
Lisha menempelkan bibirnya di bibir Ansel tanpa ada pergerakkan seperti orang berciuman pada umumnya. Ansel pun juga diam, dia sengaja menunggu Lisha yang memulai. Cukup lama bibir mereka menyatu tanpa adanya pergerakan sama sekali. Ansel geram, dan kembali mendorong tubuh Lisha.
"Tidak bisa berciuman, apa kamu terbiasa langsung ke intinya. Dasar wanita mur*han!" Kembali kata terlarang itu Ansel utarakan. Lisha menarik napas dalam guna meminimalisir rasa sesak di dadanya.
Ansel berlalu pergi, dia menuju ranjangnya, naik ke atas ranjang, lalu meraih selimut untuk segera tidur malam. Lisha pun sama, dia tertidur dalam isakkan tangis pilu.
Pukul 03:15
Lisha terbangun karena suara pergerakkan dari lambung, usus dan lainnya yang menimbulkan suara, yang biasa disebut suara cacing yang kalaparan.
Lisha mengusap matanya, lalu berdiri dari sofa. Dia menatap Ansel yang tengah tertidur nyenyak, Lisha segera mengalihkan pandangan tidak ingin melihat wajah tampan Ansel lebih lama.
"Aku sangat lapar," gumam Lisha pelan.
Lisha memandang ke setiap sudut di kamar luas itu, dia tidak menemukan apa pun yang dapat di santap untuk mengganjal rasa laparnya.
Karena takut mag-nya kambuh, akhirnya Lisha memberanikan diri untuk keluar dari kamar. Lisha segera membuka pintu kamar dengan begitu berhati-hati agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan Ansel.
Lisha menghela napas sambil mengelus dadanya merasa lega karena berhasil keluar dari kamar tanpa ketahuan oleh Ansel.
"Sekarang aku harus berjalan ke mana?" Tanya Lisha bingung. "Ke kanan aja deh," sambugnya lagi, Lisha berjalan menelusuri lorong bagian kanan.
"Ja-jalan buntu, sepertinya aku salah memilih jalan. Ya ampun, bagaimana ini? Kenapa rumah ini luas sekali?" Keluh Lisha karena tak berhasil menemukan lift atau pun tangga yang bisa di gunakan untuk menuju lantai dasar.
__ADS_1
"Ini kamar siapa, ya? Kenapa tidak dikunci?" Gumam Lisha yang penasaran dengan sebuah pintu kamar yang seperti ada energi yang menariknya untuk masuk ke dalam sana.
Karena rasa penasaran yang semakin besar, Lisha pun memberanikan diri membuka ganggang pintu kamar itu.
Pyaarr!
Entah suara apa? Yang pasti, suara itu berasal dari dalam kamar, yang timbul tepat saat Lisha baru saja memegang gangang pintunya. Karena kaget sekaligus takut, Lisha langsung berlari kocar kacir menjauh dari kamar misterius itu.
Lisha baru berhenti berlari ketika sudah berada di depan pintu kamar Ansel.
Huffff ....
"Apa yang ada di kamar itu? Kenapa sangat menyeramkan?" Ujar Lisha sambil mengatur napasnya yang tersengal.
Tidak sia-sia, karena akhirnya Lisha berhasil menemukan pintu lift yang otomatis terbuka tanpa harus di tekan.
Lisha segera masuk ke dalam lift. Tidak butuh waktu lama, kini Lisha sudah berada di lantai dasar. Tampak kebingungan Lisha mencari-cari keberadaan dapur atau pun ruang makan yang ada di lantai dasar.
Lisha tersenyum senang kala berhasil menemukan dapur di Mansion luas itu. Membuka satu-persatu lemari yang tergantung di atas, hingga akhirnya Lisha berhasil menemukan apa yang sedari tadi dia cari. Apalagi kalau bukan, mie instan.
Lisha mengambil panci kecil, dia isi menggunakan air keran, kemudian dia letakkan di kompor yang telah dia nyalakan.
Lisha membuka bungkus mie, kemudian mienya dia rendam ke dalam panci kala melihat airnya yang telah mendidih.
__ADS_1
Tak lupa Lisha memasukkan satu butir telur ayam ketika mie hampir mateng, kemudian Lisha memasukkan mie beserta telur setengah mateng ke dalam mangkuk yang telah berisi bumbu.
Lisha menelan salivnya sendiri karena tak sabar ingin menyantap mie hasil karyanya. Namun, dia harus membersihkan dapur terlebih dahulu. Hanya mencuci satu panci tidak akan memakan waktu lama, pikir Lisha.
Setelah mengelap sedikit kompor dan mencuci panci yang dia gunakan, Lisha langsung membawa mie buatannya ke ruang makan.
Lisha mematung sekaligus tercengang kala melihat sesosok orang yang mampu membuatnya terkejut.
.
.
.
.
Ansel Stewart
Aqeela Glisha
__ADS_1