Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 19


__ADS_3

"Paksa dia!" Titah Ansel membuat para pelayan bertindak kasar guna menelanj*ngi Lisha.


Lisha terus berontak kala sekita 4 orang pelayan membuka pakaiannya secara kasar. Ansel mengalihkan pandangannya dari tubuh Lisha yang kini telah polos.


Tangisnya pecah saat menyadari bahwa tubuhnya telah dibaluti dengan pakaian terlarang yang tidak pernah Lisha lihat sebelumnya.


Atasan terawang berwarna hitam yang begitu kontras dengan warna kulit Lisha yang putih bersih, dua gundukkan Lisha yang sintal tampak menampakkan separuh wujudnya. Lisha berusaha menutupi dengan kedua telapak tangannya.


Bagian bawah juga tak kalah seksinya, rok mini berwarna merah dengan desain kotak-kotak begitu ngepres di pinggang ramping Lisha. Lisha terduduk di lantai dengan menumpahkan segala kesedihan.


"Sudah siap, Tuan Ansel," ucap seorang pelayan pada Ansel.


"Bagus, kalian boleh pergi." Usir Ansel.


"Baik, Tuan." Beberapa pelayan pun keluar dari ruang ganti. Perlahan Ansel mendekat pada Lisha yang masih terduduk dengan menundukkan wajahnya dalam.


Ansel berjongkok, meraih dagu Lisha dan kembali mencekam dagu itu. Lisha mengangkat wajahnya dengan raut wajah yang begitu memilukan.


"Apa maksud Tuan dengan semua ini? Apa yang ingin Taun lakukan kepada saya?" Lisha menatap Ansel dengan setetes buliran bening yang lolos.


"Aku hanya memberikan apa yang kamu inginkan. Anggap saja aku membantumu," Ansel berdiri, lalu menarik salah satu tangan Lisha untuk di ajak berdiri.

__ADS_1


Lisha menurut dan tidak lagi memberontak. Tenaganya telah habis karena lelah dengan segala hal yang kini dia alami. Tidak ada takdir baik yang berpihak kepadanya, semua hanya selalu membuatnya ingin menyerah hingga berada di titik terakhir dalam hidupnya.


Ansel menyeret Lisha hingga ke panggung yang ternyata dihuni begitu banyak orang-orang berdasi. Semua orang kaya sedang hingga atas hadir di sana untuk memenangkan acara pelelangan.


Kini, semua mata tertuju kepada Lisha yang terduduk menyedihkan di atas lantai dingin. Pakaian yang begitu minim membuat mata keranjang para tamu undangan tak berkedip melihat lekukkan tubuh Lisha yang terekspos.


"Hallo, selamat malam Tuan Ansel." Sambut pembawa acara yang kaget dengan kehadiran Bos-nya, Ansel. Ansel tak merespon sapaan Sang Pembawa acara.


"Perhatian semuanya! Acara malam ini sangat Special karena kita kehadiran Tuan Ansel Stewart di sini, berikan tepuk tangan untuk Tuan Ansel!" Aula yang sebelumnya senyap kini menjadi riuh dengan sorakan para tamu.


Pembawa acara mendekat pada Ansel, lalu berbisik untuk menanyakan apa maksud Tuannya itu membawa seorang gadis yang begitu menggugah nafsu.


"Maaf, Tuan. Gadis cantik itu mau diapakan?" Tanyanya sopan.


Ansel menatap Lisha dari kejauhan, melihat Lisha yang begitu seksi tentu membuat insting kelelakiannya merespon. Namun, dia menganggap itu adalah biasa karena dia lelaki normal.


"Baiklah para tamu undangan semua, gadis perawan sebelumnya bukanlah penutup acara lelang malam ini. Tapi, acara lelang malam ini akan ditutup dengan pelelangan seorang wanita dari Tuan Ansel. Tentu wanita ini sangat Special karena dibawa langsung oleh Tuan Ansel Stewart yang hadir di tengah-tengah kita semua. Baiklah, tidak perlu berlama-lama lagi, mari kita buka pelelangan untuk wanita Tuan Ansel dengan harga 500 juta rupiah! Harga tertinggi akan menghabiskan satu malam dengannya!"


Mendengar itu, Lisha menaikkan pandangannya dengan tangan mengepal kuat di lantai. Hati siapa yang tidak sakit bila berada di posisinya saat ini. Kenapa dia harus diperlakukan begitu murahan. Di oper sana di oper sini, Lisha bagaikan barang bekas yang dapat berpindah tangan dengan begitu mudahnya.


Pelelangan atas Lisha harus terjadi cukup lama karena banyaknya tamu undangan yang berantusias ingin memiliki Lisha. Hingga harga tertinggi sebesar 2 miliar rupiah ditawarkan oleh seorang pengusaha misterius.

__ADS_1


Ansel tersenyum licik lalu segera pulang ke rumahnya. Lisha terus menatap punggung Ansel dengan segela amarahnya.


Kini Lisha di boyong menuju ke sebuah kamar suite room di hotel itu. Lisha berjalan pelan sambil menutupi dada seadanya.


Kiri, kanan, depan, juga belakang dijaga ketat oleh beberapa bodyguard. Jadi, Lisha tidak mungkin dapat kabur, hingga akhirnya Lisha memilih pasrah.


Lisha di dorong kasar masuk ke sebuah kamar di sana. Lagi dan lagi Lisha berakhir di lantai dingin.


"Nona Lisha baik-baik saja bukan?" Tanya seorang pria mendekati Lisha.


"Tu-tuanโ€”"


.


.


.


.


Sudah mulai update lagi ya, gesss. Maafkan liburnya lumayan lama ๐Ÿ™

__ADS_1


Jangan lupa berikan dukungan dengan like, komen, vote, hadiah agar Othor semakin mangats nulisnya. Terima kasih leader cayang, lopeeee semuanya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2