Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 50


__ADS_3

"Ansel, ini kita ada di mana?" Tanya Lisha takut kala telah berada di sebuah pulau terpencil yang memilki hutan lebat serta batu-batu besar indah di pinggirannya.


"Kita akan berbulan madu di sebuah pulau yang baru saja aku beli. Ayo, aku akan menunjukkan keindahan pulau ini kepadamu," ajak Ansel langsung menarik Lisha, keduanya berlari keluar dari kapal.


"Ansel, tunggu dulu, aku malu, lihatlah banyak orang," tunjuk Lisha pada Pengawal Ansel yang sudah lebih dulu keluar.


"Ah, iya, aku lupa. Pelayan!" Penggil Ansel. Tak lama, seorang pelayan perempuan pun tiba dengan membawa sebuah jubah kain dengan bentuk memanjang.


"Ini, Tuan."


Ansel langsung mengambilnya, kemudian memasangkannya ke tubuh seksi Lisha. "Ukuranmu benar-benar membuatku gila, sayang," ucap Ansel mengagumi lekuk tubuh Lisha. Lisha hanya diam dengan kedua pipinya yang telah lebih dulu memerah.


"Sudah, sekarang ayo!" Kembali Ansel membawa Lisha berlari.


"Ansel pelan sedikit, aku sangat lelah," keluh Lisha yang memang tampak pucat.


"Maaf, sepertinya aku terlalu bersemangat. Kita berjalan biasa saja, apa aku digendong?" Tawar Ansel dengan senyuman mematikan.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku masih kuat berjalan. Asal berjalan jangan berlari," Lisha menjawab sambil membenarkan pakainnya.


"Pengawal!" Panggil Ansel. Pengawal handal itu sepertinya sudah tau bagian tugas mereka masing-masing. Salah satu dari pengawal datang dengan membawa sebuah kelapa muda. Dan tiga lainnya membawa dua kursi dan satu meja.


"Duduk dan minumlah. Kita beristirahat di sini saja. Sebentar lagi sunrisenya akan muncul. Pengawal, pinta pelayan untuk membawakan sarapan ke sini," titah Ansel.


Tak berselang lama, para palayan pun menghidangkan beberapa aneka sarapan yang begitu lezat seperti roti yang berisi daging serta sayuran segar.


"Tepat sekali, mataharinya sudah muncul, sekarang makanlah," ujar Ansel bersemangat. Namun, dia kaget ketika melihat Lisha yang sudah menghabiskan satu porsi roti ukuran jumbo.


"Maaf, Ansel. Makanannya sangat lezat. Oukh! Ah, maaf," ujar Lisha menutup mulutnya malu.


"Adegan suap-suapan romantisnya hancur sudah. Ekspektasi selalu tak sesuai dengan realitanya." Ansel tampak lemas serta kecewa kala bayangan makan romantis ala dirinya tak mungkin terjadi.


"Ini sepertinya enak juga," Lisha mengambil sepiring sosis ukuran besar. Lisha mengambil daun kale, lalu Lisha meletakkan sosis didalamnya. Kemudian, dia melahap sosis itu dengan wajah bersinar ceria.


Ansel meregang seketika, saat membayangkan junior jumbonya yang berada di dalam mulut mungil Lisha. "Aku meragukan mulutnya yang kecil, tapi ternyata muat juga," batin Ansel dengan pikiran kotornya.

__ADS_1


"Em, benar-benar enak sekali. Kamu kenapa tidak makan? Cobalah sosis ini, sosis ini sangat-sangat enak. Aku sangat suka rasanya dan ukurannya yang besar, makan satu ini saja pasti bisa membuat kenyang seharian. Berhubung ini sangat enak, aku rasa aku dapat menghabiskan semuanya. Cobalah," jelas Lisha akan menyuapi Ansel.


"Akhirnya bisa romantis juga," batin Ansel bahagia, dan dengan senang hati dia menerima suapan langsung dari Lisha.


"Enak bukan?"


"Lebih enakan kamu, sih," goda Ansel membuat pipi Lisha kembali memerah.


"Minumlah, dari tadi kamu makan tanpa minum," Ansel membantu Lisha untuk minum.


"Segar sekali. Terima kasih Ansel," kata Lisha sambil memarkan gigi putihnya nan rapi.


"Sayang, panggil aku sayang."


"Terima kasih, Sa-sayang."


"Ekhem," jika Lisha malu, maka Ansel gugup.

__ADS_1


__ADS_2