
"Apa hasilnya, Ansel?" Tanya Lisha dengan wajah pucatnya.
Kini, Ansel dan Lisha sudah berada di resort. Lisha duduk di ranjang sedangkan Ansel berdiri di hadapannya dengan memegang selembar surat berisi hasil laporan test DNA antara cairan ludah di leher lisha dengan cairan di v*gina Lisha.
Secara diam-diam, Ansel telah malakukan tindakan di awal. Namun, dia sengaja mencari dokter seperti dr. Adiva yang bisa diajak bekerja sama dan tidak akan berbuat curang. Dokter dengan peralatan seadanya itu, tak bisa melakukan test DNA hanya dalam satu atau dua minggu seperti di rumah sakit besar pada umumnya.
Dr. Adiva membutuhkan waktu sebulan lebih untuk melakukan test itu. Hal itu juga diperlambat dengan hampir mengeringnya cairan dari vag*na Lisha yang Ansel ambil. Hingga proses pun menjadi semakin rumit. Hingga pada akhirnya, Dr. Adiva pun berhasil melakukan test DNA itu dengan waktu satu bulan lebih.
Lisha mengerutkan alisnya kala Ansel membuang laporan itu dengan raut wajah yang tampak merasa begitu lega. "Hasilnya negatif, Lisha. Tidak cocok!" Ucap Ansel bersemangat langsung mengangkat tubuh Lisha, lalu berputar bahagia.
"Ansel kepalaku pusing!" Teriak Lisha marah. Ansel tersenyum lalu membaringkan Lisha ke atas ranjang, dengan dirinya berada di atas tubuh Lisha.
"Hasilnya Negatif, Sayang."
"Artinya?" Tanya Lisha bingung karena tak mengerti.
"Artinya Garvin tidak melakukan apa pun kepadamu. Dia hanya ingin menggertakku!" Jawab Ansel lugas.
__ADS_1
"Syukurlah," sambut Lisha lagi dan lagi menangis.
"Tidak sedih tidak bahagia, kamu selalu menangis, Sayang." Ujar Ansel meyeka perlahan air mata yang mengalir dari kedua sudut mata Lisha.
"Aku menangis karena bahagia," jawab Lisha semakin menangis kencang.
"Maaf, maaf karena aku sudah mengabaikanmu karena hal yang tidak benar itu," sesal Ansel kembali mengingat kala dia mengabaikan Lisha.
"Tidak apa-apa, aku kalau jadi kamu juga akan melakukan hal yang sama. Aku malah senang, karena itu artinya selama sebulan itu kamu cemburu, dan cemburu itu tanda cinta," goda Lisha demi agar Ansel tak kembali menyalahkan diri.
"Tapi, bukankah agak aneh kalau Garvin tidak menyentuhku. Jelas-jelas dia sudah melakukan forepl*y. Dia punya dendam apa kepadaku, aku merasa tidak pernah berperilaku tidak baik kepadanya. Aku heran kenapa dia harus berpura-pura baik kepadaku?" pikir Lisha.
"Baik, Ansel. Mulai sekarang aku akan banyak makan, agar bisa diperbolehkan pulang ke Negara X. Aku sudah sangat merindukan Ibu dan Cassey. Akhir-akhir ini aku terus bermimpi buruk tentang Ibu dan Cassey." Ungkap Lisha sedih.
Ansel tampak diam setelah mendengar ucapan Lisha. Siap atau tidak, Lisha harus tau tentang keadaan Ibu dan Adiknya, yang sebenarnya.
"Bukan hanya harus makan yang banyak dan bergizi, tapi kamu juga tidak boleh turun dari ranjang ini," tegas Ansel mengingatkan.
__ADS_1
"Iya-iya, aku ingat hal itu," saut Lisha.
"Bagus, Sayang." satu kecupan di bibir Ansel daratan untuk Lisha.
"Mau apa?" Tanya Lisha kaget saat Ansel akan menyingkap gaunnya.
"Tentu saja mau itu, Sayang," ucap Ansel sengaja membuat Lisha salah paham.
"Jangan macam-macam, Ansel. Apa kamu lupa apa yang dikatakan Dr. Adiva tadi? Kita tidak boleh berhubungan intim sampai kondisiku benar-benar membaik. Tunggulah sebentar lagi, ya," bujuk Lisha menghentikan tangan Ansel yang ingin menyingkap pakaiannya.
"Dasar otak mesum!"
"Aw!" Ringis Lisha kala Ansel menjapit hidung kecilnya. "Kalimatmu memang mengundang kesalahpahaman," sambung Lisha sambil mengelus pelan hidungnya.
"Haha, aku hanya ingin berbicara dengannya. Apa tidak bolah?" Tanya Ansel sambil mengelus perut Lisha dari luar.
"Tentu saja boleh," Lisha menyingkap gaunya dengan santai di hadapan Ansel.
__ADS_1
Ansel tersenyum menatap Lisha, lalu Ansel mendekatkan wajahnya pada perut Lisha. "Anak baik tidak akan menyusahkan Mommy-nya," Ansel memberikan kecupan di perut Lisha.