Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 51


__ADS_3

"Kita akan ke mana lagi?" Lisha bertanya dengan wajah tampak lesu dan sudah tak lagi sanggup berjalan.


"Ke sebuah tempat yang begitu indah, aku akan membawamu ke sana untuk melihatnya," Ansel menjawab sambil menebarkan senyuman menawanya.


"Baiklah," Lisha menjawab lemah.


"Naiklah," Ansel berjongkok, lalu meminta Lisha untuk naik ke atas punggungnya.


"Tapi, aku berat, Ansel. Tadi ... Tadi aku makanya banyak," Lisha menolak.


"Tiap hari membawa berat beban cinta aku ke kamu aja aku sanggup. Apalagi cuma bawa beban orangnya," perubahan sikap Ansel yang lebih hangat serta perhatiannya membuat Lisha merasa aman, nyaman, dan damai. Hanya sedikit gelisah yang dia rasakan, yaitu, Lisha takut momen bahagia seperti ini tidak akan bertahan lama. Padahal, Lisha sangat ingin terus dilindungi serta diperhatikan lebih oleh Ansel.


Perlahan dan walau masih agak ragu, Lisha naik ke atas punggung Ansel. Setelahnya Ansel berdiri walau agak sulit. Namun, dia bisa mengatasinya.


"Berat badannya lebih berat dari sebelumnya, apakah karena makanya yang tadi begitu banyak?" Batin Ansel bertanya dalam hati.


"Sangat berat, ya, Sa-sayang?" Lisha bertanya dengan panggilan sayang untuk Ansel. Hal itu mampu membuat Ansel kembali merasa begitu gugup.


"Tidak berat, Sayang. Ingat, jangan khawatirkan berat tubuhmu. Aku suka ukuranmu, sangat enak saat dipegang," Ansel kembali dengan pikiran kotornya.

__ADS_1


"Astaga, kenapa pikirannya menjadi mesum begitu," keluh Lisha dalam hati.


"Dengan ukuran sebesar ini, aku rasa cukup untuk empat atau lima baby sekaligus," Entah kenapa Ansel malah Membayangkan betapa manisnya bila ada banyak anak kembar yang dia urus.


"Empat atau lima, kenapa sebanyak itu? Apa aku sanggup melahirkannya?" Lisha tanpa sadar bertanya karena terlalu kaget dengan jumlah anak yang Ansel inginkan.


"Aku hanya membayangkannya sayang. Lagipula di keluargaku tidak ada yang kembar. Apa mungkin ada pada keluargamu?" Tanya Ansel sambil terus menyusuri pinggiran pantai.


"Sama, juga tidak ada," jawab Lisha jujur.


"Pasti akan sangat lucu kalau kita punya banyak anak. Kalau kita gempur terus, aku yakin kita akan punya banyak anak," kata Ansel.


"Aku sangat ingin anak perempuan, karena aku yakin dia akan secantik dirimu."


"Aku dalam bahaya kalau anak yang aku lahirkan nanti bukan laki-laki," ucap Lisha membayangkan kemungkinan terburuk itu.


"Kamu sudah berjanji kepadaku, untuk selalu bersamaku apa pun yang terjadi," ujar Ansel mengingatkan janji Lisha.


"Tentu saja,' jawab Lisha cepat.

__ADS_1


"Kita sudah sampai!" Seru Ansel.


"Wah, pantainya indah sekali. Tunggu ... Kenapa pasirnya bisa berwarna pink berkilau begitu? Ya ampun cantik sekali! Turunkan aku, aku ingin merasakan pasirnya!" Seru Lisha kagum akan keindahan pantai dengan pasir berwarna pink berkilau indah.


Ansel segera menurunkan Lisha perlahan, Lisha tampak begitu takjub dengan apa yang kini dia lihat.


"Ansel, apa kamu mewarnai pasirnya? Kenapa bisa seindah ini?"


"Aku tidak mewarnainnya, Sayang. Tapi, memang pasirnya berwarna pink berkilau" jelas Ansel.


"Benarkan, apa ini sungguh-sungguh dan bukannya buatan? Bagaimana mungkin pasirnya bisa berwarna seindah ini?"


"Itu karena pasirnya telah bercampur dengan pecahan terumbu karang," jelas Ansel singkat.


"Luar bisa. Apakah benar pulau ini adalah milikmu?" Tanya Lisha meragukan bahwa Ansel adalah pemilik pulau indah nan eksotis itu.


"Tentu saja milikku. Aku datang ke negara ini memang berniat untuk melakukan transaksi pembelian pulau ini."


"Pulau seindah ini mereka jual begitu saja. Sangat mengherankan."

__ADS_1


"Haha, mereka hanya tidak tau kalau ada banyak destinasi wisata langkah di sini.


__ADS_2