Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 53


__ADS_3

"Ada apa, sayang?" Melihat Lisha yang tampak diam, Ansel pun bertanya.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin berlari di pinggir pantai itu, tapi sepertinya sangat melelahkan," kata Lisha sambil membenarkan rambutnya yang tertiup angin.


"Aku akan mengabulkannya, sekarang naiklah," Ansel berjongkok di hadapan Lisha. Untuk yang entah keberapa kalinya, dia akan kembali menggendong Lisha guna menyusuri pantai.


Lisha tersenyum bahagia, entah kenapa dirinya sangat senang saat Ansel mau menuruti apa pun yang dia inginkan. Hingga sore hari, keduanya terus bermain air di pinggir pantai. Setelah puas memandangi sunset indah. Barulah keduanya kembali ke tempat semula. Di sana, sudah ada Asisten Deon menunggu, tepat dibelakang Asisten Deon juga siap sebuah helikopter yang akan mengantarkan Ansel dan Lisha untuk kembali pulang ke resort.


Asisten Deon memberikan dua jubah tebal kepada Ansel. Pertama, Ansel memasang Jubah ke tubuh Lisha terlebih dahulu. Kemudian, barulah dia memasang Jubah itu ke tubuh kekarnya. Begitu selesai, keduanya segera naik ke helikopter, dan perjalanan pulang pun dimulai.


Beberapa menit kemudian, helikopter telah mendarat di halaman resort pribadi Ansel. Dengan begitu berhati-hati, Ansel memapah Lisha yang terlihat begitu lemas serta lesu.


Ditengah-tengah perjalan akan masuk ke Resort, tiba-tiba saja Lisha muntah dengan hebatnya. Hal itu tentu membuat Ansel, Deon dan pengawal lainnya panik. Sambil berjongkok, Lisha mengeluarkan segala makanan yang dia makan selama di pantai. Ansel ikut berjongkok di belakang Lisha, sambil mengurut pelan leher Lisha guna mengurangi mual yang kini Lisha alami.


"Cepat ambilkan air putih!" Titah Ansel, seorang pengawal bergegas memberikan sebotol minuman mineral kepada Ansel. Setelah Lisha agak mendingan, Ansel membantu Lisha minum.


"Apa masih ingin?"

__ADS_1


"Sudah, sudah lebih baik," jawab Lisha lemah.


"Siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang!" Pekik Ansel pada Asisten Deon.


"Baik, Tuan," jawab Asisten Deon cepat.


"Asisten Deon," Saat itu juga Asisten Deon membalikkan badannya.


"Ada apa, sayang?" Tanya Ansel lembut.


"Tidak usah ke rumah sakit. Aku hanya mabuk udara saja, ini pertama kalinya aku naik helikopter, angginnya yang kencang membuatku begini," jawab Lisha masih dalam keadaan lemas.


"Istirahatlah dulu, aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan minuman jahe untukmu," Ansel menyelimuti seluruh tubuh Lisha dengan selimut tebal.


"Terima kasih, Ansel," jawab Lisha tulus. Ansel keluar dari kamar, lalu kembali dengan membawa segelas minuman jahe hangat.


"Kenapa belum tidur?" Ansel meletakkan gelas di atas nakas, kemudian duduk di samping Lisha.

__ADS_1


"Humm!" Desis Lisha sambil menutup mulutnya erat. Lisha segera bangkit akan menjauh dari ranjang.


"Lisha, apa yang terjadi sayang?" Cegat Ansel khawatir.


"Bau minuman itu membuatku ingin muntah, Ansel. Aku mohon singkirkan dia," jawab Lisha masih menutup mulutnya.


Ansel mengerutkan alis, namun dia tetap menuruti permintaan Lisha. Ansel membawa minuman itu ke dalam kamar mandi, membuangnya ke dalam kloset, kemudian meletakkan cangkirnya di sana. Setelah selesai, Ansel kembali lagi ke ranjang.


"Apa sudah mendingan?" Sambil berjalan, Ansel bertanya.


"Hu'um," jawab Lisha sambil mengangguk.


"Kenapa masih belum tidur?" Kini Ansel duduk di pinggir ranjang sambil mengelus rambut Lisha. Lisha memejamkan matanya menikmati perhatian yang Ansel berikan.


"Aku tidak bisa tidur," jawab Lisha menitikkan air mata. Melihat itu Ansel pun menjadi semakin khawatir.


"Kenapa, sayang? Kenapa tidak bisa tidur? Apa mimpi buruk?" Lisha menggeleng sambil tetap menangis.

__ADS_1


"Lalu kenapa? Apa lapar? Apa ingin makan sesuatu?" Tanya Ansel lagi, dan Lisha kembali menggeleng membuat Ansel semakin bingung. "Lalu kenapa? Katakanlah?" Sambung Ansel tetap berusaha untuk bersikap manis dan lembut untuk wanita yang kini dia sayangi.


"Aku tidak tau, hiks ... Aku sangat meng'antuk, Ansel. Tapi ... Tapi tidak bisa tidur, huwa!"


__ADS_2