
"Tu-tuan ...." Ujar Lisha terbata.
"Bawa kemari makananku!" Titah Ansel sambil menatap mie instan yang kini ada di ganggaman Lisha.
Tidak ada kata lain yang dapat Lisha utarakan selain, "Baik, Tuan."
Lisha berjalan pelan, lalu meletakkan mie yang sudah dia masak dengan segenap jiwa. Dia memberikan mie-nya dengan perasaan yang begitu tidak rela.
"Kamu kira aku Bab* yang makannya begitu banyak!" Ocehnya.
"Dan Tuan kira saya masak mie itu untuk Tuan, jelas itu porsi saya," kesal Lisha yang pastinya hanya di dalam hati. Mie instan dua porsi memang adalah porsi makan Lisha seperti biasanya ketika sudah gajian.
"Kalau begitu saya akan mengambil satu mangkuk lagi untuk menyalinnya," jawab Lisha langsung membalikkan badannya.
"Tidak perlu," cegat Ansel sambil memegang tangan Lisha. Lisha berbalik menatap tangannya yang di pegang Ansel, meyadari hal itu, Ansel langsung melepaskan lengan Lisha dengan kasarnya.
"Jangan membuang waktuku terlalu lama!" Bentak Ansel kemudian fokus kembali pada ponselnya.
"Baiklah, kalau begitu saya sudah boleh pergi, Tuan?"
"Mau ke mana kamu? Kamu tidak liat aku lagi ngapain! Cepat suapi aku!" Titah Ansel sambil memperlihatkan layar ponselnya ke hadapan Lisha.
"Baik, Tuan." Jawab Lisha pasrah, lalu memilih berdiri di samping Ansel, mengambil sesendok mie instan, kemudian dia suapkan ke mulut Ansel yang belum juga terbuka.
"Apa lagi salahku?" Batin Lisha menjerit.
"Apa aku punya hutang padamu?" Tanya suara baritone itu tetap fokus pada layar ponselnya.
__ADS_1
Lisha yang mengerti maksud Ansel langsung mengambil posisi duduk di samping Ansel. Kemudian barulah Ansel membuka mulutnya, dan Lisha menyuapi Ansel dengan raut wajah yang tak rela.
Krucuk-Krucuk!
Suara nyaring yang berasal dari perut Lisha terdengar begitu keras.
"Aw!" Ringis Lisha kemudian tak sengaja menumpahkan sendok berisi mie ke celana Ansel.
"Kau!" Bentak Ansel kemudian terkejut kala melihat wajah pucat Lisha.
"Tu-tuan, perut saya sakittt," ujar Lisha sambil memeluk perutnya erat.
"Apa kamu ingin membohongiku agar tidak aku marahi!?" Saut Ansel tetap keukeuh dengan amarahnya.
Lisha benar-benar tak lagi sanggup menahan sakit di perutnya, hingga akhirnya Lisha pun pingsan hingga terjerambab ke dalam pelukkan Ansel yang langsung menangkap tubuh Lisha yang terhuyung.
Setelah membaringkan Lisha, Ansel akan pergi karena ingin menelpon dr. Diko.
"Tuan mau ke mana?" Cegat Lisha yang ternyata sudah sadar.
"Apalagi? Tentu saja memanggil Dokter," sarkas Ansel.
"Tidak perlu, Tuan. Mag saya hanya kambuh karena belum makan seharian. Bila saya makan, saya akan langsung baik-baik saja," kata Lisha.
"Baiklah, tunggu di sini. Aku akan memanggil pelayan untuk mengurusmu," jawab Ansel, sepertinya Ansel tidak ingin memperlihatkan sisi baiknya di hadapan orang lain.
"Terima kasih, Tuan." Ucap Lisha tulus sambil tersenyum senang, setidaknya sekarang dia paham, kalau Ansel bukanlah pria sekejam yang dia pikirkan selama ini.
__ADS_1
Ansel angsung keluar dari kamar itu, kemudian memanggil Bibi Lili dan memberitahu Bibi Lili untuk mengurus Lisha.
Ansel mengusap rambut gondrongnya kasar, karena pusing dengan keadaannya kini.
"Ansel, Mommy ingin bicara," ujar Nyonya Mina.
"Apa yang ingin Mommy katakan? Aku lelah, Mommy." Jawab Ansel.
"Kemarilah, duduk di sini." Ajak Nyonya Mina meminta Ansel untuk duduk di sofa. Ansel menuruti perintah sang Mommy dengan terpaksa.
"Katakanlah," ucap Ansel ketika menghenyakkan bokongnya di hadapan Sang Mommy.
"Mommy mau Cucu," ucap Nyonya Mina to the point.
.
.
.
.
Ansel Stewart
Aqeela Glisha
__ADS_1