
"Tapi Nyonya—"
"Sudah, diam kamu! Kamu hanya perlu berakting tidak sadarkan diri, begitu saja apa susahnya, sih. Kamu mau ibu kamu cepat di operasi, Bukan?"
"Iya, Nyonya."
"Kalau begitu, lakukan apa yang aku perintahkan." Lisha yang kini terbaring di atas ranjang, tampak menganggukkan kepalanya cepat.
"Bagus. Dr. Yuna, nanti katakan apa saja tentang kondisi Lisha yang sangat buruk. Terserah kamu ingin mengatakan apa saja, yang penting buat Ansel semakin kasihan kepada Lisha," jelas Nyonya Mina.
"Baik, Nyonya."
Setelahnya, Nyonya Mina langsung keluar dari ruang rawat Lisha. Dia tersenyum senang karena setelah ini, rencananya akan segera berhasil. Nyonya Mina duduk di kursi tunggu yang ada di sana.
Tak lama menunggu, Ansel dan Asisten Deon pun tiba di rumah sakit. Raut wajah Ansel terlihat jelas ada kekhwatiran yang begitu besar di sana. Nyonya Mina begitu senang melihat hal itu.
"Mommy, bagaiamana keadaan Lisha? Dia baik-baik saja bukan?" Tanya Ansel panik.
"Sekarang dia sudah baik-baik saja Ansel. Tapi Mommy juga tidak terlalu paham, dr. Yuna sedang memeriksa keadaanya sekarang." Nyonya Mina berkata dengan ekspresi biasa, dia tidak ingin menunjukkka raut wajah khawatir, karena itu akan membuat Ansel curiga karena selama ini pun, Nyonya Mina tidak terlalu menyukai Lisha. Ansel hanya tau bahwa Mommy-nya menggunakan Lisha demi melahirkan seorang Cucu laki-laki untuknya.
__ADS_1
"Bagaimana Mommy bisa menemukan Lisha?"
"Itu—" Nyonya Mina menghentikan Kalimatnya karena tidak mungkin dia mengatakan kalau dia menemukan Lisha sedang bersama dengan Garvin Vience.
Nyonya Mina beruntung, karena saat Ansel akan kembali bertanya, pintu ruang rawat Lisha pun terbuka. Ansel mengalihkan pandangan ke arah pintu, dan segera berjalan cepat menghampiri dr. Yuna.
"Yuna, bagaiman keadaan Lisha sekarang?" Tanya Ansel khawatir.
"Cukup buruk, Ansel," jawab dr. Yuna yang tak lain adalah sahabat Ansel ketika di perguruan tinggi dulu.
"Maksudmu?"
"Apa dia sudah bisa dijenguk?"
"Tentu, silahkan," jawab dr. Yuna mempersilahkan sahabatnya itu.
Setelah kepergian Ansel, Nyonya Mina bertanya kepada dr. Yuna. "Yuna, kamu sudah menyuruh Lisha untuk berakting bukan?"
"Iya, Nyonya. Saya sudah meminta Nona Lisha berakting, dan dia setuju," jawab dr. Yuna.
__ADS_1
"Kerja bagus."
"Nyonya, tadi saya dan Tuan Ansel menemui Garvin," lapor Asisten Deon.
"Aku tau itu, kamu kirim seorang mata-mata untuk mengawasi gerak-gerik pria itu, aku tidak mau dia menghancurkan seluruh rencanaku," ujar Nyonya Mina mengepalkan tangannya, kala mengingat pertemuannya dengan Garvin kala akan merebut Lisha.
"Baik, Nyonya," jawab Asisten Deon.
***
"Tuan siapa?" Tanya Lisha mulai berakting.
"A-aku ... Aku Suamimu, Ansel," jawab Ansel mengambil posisi duduk di samping ranjang Lisha.
"Suami? Apa saya sudah menikah?" Ansel terdiam harus menjawab apa, nama mereka memang sudah tercatat sebagai pasangan suami istri. Tapi, hanya suami istri di atas kertas. Keduannya tak pernah melakukan pengucapan janji suci, apalagi acara pesta. Hanya tanda tangan di atas kertas, yang menjadikan keduanya sebagai pasangan suami dan istri.
"Iya. Kita sudah lama menikah, dan aku adalah suami-mu, kamu hanya mengalami Amnesia sementara hingga tak bisa mengingatku," jelas Ansel membuat Lisha berpura-pura menganggukkan kepalanya.
"Nyonya Mina dan dr. Yuna benar, Ansel sudah berubah setelah mengetahui dia adalah laki-laki pertama bagiku. Apakah selama ini aku salah menilainya, dia tidak sekejam yang selama ini aku pikirkan," ujar Lisha berucap dalam hati.
__ADS_1