Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 08


__ADS_3

Setitik air mata lolos tanpa sanggup Lisha tahan kala mendengar penuturan sang ibu yang terasa begitu menusuk di hatinya. Menyebab luka tak berdarah yang ia torehkan seorang diri.


"Maafin Lisha, Bu." Ucap Lisha dalam hati.


"Kenapa menangis, nak?" Tanya ibu Santi menyeka perlahan setitik air mata di pipi sang putri.


"Lisha sudah terjebak dalam lingkaran yang begitu gelap, dan Lisha tidak lagi bisa ke luar dari sana. Maafkan Lisha Ibu, maafkan putri ibu yang penuh dosa ini," batin Lisha pilu


"Lisha hanya tidak suka ibu berbicara seperti itu. Lisha tidak bisa hidup tanpa ibu. Lisha yakin ibu pasti akan segera sembuh." Jawab Lisha yang kini berbalik menggenggam jemari sang ibu yang telah berkerut.


"Amin, Ibu akan berusaha bertahan demi kamu dan juga adikmu. Selalu ingatl pesan ibu, jangan pernah berbuat dosa sesulit apa pun yang terjadi." Pesan ibu Santi menatap mata Lisha penuh harap.


"Pasti ibu, Lisha akan berusaha semampu Lisha." Jawab lisha yakin.


"Maafkan hambamu ini Tuhan," ucap Lisha dalam hati.


Derrt!


"Sebentar, ya, Bu. Lisha jawab telpon dulu," pamit Lisha segera ke luar dari ruangan sang ibu.


Tiba di luar, Lisha segera mengangkat panggilan yang berasal dari Nyonya Mina.


"Ha-hallo, Nyonya," sapa Lisha pelan.


"Kamu kemana saja, ha!? Sudah jam berapa ini, cepat datang ke rumahku sekarang juga"


"Nyonya sa—"


Ttutt!


Belum sempat Lisha berkata, panggilan sudah diakhir sepihak oleh nyonya Mina.


"Semoga hamba tidak salah dalam melangkah ya Tuhan. Hamba yakin ini adalah jalan yang kau takdirkan untukku, baik atau pun buruknya. Hamba akan berusaha seikhlas mungkin menjalaninya." Ujar Lisha memantapkan hati bawah pilihannya tidaklah salah.


Lisha memutar badanya, kembali masuk ke dalam ruang rawat sang ibu.


"Ibu, Lisha pamit. Ada pekerjaan untuk Lisha di kantor. Barusan bos Lisha langsung yang menelpon." Pamit Lisha pada sang Ibu.

__ADS_1


"Jam berapa kamu pulangnya, Nak? Kasian adikmu," ujar ibu Santi menatap kasihan putrinya yang kini tergeletak di atas sofa yang masih berada di dalam ruang rawatnya.


"Seperti biasa, Bu. Seperti biasa Lisha mungkin akan pulang pada malam hari. Tapi barusan Lisha sudah meminta tolong kepada Suster untuk menyiapkan makanan untuk Casey sekalian." Sambung Lisha mengerti kekhawatiran sang ibu.


"Baiklah, Nak. Hati-hati dalam berkeja, jangan mengecewakan apa lagi merugikan bosmu. Sampaikan ucapan terima kasih ibu karena telah mau membiayai pengobatan ibu selama berada di rumah sakit ini,"


"Iya, Ibu. Pasti akan Lisha sampaikan. Kalau begitu Lisha pamit, Bu." Tutur Lisha kemudian menciumi tangan sang ibu.


"Ingat selalu pesan ibu, ya, Nak." Ucap ibu Santi tak bosan mengingatkan sang anak.


"Pasti ibu," jawab Lisha pelan, kemudian memutar tubuh menuju sofa lalu mencium kening sang adik yang tengah terlelap setelah kenyang makan.


Kini, Lisha sudah berada di depan rumah sakit. Lisha urung akan menyeberang kala seorang pria berpakaian serba hitam seperti semalam menghentikan langkahnya.


"Tu-tuan," saut Lisha terbata.


"Mari, Nona. Nyonya sudah menunggu Nona." Ucapnya lugas.


"Ba-baiklah," jawab Lisha mengekor di belakang sang supir, kemudian masuk ke dalam mobil bagian belakang yang sudah dibuka oleh supir berwajah menyeramkan itu.


"Panggil saja nama saya, Nona. Nama saya Deon. Panggil saja saya Deon," jawab Supir yang ternyata bernama Deon.


"Iya, Tuan Deon. Apakah kita akan langsung ke rumah Nyonya Mina?" Tanya Lisha untuk kedua kalinya.


"Deon saja, Nona. Iya, saya ditugaskan untuk membawa Nona ke Mansion Stewart." Jawab Deon pada akhirnya.


