
"Perusahaan Gyn Grup adalah milikmu, bukan? Dan Eriska adalah orangmu."
"Akhirnya kamu tahu juga," Garvin menjawab dengan santainya membuat Ansel heran.
"Kenapa kau membunuh Eriska? Bukankah dia orangmu?" Tanya Ansel lagi.
"Aku membunuh?" Tunjuk Garvin pada dirinya.
"Pengawal!" Panggil Garvin memberi kode dengan tangannya. Seorang pengawal mengangguk kemudian mengambil laptop dan memperlihatkan sebuah video di laptop itu ke hadapan Ansel.
Mata Ansel membulat sempurna ketika melihat sendiri siapa dalang di balik meninggalnya Eriska.
"Kau merekayasanya!" Bentak Ansel berdiri akan menghajar Garvin. Namun, itu tidak bisa dilakukan karena beberapa orang pengawal telah lebih dulu menahan tubuhnya.
"Untuk apa aku merekayasanya?" Tanya Garvin bangkit lalu berdiri tepat dihadapan Ansel.
__ADS_1
"Ibumu memang pembunuh! Dan kamu adalah seorang penjahat s*ksual!" Bentak Garvin tanpa aba-aba langsung menodongkan pistolnya ke arah kaki Ansel.
DOR!
"Aaakh!" Teriak Ansel kesakitan sekaligus terkejut dengan apa yang Garvin lakukan kepada-nya. Ansel terjatuh ke lantai dengan darah segar mengalir dari kakinya.
Garvin berjongkok di hadapan Ansel dan memutar-mutar pistolnya. Sedangkan Ansel masih terdiam, tidak menyangka dengan keganasan seorang Garvin.
Ansel datang tanpa persiapan apa pun, tanpa pengawal, tanpa pistol. Pistolnya dia tinggalkan di mobil. Ansel datang ke kediaman Garvin hanya ingin mencari kebenaran, sekaligus meminta maaf. Tapi, tidak disangka ternyata Garvin adalah seorang psikot yang hanya ingin membunuhnya.
"Bukankah aku sangat beruntung? Target datang sendiri menghantarkan nyawanya kepadaku. Aku tidak perlu susah-susah untuk menangkapnya," tutur Garvin santai.
"Bagus kalau kau sudah mengingatnya. Sekarang kau sadar kesalahanmu, bukan? Jadi, aku tidak perlu susah-susah untuk mengatakannya kepadamu. Sekarang katakan apa permintaan terakhirmu? Aku akan mengabulkannya sebelum peluruku ini tertanam di kepalamu," Garvin bertanya dengan santainya.
"Aku ingin bertemu dengan gadis itu," kata Ansel tegas.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan, ha! Apa kau kira aku akan mengizinkanmu untuk menemui Adikku setelah kau menghancurkan masa depannya dan membuatnya menderita!" Bentak Garvin mencengkram kerah baju Ansel.
"Aku hanya ingin meminta maaf padanya," kata Ansel lagi. Ansel tau dirinya salah, untuk itulah dia lebih memilih diam.
Jauh sebelum Ansel bertemu dengan Eriska dan juga Lisha. Kala itu, Ansel masih menjadi kekasih seorang Ilona Willa, wanita yang dulu begitu dicintai. Namun, hubungan keduanya kandas—kala Lona menemukan dirinya saat sedang menghabiskan malam dengan wanita lain.
Dan tanpa Ansel ketahui, gadis yang dia rengut kesuciannya itu adalah Adik dari Garvin Vience. Gadis mabuk, yang kunci kamarnya tertukar dengan seorang wanita bayaran yang Devan bayar untuk menjebak Ansel agar putus dengan Lona (novel bundaku candaku). Hingga akhirnya mereka menghabiskan malam bersama.
Ansel yang kala itu telah pergi lebih dulu tanpa sadar meninggalkan gadis yang memiliki nama lengkap Auristella Vience.
"Terserah apa yang akan kau lakukan kepadaku, aku tidak peduli. Yang aku inginkan hanya maaf darinya, sungguh aku tidak sengaja Garvin," jelas Ansel namun Garvin tak peduli.
"Kau kira aku akan membunuhmu lebih dulu, hahaha ... Ansel-ansel, kau itu terlalu bodoh," saut Garvin dengan cepat mengubah ekspresinya.
"Apa maksudmu? Masalah Ibuku yang membunuh Eriska, aku yakin polisi akan memberikan hukuman sesuai hukum di negara ini. Ini adalah dosaku, balaskan dendammu kepadaku. Jangan libatkan orang lain walau Ibuku sekali pun," tegas Ansel.
__ADS_1
"Bukan Ibumu, tapi Lisha, wanita yang begitu kau cintai itu," Garvin menekan tombol sambil mengarahkannya ke layar televisi.
"Beraninya kau!" Teriak Ansel.