Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 55


__ADS_3

Keesokan paginya, Lisha yang baru terbangun langsung disambut dengan rasa mual yang membuatnya langsung berlari ke kamar mandi. Di dalam sana, lagi dan lagi Lisha muntah dengan hebatnya hingga membuatnya kehabisan tenaga, dan terduduk di lantai dingin kamar mandi.


"Astaga, apa yang terjadi kepadaku. Kenapa aku seperti ini, apakah aku—" Lisha tersenyum kala membayangkan sesuatu.


"Aku harus pergi dan mengeceknya," Lisha berdiri dengan sisa tenaga. Walau merasa lemas, tapi Lisha tetap semangat.


Kini, Lisha sudah berganti dengan pakaian berupa gaun selutut berwarna koral. Menepuk-nepuk pelan wajahnya dengan cushion, kemudian memberi liptint berwarna bata pada bibir seksinya, guna menutupi wajahnya yang sebelumnya sangat pucat.


Setelah selesai, Lisha langsung keluar dari kamar. "Nona Lisha sudah bangun," sambut seorang pelayan.


"Iya, Bik. Ansel di mana, ya?" Tanya Lisha.


"Tuan sudah pergi meeting, Nona. Tuan mengatakan mungkin beliau akan pulang malam, jadi, beliau berpesan agar Nona tetap berada di rumah dan tidak boleh ke mana-mana. Mari ikut saya Nona, saya akan menyiapkan sarapan untuk Nona," jelas pelayan itu.


"Tapi saya ingin sarapan di luar, Bik."


"Maaf, Nona. Saya tidak berani menentang permintaan Tuan," jawabnya ramah sambil membungkukkan badannya.

__ADS_1


"Saya akan meminta Izin padanya langsung," ujar Lisha mengambil ponsel yang dibelikan Ansel. Lalu membuat panggilan kepada Ansel.


"Ada apa, sayang?" Lisha menekan tombol speaker agar juga dapat di dengar oleh kepala pelayan itu.


"Ansel, aku tidak berselera makan di rumah. Bolehkah aku makan di luar?" Tanya Lisha manja.


"Tidak, sayang. Di luar berbahaya untukmu," tolak Ansel.


"Ayolah, Ansel. Aku sangat lapar, apa kamu mau membuatku mati kelaparan?" Rengek lisha.


"Baiklah-baiklah, kamu boleh pergi. Tapi, beberapa pengawal harus ikut bersamamu," jawab Ansel posesif.


"Pergilah, tapi ingat harus berhati-hati," ujar Ansel mengingatkan.


"Tentu saja, kalau begitu aku tutup ya, babay," kata Lisha langsung memutuskan panggilan tanpa mendengar jawab Ansel.


"Bagaimana, Bibi?"

__ADS_1


"Silahkan, Nona. Para pengawal sudah siap," jawabnya ramah.


Lisha tersenyum bangga, dia melanjutkan kembali perjalanan menuju pintu utama. Di sana, sudah berdiri sekitar 3 orang pengawal bertubuh kekar, berpakaian serba hitam, tatapan mata yang mengerikan, serta banyak sekali tato di tangan mereka. Sangat mengerikan.


"Mari, Nona. Kami bertiga akan bertugas mengawal Nona selama di luar."


"Baik, Ayo berangkat," seru Lisha, berjalan lebih dulu menuju mobil.


Satu orang pengawal berlari melewati Lisha. Kemudian membuka pintu mobil untuk Lisha, dan Lisha pun segera masuk.


Beberapa menit kemudian, Lisha dan tiga pengawalnya sudah berada di dalam sebuah restoran. Lisha memaksa ketiga pengawal untuk menemaninya sarapan. Dan mau tidak mau mereka harus menuruti keinginan Nona muda mereka.


Selesai sarapan, Lisha meminta kepada ketiga pengawal untuk mengantarnya ke sebuah toko pakaian mini di sana. Saat sedang memililih mana yang cocok. Tiba-tiba Lisha kehilangan tiga pengawal yang sedari tadi selalu mengekor di belakangnya.


"Ya Tuhan, mereka ke mana? Aku tidak tau jalan pulang, mau bertanya juga tidak mengerti bahasanya. Astaga, bagaimana ini? Ke mana para pengawal? Apa aku berjalan terlalu cepat hingga mereka kehilangan jejakku? Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Cukup lama Lisha berputar-putar di tempat itu, tapi tak kunjung menemukan para pengawal yang menjaganya. Saat akan menyebarang jalan raya, Lisha yang kelelahan tak melihat ada sebuah mobil yang melaju kencang akan menabraknya.

__ADS_1


"Aaaakhh!"


__ADS_2