
"Lisha Sayang, kamu di mana?" Teriak Ansel yang baru pulang dari kantor.
"Ansel, aku di kamar mandi," jawab Lisha senang karena ada Ansel.
"Kamu di dalam sayang?" Ansel menarik ganggang pintu kamar mandi, karena tak di kunci oleh Lisha dia pun langsung membukanya. Wajah pucat Lisha yang berada di dalam buthub membuat Ansel langsung mendekat dengan perasaan yang begitu khawatir.
"Astaga, Sayang. Kamu kenapa?" Tanya Ansel panik.
"Ta-tadi aku terpeleset, sepertinya kakiku terkilir dan sekarang tidak bisa berdiri untuk keluar dari buthub ini," jelas Lisha gugup karena takut Ansel marah karena kecerobohan dirinya.
Tak disangka, Ansel langsung mengambil handuk, melingkarkan handuk ke tubuh dingin Lisha dan langsung mengangkat Lisha keluar dari buthub tanpa berkata apa-apa.
Tiba di ranjang, Ansel langsung membaringkan Lisha dengan begitu berhati-hati. "Apa ada yang terluka selain terkilir? Sebentar aku akan panggilkan Dokter," Ansel meraih ponselnya yang dia letakkan di atas meja.
"Ansel, tidak usah. Aku baik-baik saja," cegat Lisha.
__ADS_1
"Apanya yang baik-baik saja, Lisha! Kakimu terkilir dan lihatlah keningmu juga terluka. Tetaplah di sini, aku akan meminta Dokter Yuna untuk datang dan memastikan kalau kamu dan bayi kita baik-baik saja," tegas Ansel membuat Lisha terdiam.
Setelah menelpon Dokter Yuna, Ansel membuka lemari, mengambil piyama Lisha, lalu memasangkannya ke tubuh Lisha. Lisha masih terdiam walau wajahnya sudah semerah tomat karena menahan malu. Tapi, dia lebih memilih diam karena takut Ansel memarahinya.
"Lain kali berhati-hatilah, minta bantuan kepada Bibi Lili bila ingin mandi. Jangan pernah lagi mandi sendiri," oleh Ansel dan Lisha hanya mengangguk mengiyakan.
Tak lama kemudian, Dokter Yuna pun datang dan langsung memeriksa keadaan Lisha. Mengoleskan salep khusus ke kaki Lisha lalu membalutnya dengan perban. Tak lupa juga menempelkan plaster pada kening Lisha yang lecet.
"Bagaimana kondisi Lisha, Yuna?"
"Urusan saya sudah selesai, kalau begitu saya permisi karena akan langsung kembali ke rumah sakit," pamit Dr. Yuna mendapat anggukan kepala dari Ansel.
Setelah kepergian Dr. Yuna, Ansel duduk di samping Lisha yang masih terbaring dengan wajahnya yang masih terlihat pucat karena sedari pagi hanya sarapan sedikit dan belum makan apa pun hingga saat ini.
"Kenapa wajahmu pucat sekali, Sayang? Apa masuh mual?"
__ADS_1
"Tidak, Ansel. Aku tidak mual, hanya lapar saja," jawab Lisha.
"Astaga, apa kamu benar-benar tidak bisa makan kalau tidak aku suapi? Kamu tunggulah di sini, aku akan segera kembali," ucap Ansel tergesa-gesa keluar dari kamar.
"Aku tidak diberikan makan oleh Ibumu, Ansel. Untuk itulah aku tidak ingin ditinggal olehmu sendiri di rumah ini," gumam Lisha sambil memandang ke arah pintu kamar yang tak sempat Ansel tutup.
***
"Mau lagi?" Tanya Ansel lembut. Lisha pun mengangguk karena memang masih merasa lapar.
"Astaga, sepertinya calon bayi kita sangat menyukai suapan Daddy-nya," Ansel pun mengambil lagi satu porsi makanan dan kembali menyuapi Lisha dengan teleten.
"Ansel, apakah besok kamu akan kembali bekerja?" Tanya Lisha dengan mulut penuhnya.
"Tidak, Sayang. Aku sudah mengambil cuti dan mulai besok hingah seterusnya, aku hanya akan menjagamu hingga calon baby kita lahir nanti."
__ADS_1