"Oh, baiklah," jawab Lisha kembali diam, karena bingung harus bertanya apa lagi untuk memecah keheningan di dalam mobil itu.


"Deon apa—"


"Kita sudah sampai, Nona." Ucap Deon lebih dulu membuat Lisha mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Lisha meneguk salivanya kala melihat batapa mewahnya rumah bertingkat tiga yang begitu luas di hadapannya kini. Cukup lama Lisha termenung menatap gedung mewah itu, hingga akhinya Deon menyadarkannya.


"Silahkan, Nona." Ujar Deon membuka pintu mobil, mempersilahkan Lisha untuk keluar.


Lisha pun segera keluar dari mobil, meski dengan hati yang tak karuan. Dia mulai melangkahkan kaki keluar dari mobil dan mengekor di belakang Supir Deon yang membawanya masuk ke dalam Mansion mewah keluarga Stewart.

__ADS_1


Ragu-ragu Lisha menginjakkan kakinya di lantai rumah mewah itu. Apalagi menatap para pengawal berbaju hitam yang berbaris rapi di sepanjang pintu utama.


"Sebelah sini, Nona." Ujar Deon mengarahkan Lisha. Lisha tampak mengikuti dengan patuh. Sambil berjalan, Lisha terus menundukkan kepalanya, perasaan takut kini mendominasi memenuhi hati juga pikirannya.


"Nyonya. Saya sudah membawa Nona Lisha." Lapor Deon membuat Lisha mengangkat kepalanya, menatap Nyonya Lisha yang kini duduk di sofa kebesarannya, dengan segala kearoganannya.


"Bagus, sekarang kamu boleh pergi," titahnya tak bergeming dari duduknya.


"Baik, Nyonya." Jawab Deon menundukkan tubuhnya kemudian pergi dari ruang tamu meninggalkan Lisha seorang bersama dengan Nyonya Mina.


"Duduklah," tunjuk Nyonya Lisha ke sebuah sofa berwarna putih di hadapannya. Dengan langkah yang begitu berat, Lisha duduk di kursi itu.hawa panas, sekaligus dingin Lisha rasakan.


"Ini, tanda tangani berkas ini," titah Nyonya Mina mengulurkan seberkas dokumen kepada Lisha.


"Ini apa, Nyonya?" Tanya Lisha pelan.


"Itu surat kontrak pernikahan. Setalah menandatangani dokumen itu, kamu telah sah menjadi istri kedua dari putraku, Ansel. Cepat tandai tangani kontrak itu!" Desak Nyonya Lisha.


"Pernikahan macam apa ini, ya Tuhan?" Ujar Lisha yang hanya bisa mengeluh dalam hati.


"Apa lagi yang kamu tunggu, segera tanda tangani. Putraku sudah menandatanganinya, tinggal kamu yang belum." Kesal Nyonya Mina lagi-lagi mendesak Lisha.


"Saya ingin membacanya lebih dulu, Nyonya. Setelahnya baru akan saya tanda tangani." Jawab Lisha memberanikan diri.


"Ck! Kamu pikir aku akan memberikan kamu pilihan lain. Di sana tertera kontrak bahwa kamu hanya akan menjadi istri Ansel selama masa sebelum hamil dan juga selama masa hamil. Setelah melahirkan, kamu akan langsung diceraikan. Hanya itu isi surat itu, tidak ada hal lain. Dan selama kamu menjadi istri Ansel, putraku. Pengobatan serta perawatan Ibumu akan menjadi tanggung jawabku. Jadi, cepat tanda tangani!"


"Ba-baiklah, Nyonya." Jawab Lisha menorehkan tanda tangannya dengan bergetar. Ada keraguan yang begitu besar Lisha rasakan. Namun, dia langsung memantapkan hatinya kala mengingat sang ibu juga adiknya.


"Sudah, Nyonya." Jawan Lisha kembali mengulurkan dokumen itu.


"Bagus. Ingat satu hal lagi, selama kamu menjadi istri Ansel. Kamu tidak boleh keluar dari Mansion ini. Kamu harus tetap berada di sini, hingga kamu melahirkan suatu hari nanti," ujar Nyonya Mina membuat Lisha begitu terkejut.


"Ta—tapi, Nyonya. Nyonya tidak mengatakan hal ini sebelumnya." Bantah Lisha.


"Dengar, ya, Lisha. Semua itu juga tertulis di kontak pernikahan ini. Jadi, kamu tidak punya pilihan lain untuk menolak," jawab Nyonya Mina tersenyum smirik.


"Kenapa aku sangat bodoh," batin Lisha dengan setetes air mata yang lolos dari salah satu sudut matanya.

__ADS_1


__ADS_2