
Keesokan harinya....
"Lisha sayang, bangunlah. Kalau tidak kita akan ketinggalan pesawat," ujar Ansel yang telah rapi dengan pakaian formalnya. Sedengakan Lisha masih nyaman bergelut di bawah selimut.
"Dingin, aku tidak mau ke mana pun," jawab Lisha tetap memejamkan mata dan kembali menarik selimutnya.
"Kalau tidak mau mandi, setidaknya kamu harus mengganti baju. Atau aku akan mengangkatmu langsung masuk ke dalam pesawat dengan gaun itu," ancam Ansel berhasil membuat Lisha bangun dengan mengerucut bibirnya.
Lisha menjuntaikan kakinya dan Ansel akan langsung menggendong Lisha. Namun, urung kala Lisha menolak. "Kamu pikir aku sudah memaafkanmu, cih! Aku masih marah padamu. Jadi, jangan sentuh aku, aku bisa sendiri," ucap Lisha langsung bangkit, lau berjalan masuk ke dalam kamar mandi sambil mengelus perut buncitnya.
Tak lama kemudian, Lisha pun telah siap dengan pakaian sederhana namun tetap elegan. Ansel mendorong koper yang berisi pakaian Lisha, sedangkan pakaiannya dia tinggalkan di resort pribadinya itu.
__ADS_1
Ansel akan menggandeng Lisha, namun ditepis oleh Lisha. "Jangan sentuh aku, aku masih marah!" Ujar Lisha membuat Ansel tersenyum samar karena tingkah Lisha yang unik menurutnya.
"Humor hamilnya aneh. Marah pakai bilang-bilang segala, aku yakin kalau aku benar-benar akan mendapatkan seorang Putri yang manis," batin Ansel bahagia.
Selama perjalanan di pesawat, Ansel tidak istirahat apalagi tidur. Lisha yang terus muntah bahkan sempat pingsan membuatnya kualahan menjaga Lisha. Tapi, berkat hal itu Lisha tak lagi mendiaminya.
Perjalanan yang cukup lama, hingga pada akhirnya keduanya tiba di Negara X tepat di sore harinya. Tiba di Mansion, Ansel langsung membawa Lisha ke kamarnya. Ansel telah menelpon dan memberitahu Mommy-nya untuk memanggil Dr. Yuna. Untuk itulah Dr. Yuna telah lebih dulu ada di kamar Ansel bahkan sebelum Ansel dan Lisha tiba di Mansion. Dan saat itu juga dr. Yuna langsung memeriksa kondisi Lisha.
"Bagaiamana, Yuna?" Tanya Ansel khawatir.
"Baiklah, aku akan menyiapkan makanan untuknya. Tolong jaga Lisha sebentar," ujar Ansel akan segera melangkah. Namun dicegat oleh sang Mommy.
__ADS_1
"Ansel, tidak usah repot-repot, ada Bibi Lili yang akan menyiapkan segalanya,"
"Tidak bisa Mommy, Lisha hanya ingin makan bila aku yang siapkan. Mommy jagain Lisha sebentar, aku tidak akan lama," Ansel melepaskan tangan Sang Mommy yang menarik jasnya, kemudian keluar dari kamar menuju dapur di lantai bawah, meninggalkan Lisha yang kini ketakutan saat tatapan Nyonya Mina tiba-tiba berubah saat Ansel pergi.
"Hei! Kamu kira Putraku seorang pembantu, ha!" Bentak Nyonya Mina membuat air mata Lisha langsung menetes. Lisha merutuki dirinya yang lemah.
"Nyonya tenanglah, dia sedang hamil Cucu Nyonya," dr. Yuna berusaha menenangkan.
"Belum tentu benar-benar Cucuku," ketus Nyonya Mina.
"Dia benar-benar anak saya dan Ansel, Nyonya," Tegas Lisha dengan suara yang pelan namun menekan.
__ADS_1
"Kamu pikir aku akan percaya begitu saja pada perempuan hina sepertimu!"
"Siapa yang Mommy sebut hina?"