Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 11


__ADS_3

"Mari Nona," ajak Bibik Lili, dan Lisha pun mengekor di belakangnya masuk ke dalam lift menuju lantai 3 di mana kamar Alvin berada.


"Silahkan masuk, Nona," Bibi Lili menbukakan pintu kamar dan Lisha pun segera masuk ke dalam kamar mewah yang begitu luas itu, kamar yang sama luasnya dengan lapangan bola basket. Walau ukurannya di luar batas kamar pada umumnya, tapi isinya tidak jauh berbeda dengan kamar biasanya. Ada ranjang king size yang terletak di dekat dinding. Lemari pakaian, meja berkas, juga meja rias, yang dipenuhi oleh peralatan pria seperti minyak rambut dan yang lainnya.


Lisha tampak kebingung ketika menyusuri setiap sudut kamar dengan matanya. Kamar yang didominasi warna abu-abu itu, tidak menunjukkan sama sekali akan adanya seorang wanita yang juga tinggal di dalamnya. Semua peralatan yang terdapat di kamar, hanya peralatan seorang pria. Benar-benar tidak ada jejak wanita di sana.


Lantas, di manakah istri pertama dari seorang Ansel Stewart. Bukankah pria kusut berambut gondrong itu telah memilki istri sebelumnya. Ke mana dan di mana istrinya tinggal. Semua yang Lisha saksikan benar-benar membuatnya tak bisa berpikir.


Tok. Tok. Tok.


"Silahkan masuk," saut Bibik Lili ketika pintu kamar yang sedikit terbuka, diketuk seseorang dari luar.


Tak lama setelah sautan Bibik Lili, seorang wanita cantik dengan rambut pendek berbaju putih khas dokter masuk ke dalam kamar bersama dengan sekitar 6 orang gadis muda yang berpakaian sama dengan Bibik Lili.

__ADS_1


"Kalian, silahkan lakukan tugas kalian," titah Bibik Lili, mendengar titahan atasan mereka, ke enam pelayan itu mendekati Lisha, dua orang yang berada di kiri dan kanan mengunci kedua lengan Lisha.


"Eh, ada apa ini Bibik Lili? Saya mau di bawa kemana? Tanya Lisha sambil berontak minta dilepaskan.


Tidak ada jawaban dari Bibik Lili ataupun dari Dokter Yuna. Keduanya tampak pasrah dengan pasien besar mereka untuk hari ini.


Sedangkan ke enam pelayan itu, mulai membawa paksa lisha hingga masuk ke dalam kamar mandi. Mereka benar-benar menganggap angin lalu teriaknya Lisha yang terus berontak.


Tiba di kamar mandi. Lisha begitu terkejut sekaligus malu, kala ke enam pelayan tadi menel*njanginya, kemudian membersihkan tubuhnya hingga sebersih-bersihnya. Bahkan memotong kuku juga mereka lakukan. Tak hanya itu saja, mereka juga mencukur semua bulu-bulu di tubuh Lisha. Tak lupa juga dua orang pelayan memijit pelan tubuhnya hingga dia merasa menjadi begitu rileks.


Kecantikannya yang selama ini tertutup, kini terpampang nyata. Masih dengan memakai jubah mandi, Lisha digiring hingga berdiri di samping ranjang yang dr. Yuna duduk di sisinya, sedangkan para pelayan tadi termasuk Bibik Lili berbaris rapi di hadapan ranjang.


"Silahkan berbaring, Nona." dr. Yuna berkata sambil membuka kancing tasnya yang berukuran sedang berwarna hitam polos.

__ADS_1


"Sa-saya baik-baik saja, Dokter. Saya tidak sakit sama sekali," imbuh Lisha memberanikan diri.


Dr. Yuna yang tadinya menunduk, kini mengangkat wajahnya memandang Lisha dengan dahinya yang berkerut. "Apa Nona tidak ingin cepat hamil?" Pertanyaannya membuat Lisha menggeleng dengan cepat.


"Tidak, Dokter. Saya ingin cepat hamil dan saya harus cepat hamil." Jawab Lisha cepat dan lugas. Ya, dirinya memang harus cepat hamil, agar operasi ibunya semakin cepat pula. Dia juga tidak ingin tinggal lama-lama di lubang neraka ini. Lisha ingin segera hamil kemudian melahirkan, agar bisa terbebas dari neraka yang dipenuhi iblis ini.


"Kalau ingin cepat hamil, sekarang berbaringlah," Lisha menurut, dengan cepat dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Buka kedua pahamu lebar-lebar,"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2