Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 32


__ADS_3

"Apa salahku pada mereka?" Ringis Lisha dengan pipi yang kembali di guyur rentetan air mata. Lisha mencoba berdiri, membenarkan posisi jubah mandinya yang sedikt terbuka di bagian paha.


Dengan pandangan yang kosong, serta rasa sakit di sekujur tubuh. Lisha tetap berjalan gontai entah ke mana tujuannya. Lisha seorang diri di tengah malam yang gelap gulita, hanya cahaya remang lampu-lampu di sepanjang jalan yang menemani selama melangkah. Sedangkan cuaca yang mulai mendung, membuat bulan tak berani menampakkan diri.


"Ibu, Casey ... Di mana kalian?"


Rasa sakit seakan tak lagi Lisha rasakan, bahkan Lisha tak mampu menyeka darah segar yang mengalir dari keningnya. Pikirannya hanya tertuju kepada Ibu serta Adiknya.


Meski hujan yang rintik-rintik mulai turun, Lisha tetap terus menyeret kedua kakinya untuk melangkah. Lisha mulai menggigil juga merasakan perih pada lukanya yang tersiram air hujan.


Lisha berhenti sejenak sambil memagangi keningnya yang terasa begitu berat. Rasa berat itu membuat Lisha tak lagi dapat menahan beban tubuhnya, hingga akhirnya terjatuh di trotoar jalan dengan keadaan yang mengenaskan.

__ADS_1


***


Keesokan paginya.


Di sebuah kamar suite room yang berada di sebuah hotel terbesar dan termewah di kota. Hotel dengan nama Stewart Gold, yang bernaung di bawah Stewart Grup, dengan CEO berciri khas rambut gondrong serta sifat kejam dan dingin. Siapa lagi CEO tersebut kalau bukan Ansel Stewert.


Ansel terbangun dengan raut wajah yang menunjukkan keterkejutan akan keadaanya kini. Bagaimana tidak terkejut. Dia terbangun tanpa busana dengan kasur yang menunjukkan darah yang dapat menjelaskan apa yang terjadi semalam.


"Astaga, satu perempuan yang dulu belum berhasil aku temukan. Dan sekarang bertambah lagi satu orang, apa salahku kepadamu, Tuhan?" ujar Ansel frustasi. (eh, spoiler konflik nih)😱


Adegan semalam, kini berputar di kepalanya bak film yang ditayangkan di bioskop. Sedangkan raut wajah serta jeritan Lisha yang kesakitan, membuatnya kian merasa bersalah.

__ADS_1


Ansel memang telah berubah menjadi kejam serta arogan, tapi sisi baiknya yang selama ini terpendam, dapat datang kapan saja. Apalagi saat mengingat kejadian yang sama juga pernah dia alami sebelumnya.


Kini, Ansel meremas rambut gondrongnya kasar, hingga rambut panjang itu terlihat sangat berantakan. Meski begitu, Ansel tetap tampan dengan dirinya yang acak-acakan.


Ansel meraih ponselnya di atas nakas, lalu menelpon Asisten Deon untuk menjemputnya di hotel. Setelahnya Ansel bangkit dari ranjang, menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Begitu selesai, Ansel membuka lemari, mengambil setelan pakain kerja dan segera memasangkan pakaian itu dengan cepat dan terburu-buru.


Di dalam mobil.


"Apa kamu sudah menemukannya? Dia ada di Mansion, bukan?" Tanya Ansel khawatir.


"Nona Lisha tidak pulang ke Mansion, Taun. Tapi, saya sudah memerintahkan pengawal untuk mencari Nona Lisha. Saya sudah mengirimkan email berisi video cctv di hotel semalam ke ponsel Tuan." Jelas Asisten Deon sambil tetap fokus menyetir.

__ADS_1


Mendengar itu, Ansel langsung membuka ponselnya. Lalu fokus menonton video yang Asisten kirimkan ke ponselnya. Rasa bersalahnya kian meningkat saat melihat betapa rapuhnya Lisha yang berjalan gontai di lorong hotel.


Sesaat kemudian, Ansel mengepalkan tangannya dengan ekspresi wajah yang begitu menakutkan. "Deon, aku tidak ingin melihat dua resepsionis ini hidup dengan tenang. Aku ingin melihat keduannya tak bisa berjalan bukan hanya fisik, tapi juga pekerjaan dan keluarganya."


__ADS_2