
"Maaf, Tuan. Bukannya saya menolak. Tapi, saya tidak ingin menyusahkan Tuan lagi, saya sudah sangat berterima kasih karena Tuan telah menolong saya lagi dan lagi. Terima kasih banyak Tuan Garvin, saya berjanji akan membayarnya," tolak Lisha halus.
"Tidak masalah, Nona Lisha. Nona, kan, masih menyimpan kartu nama saya, hubungi saya kapan pun Nona memerlukan bantuan," tawar Gervin ramah dan tersenyum mematikan. Garvin dan Ansel, keduannya sama-sama tampan dan berkuasa, Lisha takut terjebak dalam lingkaran hitam kedua pria tampan dan berkuasa itu. Satu saja sudah cukup bagi Lisha untuk menyelamatkan nyawa Ibunya.
"Sekarang, Nona beristirahatlah, karena kondisi Nona belum pulih benar," titah Garvin lembut.
"Tidak perlu, Tuan. Saya sudah merasa semakin baik, seseorang pasti mencari saya saat ini, saya harus segera pulang, Tuan. Maaf sebelumnya, dan juga terima kasih," jelas Lisha membuka selimut, akan turun dari ranjang.
"Tu-tuan Garvin, pa-pakaian saya?" Lisha kaget saat baru menyadari bahwa kini tubuhnya tak lagi berbalut jubah mandi, melainkan dress cantik selutut berwarna biru lumut.
"Pelayan di Mansion saya yang memasangkannya, Nona," jawab Garvin yang mengerti kekhawatiran Lisha.
"Benarkah, Maaf, Tuan. Saya jadi soudzon."
"Tidak perlu minta maaf, Nona. Saya yang lupa memberi tau Nona dari awal. Nona masih lemah, mari saya bantu," tawar Garvin sopan, lalu membantu Lisha turun dari ranjang.
__ADS_1
"Ini kamar, Tuan?"
"Nona ada-ada saja. Tentu bukan, ini adalah kamar Adik saya. Tapi saya memang sering mengoleksi warna dan karekter kartun ini kalau saya merindukan Adik saya itu," Jelas Garvin jujur.
"Memang Adiknya Tuan ke mana?" Garvin memapah Lisha berjalan hingga keluar dari kamar. Dan lagi-lagi Lisha kembali terkejut dengan desain rumah megah itu.
Bukan hanya kamar saja yang berdesain hello Kitty warna pink. Tapi juga di setiap sudut Mansion mewah itu. Dinding, gorden, atap langit, bahkan perabotan mahal di setiap ruangan juga didesain karekter tokoh tersebut. Lisha menghentikan langkahnya karena tercengang dengan apa yang kini dia lihat.
"Semua ini didesain sendiri oleh Adik saya," tutur Garvin membuat Lisha menghentikan keterkagumannya.
Tiba di teras, Garvin membawa Lisha masuk ke dalam mobil mewahnya. Setelah memastikan Lisha sudah masuk ke dalam mobil dengan aman, Garvin pun langsung menutup pintunya.
Garvin memutari mobil, masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Melihat Lisha yang kesusahan memasang sabuk pengaman, Gervin pun mendekat bermaksud untuk membantu Lisha. Sontak Lisha kaget karena wajah Garvin hanya berjarak lima centi saja dari wajahnya.
Begitu selesai, Garvin akan mundurkan tubuhnya. Namun urung kala suka melihat Lisha yang terlihat gelisah karena grogi dan tak nyaman.
__ADS_1
Garvin memandang Lisha dengan senyuman maut, sedangkan Lisha langsung menundukkan wajahnya malu. Lisha menggaruk kepalanya yang tak gatal begitu Garvin memundurkan tubuhnya.
"Terima kasih, Tuan."
"Sama-sama, Nona Lisha," saut Garvin mulai tancap gas.
***
"Lebih cepat Deon! Jangan sampai terjadi apa-apa pada Lisha. Maksudku, aku tidak mau Mommy ngoceh lagi karena gadis itu menghilang." Ujar Ansel masih tetap tak ingin mengakui perasaan khawatirnya pada Lisha.
"Baik, Tuan," jawab Deon cepat.
"Tuan adalah pria yang baik, saya tau itu." Batin Deon seraya tersenyum samar.
"Tuan, bukankah itu mobil Garvin!" Tunjuk Deon kaget.
__ADS_1