
"Siapa yang Mommy sebut hina?" Tanya Ansel ketika masuk ke dalam kamar dengan sepiring makanan bergizi untuk Lisha.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mommy hanya menasehati Lisha untuk menjaga baik-baik Cucu Mommy, kalau sampai terjadi apa-apa pada Cucu mommy—Mommy akan menganggap Lisha sebagai wanita hina karena lengah."
"Aku juga turut akan menjaganya. Jadi, Mommy tidak perlu mengkhawatirkan Lisha dan kandungannya, karena aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya termasuk Mommy sekali pun," tegas Ansel membuat Nyonya Mina menunjukkan ekspresi tak suka kepada Lisha.
"Ayo dr. Yuna kita keluar, tugas kita sudah selesai," ajak Nyonya Mina, Keduanya pun keluar dari kamar Ansel.
"Apakah sangat lelah?" Tanya Ansel sambil menyeka air mata Lisha.
"Hem, sangat sakit," ringis Lisha dengan suara pelan tapi masih terdengar oleh Ansel.
"Sabar, ya, Sayang. Setelah makan pasti akan lebih mendingan," jawab Ansel menyuapi Lisha dengan penuh kasih sayang.
"Apa mau nambah?" Lisha menggeleng lemah.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat, ya. Kamu butuh tenaga agar bisa kembali pulih," Ansel menyelimuti Lisha, dan Lisha menurut sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Ansel yang juga kelelahan sekaligus kurang tidur, juga ikut terlelap dengan tangannya yang tak lepas menggenggam tangan Lisha.
***
Keesokan harinya ....
Pagi itu, Lisa mengerjakan mata, seketika dirinya terpesona kala langsung disuguhkan akan pemandangan Ansel yang telah rapi dengan setelan kerjanya.
"Ansel, kamu mau ke mana?" Tanya Lisha. Ansel mendekat pada Lisha, lalu mencium kening dan bibir Lisha sekilas.
"Bagaimana perasaanmu, Sayang? Aku tinggal sebentar tidak apa-apa, kan?" Tak lupa Ansel juga menempelkan telapak tangannya di kening Lisha, memastikan bahwa Sang Istri tidaklah demam.
"Kerja, Sayang. Ada sedikit masalah di perusahaan. Kamu tidak apa-apa, kan kalau aku tinggal sebentar?"
"Aku ... Takut," jawab Lisha meneteskan air mata.
"Takut apa, Sayang? Di rumah ini kamu akan aman, tidak akan ada lagi yang berani mengusikmu," Ansel membujuk berusaha membujuk Lisha agar mau di tinggal.
__ADS_1
"Aku mau ikut," Lisha semakin terisak.
"Sayang, aku akan menghadiri meeting di lokasi yang lumayan jauh, kira-kira menempuh perjalan 3 jam. Aku tidak mau kamu kembali muntah-muntah seperti kemarin."
"Tapi, aku tidak mau ditinggal," Lisha kaget sendiri dengan ucapannya. Dia merasa itu bukanlah sepenuhnya keinginan dirinya. Melainkan keinginan seseorang yang ada di dalam perutnya.
"Sayang, ada Bibi Lili yang akan menjagamu. Dia akan melakukan apa pun yang kamu inginkan, aku hanya akan bekerja hari ini saja. Dan besoknya aku berjanji akan mengambil cuti untuk merawat hingga kondisimu benar-benar pulih," jelas Ansel panjang lebar.
"Yasudah pergilah," jawab Lisha mengalihkan pandangan tak ingin melihat wajah Ansel.
"Terima kasih, sayang. Aku berjanji tidak akan lama," lagi dan lagi Ansel tak peka dengan sikap Lisha.
"Daddy berangkat kerja dulu, ya, Sayang. Bantu Daddy jaga Mommy dan bujuk juga dia, sepertinya Mommy-mu sangat kesal pada Daddy," sindir Ansel saat berbicara dengan perut Lisha. Ansel pun segera pergi setelah memberikan kecupan di perut Lisha.
"Pergilah, jangan menyesal dan cepat tolong kami kalau seadainya kami dalam bahaya," gumam Lisha pelan tapi masih terdengar oleh Ansel.
Mendengar itu, Ansel menghentikan langkahnya. Namun, dia kembali melangkah, membuka pintu kamar dan segera pergi.
__ADS_1
"Pulang nanti aku akan membujuknya."