
"Bagaimana Dokter? Bagaimana keadaan Istri saya?" Tanya Ansel dengan raut wajah yang tampak begitu khawatir.
"Nona Lisha mengalami kebocoran air ketuban. Untuk beberapa hari ke depan Nona Lisha harus dirawat intensif di rumah sakit ini, karena kondisi Nona Lisha dan janin akan terus saya pantau. Takutnya terjadi infeksi. Dalam kasus ini, risiko komplikasi kelahiran prematur yang akan terjadi kepada Nona Lisha meningkat, karena disebabkan oleh sedikitnya jumlah cairan ketuban yang tersisa. Tapi, karena baru semester pertama, kami akan memberikan penanganan terbaik agar cairan air ketuban kembali stabil. Tuan Ansel tidak perlu khawatir, saya pasti akan berusaha sebaik mungkin untuk kebaikan Nona Lisha dan calon bayinya," jelas Dokter detail membuat Ansel mengangguk walau tak mengerti apa pun.
Yang dia tangkap hanya Lisha yang kekurangan air ketuban, tapi dokter bilang hal itu bisa ditangani dengan baik. Dan Ansel dapat bernapas lega saat ini.
"Baik, terima kasih banyak atas bantuan, Dokter. Sekarang, apa saya sudah boleh menjenguk Istri saya?" Tanya Ansel ramah.
__ADS_1
"Tentu, Tuan. Silahkan, tapi pesan saya jangan buat Nona Lisha berpikir, dia butuh ketenangan dan jangan sampai stres. Karena stres adalah hal yang paling membahayakan untuk Ibu hamil," kata Dokter mengizinkan Ansel untuk masuk ke ruangan di mana Lisha di rawat.
"Baik, dokter," jawab Ansel.
"Baiklah, kalau begitu silahkan, Tuan. Saya juga permisi," Dokter pun segera pergi setelah sebelumnya telah membungkukan badanya di hadapan Ansel. Begitu dokter itu pergi, Ansel pun segera masuk ke dalam ruang rawat Lisha.
"Sayang," panggil Ansel lembut sambil mengusap kening Lisha dengan penuh cinta.
__ADS_1
"Ibuku telah pergi dan Adikku menghilang, semua orang yang aku sayangi satu persatu meninggalkanku," ucap Lisha sendu sambil menatap platfon.
"Masih ada aku dan calon bayi kita, Lisha. Masih ada aku yang akan menyayangimu, mencintaimu, menjagamu, dan sekarang aku berjanji akan melindungimu dan tidak akan lagi meninggalkanmu sendiri. Aku tidak akan lagi membiarkan orang lain menyentuhmu apalagi menyakitimu. Aku akan melindungimu Lisha, aku bersumpah akan melindungimu dengan nyawaku. Ingatlah, ingatlah ada calon bayi kita yang kini sangat berharap agar kamu tetap kuat supaya iya juga sanggup bertahan," jelas Ansel berusaha membujuk Lisha agar tidak lagi bersedih. Ansel mengerti betapa sedihnya berada di posisi Lisha, tapi dia juga tidak ingn kehilangan bayinya yang kini berada dalam kandungan Lisha.
"Aku ragu, Ansel. Kamu tau aku gagal menjadi seorang Anak yang seharusnya berbakti kepada orangtuanya, bukannya mendengarkan nasihat Ibuku, tapi aku malah mengecewakannya. Aku juga gagal menjadi seorang Kakak, aku tidak bisa melindungi Adikku sendiri, betapa bodohnya aku meninggalkannya sendiri, membuatnya menderita, sekarang dia hilang entah ke mana? Sebagai Kakak satu-satunya, aku benar-benar tidak berguna. Dan sekarang, sekarang aku ragu. Apakah aku bisa menjadi Ibu yang baik untuk anakku kelak? Sedangkan aku selalu menyakitinya bahkan sebelum dia lahir ke dunia," Lisha menatap Ansel dengan air mata yang kembali berlinang.
"Lisha Sayang. Dengarkan aku baik-baik, kamu tidak pernah gagal menjadi seorang anak apalagi seorang kakak. Aku yakin, aku yakin Ibumu sedang tersenyum setelah mengetahui bagaimana perjuanganmu demi dirinya. Aku yakin Ibumu sangat bangga padamu, beliau pasti sangat bersyukur karena punya Putri sehebat dirimu. Dan Casey, dia tau pengorbananmu, dia tau bagaimana sulitnya kamu merawat Ibumu dan dirinya. Aku sudah mendapatkan info bahwa Casey tidaklah diculik, melainkan diusir karena kontrakan yang belum dibayar. Casey pergi dua hari setelah meninggalnya Ibumu. Aku yakin dia baik-baik saja saat ini, hanya orang-orangku belum berhasil menemukan di mana dia sekarang. Kamu tenang saja, aku akan berusaha untuk menemukannya," ungkap Ansel membuat Lisha merasa sedih sekaligus lega.
__ADS_1