr. Adiva.


"Begini, Dokter, kondisi Lisha sekarang sudah menjadi lebih baik. Apakah saya dan Lisha sudah diperbolehkan bila ingin berhubungan intim?" Tanya Ansel lancar dan santai, berbeda dengan Lisha yang langsung menutup wajahnya karena merasa sangat malu.


"Tentu, Tuan. Tentu sudah boleh, tapi dengan syarat harus berhati-hati dan jangan sampai membuat Nona Lisha merasa tidak nyaman. Durasinya juga jangan terlalu lama serta jangan gunakan posisi yang ekstrim, karena dapat membuat Nona Lisha kelelahan. Tuan harus sangat berhati-hati," jelas dr. Adiva membuat Ansel tersenyum bahagia.


"Baik. Saya mengerti, terima kasih banyak, Dokter," ucap Ansel langsung memutuskan panggilan sepihak.


"Ayo sayang, kita mulai!" Ujar Ansel bersemangat.


"Tu-tunggu dulu, Ansel."


"Apalagi, Sayang?"

__ADS_1


"Aku ingin ke kamar mandi dulu sebentar. Janji tidak akan lama," mohon Lisha, dan Ansel pun mengizinkan dengan terpaksa.


Beberapa menit kemudian....


Tok, tok, tok ....


"Lisha, kamu kenapa, Sayang?" Ansel mengetuk pintu kamar mandi sambil memanggil Lisha yang terlalu lama berada di kamar mandi.


"Em, iya. Sebentar lagi aku akan keluar," saut Lisha berteriak agar terdengar.


Tak lama, pintu kamar mandi pun terbuka. Ansel terlihat kaget dengan penampilan Lisha yang tengah memakai gaun tidur yang sempat Lisha tolak ketika Ansel memilihnya.


"Aakhh!" Lisha terpeleset karena tak sengaja menginjak bagian bawah gaun yang panjang menerawang. Ansel langsung menangkap tubuh Lisha sebelum berakhir terjatuh ke lantai.


"Ahahah ...." Lisha tak dapat menahan tawanya kala melihat ekspresi Ansel. Ansel membenarkan posisi Lisha dengan mata yang masih menatap Lisha dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Kamu semakin seksi saat tertawa, Sayang," goda Ansel dengan kilatan nafsunya.

__ADS_1


"Ish, aku tertawa karena ekspresimu saat melihatku keluar dari kamar mandi dengan pakaian ini, sama persisi dengan ekspresi yang kamu perlihatkan saat pertemuan kedua kita. Saat aku keluar dari kamar mandi juga mamakai pakaian seperti ini. Dan kesimpulanku, kamu sudah mempunyai rasa kepadaku sejak saat itu. Aku benar, bukan?" Lisha melingkarkan kedua tangannya di leher Ansel.


"Salah. Tebakanmu salah, Sayang," sambung Ansel langsung mengangkat tubuh Lisha dan dengan sigap Lisha melingkarkan kedua kakinya di pinggul Ansel.


"Ah, jadi tebakanku salah. Jangan bilang kamu menyukaiku sejak mengetahui kalau aku masih virgin?"


"Salah, jawabanmu salah lagi. Sekali lagi salah, kamu harus menciumku duluan," Ansel mengancam Lisha dengan tersenyum licik.


"Dari tadi aku juga sudah menciummu duluan, cih!" Kesal Lisha.


"Haha, baiklah, aku akan mengaku kepadamu," jawab Ansel membaringkan Lisha perlahan ke atas ranjang.


"Sejak kapan? Awas saja kalau kamu baru menyadarinya setelah insiden video itu," Lisha mengalihkan pandangan menunjukkan sikap kesalnya.


"Kenapa hanya aku, kamu juga harus mengaku, sayang. Sejak kapan kamu menyukaiku, hem? Ah, tidak usah, pasti saat pertama bertemu bukan? Pesonaku memang luar biasa," jawab Ansel membanggakan diri.


"Narsis, ayo katakan sejak kapan kamu menyukaiku?" Desak Lisha tak sabaran.

__ADS_1


"Sejak ....


__ADS_2