Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 85


__ADS_3

"Lisha kamu mau ke mana Sayang? Kondisimu masih belum stabil," ujar Ansel memeluk Lisha erat agar Lisha tak ke mana-mana.


"Biarkan, biarkan aku menyusul Ibu dan Cassey. Untuk apa lagi aku hidup di dunia ini? Semua orang yang aku sayangi telah pergi, aku gagal menjaga mereka, aku gagal Ansel. Sia-sia pengobananku selama ini, sia-sia aku melakukan semua ini!" Teriak Lisha menangis histeris.


"Ada aku dan calon bayi kita yang masih bersamamu, aku mencintaimu Lisha, aku mohon jangan begini. Kasihan calon bayi kita," bujuk Ansel membawa anaknya agar Lisha kembali tenang.


"Aku membencimu, Ansel. Kamu tahu Ibuku meninggal, kamu tahu Adikku menghilang. Tapi, kamu malah membawaku pergi. Kamu jahat, Ansel. Aku membencimu, sangat membencimu!" Jerit Lisha membuat Ansel semakin panik.


"Maafkan aku Lisha, aku mohon tenanglah. Aku sudah mengirim orang-orang terbaik untuk mencari Casey, aku yakin sebentar lagi dia pasti akan ditemukan," jelas Ansel.


"Lepaskan! Aku ingin mencari Casey sendiri, aku ingin melihat Ibuku," pinta Lisha berontak.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan membawamu ke makam Ibumu, tapi tenangkan dirimu dulu," Lisha menurut, dia diam tak lagi berontak. Meski diamnya dengan pandangan yang kosong.


"Bawa aku menemui Ibu," ucap Lisha memandang kesembarang arah.


Ansel menghela napas, dia merasa begitu bersalah karena menyembunyikan kebenaran ini begitu lama. Hingga akhirnya Lisha mengethui segalanya bukan dari dirinya. Hal ini pasti akan membuat Lisha begitu membenci dirinya dan tidak akan lagi percaya kepadanya.


Tanpa berpikir panjang lagi, Ansel mengangkat tubuh Lisha, membawa Lisha keluar dari kamar, masuk ke dalam lift menuju lantai dasar.


Hampi 20 menit perjalanan, akhirnya mobil pun berhenti di sebuah makam khusus. Ansel memapah Lisha ke luar dari mobil. Berjalan kaki sebentar hingga akhrinya tiba di depan pusaran Ibu Lisha yang tanahnya sudah mengering.


Ansel duduk di samping Lisha yang bersumpuh sambil menangis. Hatinya terasa begitu sakit melihat wanita yang dia sayangi menderita. Lisha rela menjual harga dirinya, menjual rahimnya, menikahi pria yang tidak dicintai, menerima penyiksaan, cacian, serta kebencian demi membiayai pengobatan Ibunya. Namun, segela usahanya sia-sia, ketika Sang Ibu tetap kembali kepada yang kuasa, meninggalkan Lisha dengan segala luka dari pengorbanannya.

__ADS_1


"Ibu—" hanya kata itu yang mampu Lisha ucapkan karena terisak membuatnya kesulitan untuk bicara.


"Ibu, kenapa Ibu tinggalin Lisha sendiri? Kenapa tidak bawa Lisha juga, Bu? Lisha capek, bu. Lisha menyesal. Andai Lisha tau kalau hari itu adalah hari terakhir Lisha melihat Ibu dan Casey. Lisha pasti akan menyudahi dosa yang begitu Ibu benci ini. Maafin Lisha, Ibu, Lisha tau Ibu sangat membenci Lisha yang sekarang. Lisha yang kotor dan Lisha yang tidak lagi suci," ucap Lisha disela-sela isakannya. Sedangkan Ansel merasakan hatinya berdenyut nyeri karena merasa bersalah kepada Lisha. Dia dan Ibunyalah yang menjadi penyebab Lisha kehilangan Ibu serta Adiknya. Ansel benar-benar menyesal.


"Ibu, maafin Lisha karena gagal melindungi Casey, tapi Ibu tidak perlu khawatir. Karena Lisha akan mencari Casey hingga berhasil ditemukan. Lisha berjanji akan membawa Casey ke hadapan Ibu. Maafin Lisha, Bu. Lisha tau Ibu pasti kecewa, Ibu kecewa karena Lisha sudah melakukan hal yang tidak seharusnya Lisha lakukan. Lisha mohon maafin Lisha, Bu. Andai Lisha mendengarkan perkataan Ibu, mungkin Casey tidak akan pergi jauh," sesal Lisha mengingat wajah Casey yang penuh air mata saat dirinya akan pergi. Jelas Lisha tau Casey juga tidak menyetujui keputusannya.


Lisha mengelus perutnya ketika rasa kram kembali membuatnya meringis sakit. Ansel yang melihat itu langsung memeluk Lisha. "Kita pulang, ya," bujuk Ansel tak mendapatkan jawaban dari Lisha.


"Aw! Sa-sakitt, Ansel," keluh Lisha merasa sakit di perutnya kali ini berbeda dari biasanya. Kini, sakit yang dia rasakan lebih terasa hingga membuatnya sulit bernapas dengan benar. Lisha merasakan ada sesuatu yang keluar dari pusat intinya


Ansel panik dan langsung mengangkat tubuh Lisha saat melihat ada cairan yang mengalir di paha Lisha. Ansel membawa Lisha masuk ke dalam mobil, meminta supir melaju dengan kencang menuju rumah sakit terdekat.

__ADS_1


"Ansel sakit," ucap Lisha lemah. Lisha merasa kepalanya berputar-putar, pandangannya makin lama makin gelap, hingga pada akhirnya Lisha kehilangan kesadarannya di dalam pelukan Ansel.


__ADS_2