
"Sekarang bagaimana? Apa masih merasa sakit?" Tanya Ansel kembali merasa bersalah.
"Sedikit sakit di kening," jawab Lisha jujur.
"Apa ada yang bisa aku lakukan? Tidak, maksudku apa kamu ingin makan sesuatu?" Tanya Ansel gugup. Sudah lama dia tidak menunjukkan sisi hangatnya, jadi, Ansel merasa sedikit gugup.
"Dia sangat aneh ketika menjadi baik, sangat lucu hingga aku ingin menertawakannya. Tapi baik bagiku, setidaknya, dia tidak akan kejam lagi kepadaku, dan aku bisa melakukan tugasku dengan tanang dan damai. Semoga aku segera hamil. Tuhan, kabulkanlah keinginanku, aku mohon." Batin Lisha sambil mengelus perut datarnya.
Melihat itu, Ansel salah mengira. Dia mengartikan Lisha kelaparan hingga mengelus perutnya. Hingga Ansel langsung mengelurkan ponselnya, mengetikkan entah apa lalu dia kirimkan ke Asisten Deon.
"Mau ke mana?" Tanya Ansel mencegah Lisha saat akan bangun.
"Em ... Bisa panggilkan suster untuk saya, saya ingin ke toilet." Ujar Lisha dengan pipi yang memerah. Lisha mengutuk dirinya dalam hati. kenapa di saat seperti ini malah datang panggilan alam.
"Ayo, aku temani!" Jawab Ansel akan mengangkat tubuh mungil Lisha.
"Tidak usah, Tuan. Saya bisa sendiri," tolak Lisha cepat.
"Tidak usah malu, lagi pula aku adalah Suami-mu," ujar Ansel.
__ADS_1
"Ta-tapi tetap saja Tuan. Sa-saya—"
"Tidak perlu malu, aku juga sudah melihat, menyentuh, bahkan merasakannya. Ayo!" Ansel langsung mengangkat tubuh mungil Lisha paksa. Lisha pun pasrah.
Tiba di toilet, Ansel mendudukkan Lisha di atas closet, "Cukup, Tuan. Saya bisa sendiri," usir Lisha.
"Kamu yakin?"
"Iya, saya yakin," angguk Lisha cepat. Ansel keluar dari toilet dan menutup pintu tapi tidak dia kunci. Ansel menunggu di depan pintu toilet dengan sabar. Tak lama, Lisha pun keluar dari toilet, dan Ansel kembali menggendong Lisha. Ansel membaringkan Lisha perlahan ke atas ranjang.
Tok, tok, tok ....
"Tuan, kenapa ada banyak makanan?" Tanya Lisha heran.
"Kamu lapar, bukan?" Tanya balik Ansel.
"Tidak, Tuan. Saya masih kenyang, saya tidak ingin makan," tolak Lisha menggeleng.
"Bukankah tadi kamu kelaparan?"
__ADS_1
"Tidak, saya tidak pernah mengatakannya," jawab Lisha.
"Kalau begitu temani saja aku makan," pinta Ansel.
"Hem, baiklah," Lisha mengalah, dan terpaksa ikut makan bersama Ansel. Walau ada begitu banyak hidangan, tapi Ansel memilih makan sepiring dengan Lisha karena sambil menyuapi Lisha yang tangganya masih sakit.
Begitu selesai makan, Lisha pun memilih beristirahat dan Ansel menjaga Lisha, hingga akhirnya Ansel pun ikut terlelap.
***
Keesokan paginya.
"Ansel, kamu tidak kerja?" Tanya Nyonya Mina membangunkan Ansel yang tak sadar tertidur di samping ranjang Lisha.
Ansel mengangkat kepalanya cepat, dan mengusap matanya terburu-buru. "Lisha di mana, Mommy?" Tanya Ansel panik karena takut kehilangan Lisha lagi.
"Lisha dibawa oleh dr. Yuna untuk di periksa. Kamu sebaiknya cepat berangkat ke kantor, Deon sudah menunggu lama, dia menyuruh Mommy membangunkanmu karena ada meeting penting 15 menit lagi, sebaiknya kamu secepatnya berangkat. Masalah Lisha biar Mommy yang urus," desak Nyonya Mina membuat Ansel memasang jasnya terburu-buru.
"Aku akan langsung berangkat, Mommy jaga Lisha," saut Ansel cepat lalu berlari keluar dari ruang rawat.
__ADS_1
"Sial! ke mana Lisha pergi? Lihat apa yang akan aku lakukan kepadanya bila saja dia berani kabur!"