
Kini, Lisha berdiri menatap pantulan dirinya di dalam kaca besar di kamar tamu. Malam itu, Lisha tampil sangat cantik dengan gaun seksi yang membaluti tubuh langsingnya.
Gaun malam berwarna hitam panjang, melekat sempurna di tubuh Lisha hingga menutupi telapak kakinya. Namun, ada belahan tinggi di paha sisi kirinya. Di bagian dada, juga ada belahan yang sedikit banyak memperlihatkan kedua gundukkan Lisha yang tak mengenakan bra. Tak sebatas itu saja, punggung mulus Lisha juga terpampang nyata. Lisha terus berpikir kenapa Eriska memberikannya gaun se-seksi ini? Aakah dirinya akan dijual lagi? Ah, sepertinya itu tidak mungkin mengingat Eriska membutuhkan dirinya untuk melahirkan seorang Putra.
"Nona Lisha segeralah keluar, Nona Eriska dan Tuan Ansel sudah menunggu lama." Ujar seorang pelayan di luar sana.
"Baiklah, saya akan segera keluar." Jawab Lisha Langsung berdiri. Sebelum melangkah, Lisha menghela napas dalam-dalam, begitu merasa tenang, barulah Lisha keluar dari kamar menuju ruang tamu.
Lisha melihat Ansel menatapnya tak berkedip. Namun sesaat kemudian, Ruat wajah Ansel berubah jadi kesal dengan urat-urat leher yang kecang. Lisha menundukkan wajahnya kerena takut.
"Cepatlah, jangan membuang waktuku!" Ketus Ansel pergi lebih dulu meninggalkan Lisha dan Eriska.
"Mari Nona Lisha," ucap Eriska tersenyum ramah. Lisha membalas senyuman itu, kemudian mengekor di belakang Eriska.
Kini, semua telah berada di dalam mobil. Lisha dan Eriska duduk di belakang, sedangkan Ansel memilih duduk di samping kemudi, bergabung dengan Deon Sang Supir. Tak lama kemudian, mobil pun mulai melaju sedang.
__ADS_1
Tak ada suara sama sekali saat di perjalanan, suasana begitu lenggang. Eriska dan Ansel sibuk memainkan ponsel masing-masing, dan Lisha memilih duduk diam sambil menatap bangunan yang dilewati. Beberapa menit kemudian, mobil telah berhenti di hotel milik Ansel. Hotel tempat Lisha bekerja sebagai pelayan sebelumnya.
Lisha ikut keluar dari mobil, Lisha memandangi lalu-lalang orang-orang yang juga berpakaian tak kalah seksi darinya. Bagi Eriska dan perempuan lainnya, berpakaian seksi itu biasa-biasa saja. Tapi, berbeda bagi Lisha yang tak pernah mengenakan pakaian sejenis ini sebelumnya. Ah, sepertinya Lisha melupakan saat Ansel menjualnya. Saat itu, dirinya juga memakai pakaian yang bahkan dua kali lipat lebih seksi dari yang kini dia kenakan.
Lisha mengekor di belakang Ansel dan Eriska yang mulai berakting sebagai pasangan suami istri yang harmonis. "Nona saya temani," ujar Deon yang langsung menggandeng lengan Lisha.
"Sa-saya bisa sendiri," Lisha ingin melepaskan diri, namun urung dia lakukan ketika Eriska memutar kepala menatapnya tak suka.
"Tempat ini berbahaya, Nona. Seorang wanita yang tidak ditemani Pria di sisinya, akan menjadi mangsa pria hidung belang. Apa Nona mau jadi mangsa yang akan menghabiskan malam bersama mereka." Lisha menggelengkan kepala kasar dan langsung menggandeng kembali lengan Asisten sekaligus Supir itu.
"Minumlah dulu, Nona." Ujar Deon mengulurkan Lisha segelas jus jeruk.
"Terima kasih," jawab Lisha tulus.
Lisha meneguk minumannya sambil melihat Ansel dan Eriska yang tampak begitu harmonis kala berbincang dengan para pengusaha lainnya. Akting keduannya begitu kompak dan serasi. Lisha berpikir keras kenapa kedua pasangan itu rela melakukan hubungan yang berpura-pura seperti itu.
__ADS_1
"Kenapa Nona? Apa Nona cemburu melihat Tuan Ansel dan Mona Eriska bermesraan?" Goda Deon.
"Tentu tidak, kenapa aku harus cemburu. Tidak ada hubungannya denganku." Cetus Lisha membuat Deon menggangguk sambil tersenyum simpul.
Beberapa puluh menit kemudian.
"Tuan Deon, apa kita akan terus berdiri di sini? Kapan kita akan pulang, saya sudah mulai mengantuk dan juga pusing." Keluh Lisha yang merasa tidak enak badan karena masuk angin dengan pakaian seksi yang dia kenakan saat ini.
"Kalau begitu mari saya antar Nona ke kamar hotel Tuan untuk beristirahat sementara di sana. Sepertinya acara ini masih sangat lama." Balas Deon.
"Ti-tidak, saya tidak mau pergi ke kamar itu lagi." Tolak Lisha tampak trauma. Tentu saja trauma, Lisha tentu mengerti kamar yang Deon maksud. Sudah pasti kamar di mana dulu dia dijebak dan hampir di perk*sa oleh Ansel.
"Tuan juga akan menginap di kamar itu malam ini, sedangkan Nona Eriska akan langsung kembali ke luar negeri. Saya rasa, malam ini adalah kesempatan paling bagus untuk Nona menggoda Tuan Ansel. Ingatlah Nona, ingatlah Ibu Nona yang kini terbaring lemah di rumah sakit. Beliau membutuhkan bantuan Nona untuk kembali sadar. Apa Nona mau jadi anak durhaka karena gagal menyelamatkan nyawa Ibu Nona sendiri?" Tutur Deon membuat Lisha menyadari tujuannya yang sesungguhnya.
"Ayo antarkan saya ke kamar itu sekarang juga. Saya harus berhasil menggoda Tuan Ansel malam ini juga." Tegas Lisha yakin.
__ADS_1